Dirosah

Pilpres dan Doa Mbah Maimun

Senin, 04 Februari 2019 18:00 wib

...

Oleh: Ahmad Dahri

Mencari simpati dari setiap element masyarakat memang menjadi kewajiban. Apalagi jelang pemilu atau pilpres. Sudah bukan barang baru kalau pengajian, seminar, kongkow, blusukan, bersih desa atau acara-acara gebyar lainnya menjadi sasaran empuk untuk mencari dukungan, minimal sudah ada jepretan hasil selfi, vidio duduk bareng, jagongan bareng dengan tokoh ataubberada di tengah riuhnya masyarakat.

Bukan tolak ukur, dan bukan pula rahasia umum, karena biasanya penentu kemenangan adalah serangan fajarnya. Setidaknya elektabilitas naik. Sehingga mempengaruhi terhadap daya pandang masyarakat. Kalau daya pilih ya… Kita tahu sendiri nyatanya masih banyak golongan cuek.

Nah, akhir-akhir ini berita yang mencuat adalah klarifikasi doa mbah Maimun. Kira-kira Mbah Maimun Mendukung siapa? Kiai sepuh yang kharismatik dari Serang ini sempat menjadi tranding topik di berbagai media.

Beliau adalah Alim Ulama, sesepuh NU, dan juga sebagian besar santri menganggap beliau sebagai mursyid. Rasanya tidak pantas bahkan su’ul adab kalau beliau dikait-kaitkan dengan pilpres. Apapun alasannya. Beliau adalah Guru Bangsa. Beliau adalah lentera bagi umat saat ini.

Namun bagaimana lagi, nyatanya para ambisi sudah mengesampingkan rasa hormat bahkan tawadlu’nya. Demi satu kemenangan. Kok kemenangan? Ya kan ada kampanye, debat, kompetisi saling menjatuhkan. Padahal calon presidennya santai-santai saja. Tetapi apapun itu selagi mereka mengusung kesejahteraan rakyat pastinya masih diterima di mana-mana.

Sikap Mbah Maimun adalah wujud dari kedalaman spiritual dan kealiman beliau. Beliau adalah manusia Ruang, siapapun ditampung. Bahkan tiada rasa curiga kepada siapapun. Karena memang hatinya sudah bersih dari nafsu dunia. Masalahnya adalah para ambisius. Mereka berlomba menyodorkan tujuan baiknya.

Di satu sisi memang benar kalau calon pemimpin harus dekat dengan ulama’, guru bangsa atau filosof sekalipun. Tetapi apakah harus mendulang suara dengan mepet sana atau mepet sini? Kalaupun jawabannya adalah harus, ya setidaknya jangan mengorbankan mereka. Di mana posisi mereka yang merasa dikorbankan? Ya ketika media memblow up dan menjudge bahwa mereka mendukung si A atau si B. Lantas apakah itu dikatakan biasa saja?

Sebenarnya tidak hanya Mbah Maimun saja, para ulama atau guru bangsa yang lain juga demikian. Asal dilihat punya jamaah banyak dan berpengaruh pastinya menjadi lahan basah bagi para ambisius. Kalau berpolitik adalah siasah atau cara, setidaknya menggunakan cara yang baik, santun dan tidak meninggalkan adab.

Karena sekali lagi, Mbah Maimun adalah ladang Ilmu jasmani maupun Rohani, maka rakyatlah yang sebenarnya benar-benar membutuhkan beliau. Bukan segelintir elit. Kan mereka juga rakyat. Iya, selagi mereka punya KTP maka jelas mereka rakyat. Tetapi momentumnyalah yang membedakan dengan rakyat kebanyakan.

Karena posisi Mbah Maimun sebagaia guru bangsa dan Ulama khos, maka cukuplah minta doa kepada beliau, karena bagi kaum santri sudah secara otomatis beliau mendoakan bangsa dan negara. Agar keamanan dan kesejahteraan bangsa dan negara selalu terjaga.

Tetapi sekali lagi masalahnya para ambisius, gampang kaget, sedikit-sedikit selpi lalu captionnya “Alhamdulillah kami didukung Sesepuh ini dan itu.” Dan yang lebih parah setiap pendukung calon presiden rebutan. Rebutan doa dan dukungan. Salim. (*)

Ahmad Dahri, santri di Pesantren Luhur Bait Al Hikmah Kepanjen, dan Pesantren Luhur Baitul Karim Gondanglegi, ia juga mahasiswa di STF Al Farabi Kepanjen Malang. Beberapa buku karyanya sudah diterbitkan. Diantaranya “Multikulturalisme Kontekstual Gus Dur”, “Dialektika Pesantren”, “Kumpus Orang-Orang Pagi”, dan “Monolog Hitamkah Putih Itu”.

____________
Bagi sahabat-sahabat penulis yang ingin berkontribusi karya tulis baik berupa opini, esai, resensi buku, puisi, cerpen, serta profil tokoh, lembaga pesantren dan madrasah, dapat dikirim langsung via email ke: redaksi@santrinews.com. Terima kasih.