Fikrah

Beragama dengan Cara Dewasa

Sabtu, 17 Agustus 2019 18:00 wib

...

Beragamalah dengan cara dewasa dan matang. Tingkat kedewasaan dan kematangan itu tidak diukur dari usia, gelar, kekayaan, kelas sosial, tingkat sekolahan, atau bahkan kuantitas dalam menjalankan ibadah ritual.

Ada banyak orang yang sekolahnya sampai sundul langit tingkat tujuh dan gelarnya berjejer-jejer laksana rombongan bebek yang sedang berbaris tapi otak dan pikirannya kerdil dan cupet-pet, perilakunya 11-12 dengan “preman terminal yang belum tobat”.

Ada juga “horang kayah” yang menyandang “titel” sebagai kelas menengah-elit di masyarakat tapi hati dan otaknya kotor-njetor penuh dengan kebencian dengan orang lain, dengan umat lain.

Ada lagi orang yang umurnya sudah berumur ditambah asesoris jenggot yang berkibar-kibar dan awut-awutan, tapi pemikiran dan kelakuannya kayak tuyul gundul.

Bukan hanya itu saja. Kedewasaan dan kematangan seseorang dalam beragama bahkan tidak ditentukan oleh kuantitas ibadah ritual seseorang. Misalnya, orang yang sudah bolak-balik haji dan umrah atau jengkang-jengking sembahyang sampai jidatnya mleker pun tidak ada jaminan ia bisa dewasa dan matang dalam beragama.

Umat beragama yang rajin ke masjid atau gereja atau tempat ibadah lain, tidak menjamin ia menjadi lebih dewasa, matang, dan bijak dalam beragama.

***

Salah satu ciri umat beragama yang tidak matang dan tidak dewasa adalah mereka yang hobi menghina simbol, tradisi, budaya, sistem keimanan, kitab suci, atau ritual keagamaan umat lain. Mereka tidak sadar sejatinya mereka juga mempraktikkan hal yang sama apa yang dipraktikkan oleh umat lain.

Contoh kecilnya begini: (sebagian) umat Islam sering meledek dan menghina umat Kristen dan lainnya sebagai penyembah patung atau berhala. Umat beragama juga sering meledek dan menghina masyarakat suku dan pedalaman sebagai penyembah batu, pohon, dan lainnya.

Mereka meledek dan melecehkan “obyek sesembahan” umat agama lain dengan santainya bahkan sebagai bahan tertawaan. Padahal mereka juga mempraktikkan hal serupa. Mereka menuduh umat lain “gila”. Padahal, mereka juga melakukan “kegilaan” serupa.

Apakah umat Islam tidak menyadari kalau mereka sebetulnya mengultuskan ka’bah dan hajar aswad alias si batu hitam. Benda apa sih ka’bah dan hajar aswad itu? Bahkan banyak dari mereka yang rebutan, uyel-uyelan, desak-desakan, sikut kanan-kiri hanya ingin menyentuh ka’bah dan hajar aswad. Bahkan banyak yang histeris di area seputar ka’bah dan hajar aswad.

Kalau umat Islam dituduh sebagai penyembah batu, mereka pasti tidak terima dan mengelak sambil mengatakan: “Kami tidak menyembah ka’bah dan hajar aswad karena itu hanya simbol saja. Kami menyembah Tuhan”.

Jawaban itu persis jawaban umat agama lain juga. Sebagaimana umat Islam, mereka juga tidak menyembah patung, batu, dan pohon dan obyek yang dianggap sakral lainnya karena semua itu hanya simbol dari Zat Adikodrati belaka. Mereka sejatinya juga menyembah Tuhan penguasa jagat raya ini.

Marilah beragama dengan cara matang dan dewasa. Kedewasaan dan kematangan itu ditunjukkan dengan sikap, pemikiran dan tindakan saling menghormati agama dan keyakinan umat lain. Dengan menghormati agama dan keyakinan umat lain itu sejatinya kita menghormati agama dan keyakinan kita sendiri.

Makan nasi uduk enaknya pakai sambel tomat dan semur jengkol; kalau eloh masih suka maki umat lain Mat berarti masih suka ngompol.

Jabal Dhahran, Jazirah Arabia