Fokus

Nenek Tua Yang Tak Pernah Rentah Menjawab Panggilan Ibrahim

Sabtu, 05 September 2015 13:06 wib

Makkah – Seorang wanita tua berbalut baju putih panjang dengan kerudung warna senada duduk di kursi roda, tak jauh dari pintu keluar Marwah.

Entah apa yang ditunggunya, wajahnya menatap ke arah kami, para petugas Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi Tahun 1436/2015 yang sedang mengawasi setiap gerak jemaah Indonesia yang datang.

Bila ada yang kelihatan bingung atau perlu bantuan, tak segan kami segera menghampiri.

Tapi tidak dengan nenek tua yang duduk di kursi roda, sekitar lima meter di hadapan kami. Ia sama sekali tidak kelihatan bingung. Apalagi ada seorang laki-laki berkain ihram yang duduk di tiang-tiang penyanggah koridor pintu keluar Marwah, yang nampak siap menjaga dan mendorong kursi rodanya, kemanapun nenek itu ingin pergi.

“Apa kabar ibu, sudah umroh?” sapa saya sambil tersenyum dan menyentuh tangannya yang masih mengenakan sarung penutup jari jemarinya, penanda ia datang ke Masjidil Haram untuk umroh.

Sebagai petugas PPIH, kami memang dilatih dan diamanatkan untuk menebar. salam, sapa, dan senyum, pada setiap jemaah calon haji Indonesia yang merupakan tamu-tamu Allah.

“Sudah,” jawabnya pelan, sambil membalas dengan senyuman.

“Ibu ke sini dengan siapa?” tanya saya lagi, mencoba memulai pembicaraan, karena nampak ibu tua yang sudah bungkuk itu senang dengan sapaan saya.

“Sendiri,” jawabnya kembali singkat.

“Waah ibu hebat, berani ke sini sendiri.” ucap saya. Buat saya yang selalu pergi kemana-mana ada temannya, ibu tua itu sangat berani datang ke Tanah Suci sendiri.

Apalagi, pada musim haji, sekitar tiga juta jemaah dari berbagai penjuru dunia akan berkumpul di Tanah Haram ini.

“Saya sudah lama ingin ke sini sejak tahun 1995 ketika bapak meninggal,” katanya memulai kisahnya.

Namun, warisan yang ditinggalkan suaminya itu, setelah dibagi ke anak-anaknya yang berjumlah 11 orang, tidak cukup membawanya ke Tanah Suci. “Kami bukan orang kaya,” katanya.

Beruntung, setelah anak-anaknya besar, mereka membiayai sang ibu untuk menunaikan Rukun Islam yang ke-5, meskipun menurut Painem, demikian nama ibu tua itu, anak-anaknya bukanlah terbilang orang berkecukupan.

Sebagian besar anaknya, kata dia, masih bekerja pada orang lain, mungkin menjadi buruh perkebunan sawit, di Labuan Batu, Sumatera Utara, tempat Painem tinggal. Ia tidak menjelaskan secara detail, hanya menurut dia, uang yang terkumpul tidak cukup untuk pergi dengan anaknya.

“Anak-anak yang membiayai saya ke sini. Mereka bilang, mamak berangkatlah, nanti doakan kami di sana agar kelak bisa berhaji juga,” katanya.

Saya pun tak kuasa menahan haru, mengingat betapa beruntungnya ibu tua itu memiliki anak-anak yang baik, yang membiayai orang tuanya berhaji, meski mungkin hidup mereka pas-pasan.

Seketika itu saya jadi ingat nenek tercinta yang tidak sempat berhaji, karena Allah memanggilnya lebih dulu sebelum usianya menapak angka 60 tahun.

Yang juga membuat saya kembali takjub, Painem tetap semangat menunaikan ibadah umrohnya di Masjidil Haram. Tidak tergurat wajah lelah, meski baru saja menempuh perjalanan darat sekitar delapan jam dari Madinah ke Makkah dan langsung umroh qudum (kedatangan).

Saya pun iseng bertanya tentang usianya, yang saya yakin di atas 70 tahun hanya dengan melihat keriput di wajah dan tubuh yang membungkuk di atas kursi roda. “Mamak tak tau umur berapa, tapi kata bapakku dulu, (aku) lahir sekitar tahun 1940-an,” ujarnya.

Entah apa yang menggerakkan saya, tiba-tiba saya mencium tangannya, seakan saya mencium tangan nenek saya yang tidak sempat berhaji.

Memang dalam Al Quran tidak ada batasan usia untuk menunaikan haji, rukun Islam ke-5. Allah SWT dalam Surat Ali-Imran ayat 97 hanya berfirman, “..Dan (diantara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah yaitu bagi orang-orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana..”

Mungkin karena itulah, meski tidak lagi muda Painem dan jemaah lain yang usianya di atas 60 tahun tetap semangat memenuhi seruan Nabi Ibrahim AS untuk ke Baitullah (Rumah Allah), meski menempuh perjalan udara dari Tanah Air selama sembilan jam, kemudian melalui jalan darat sekitar 8-9 jam dari Madinah ke Makkah, dan merasakan hawa panas yang bisa menembus angka 45 derajat Celcius.

Tak lain mereka ingin memenuhi jamuan Sang Pencipta, Allah SWT, yang menjanjikan setiap doa akan dikabulkan dan membuka pintu ampunan yang luas.

Dalam hadist Ibnu Majah diriwayatkan, Abu Hurairah ra mengatakan Nabi Muhammad SAW bersabda “Para jemaah haji dan umrah adalah tamu-tamu Allah SWT. Bila mereka berdoa kepada-NYA, maka Dia akan mengabulkanNYA dan bila mereka memohon ampunan kepadaNYA maka Dia akan mengampuniNYA.”

Nikmat apa lagi yang lebih baik dari kedua hal itu ketika menunaikan undangan-Nya berhaji ke Tanah Suci. Itulah sumber kekuatan para jemaah renta yang ingin mendulang ridho-Nya di sisa akhir hayat mereka, termasuk Painem.

Malam terus bergulir mendekati pergantian hari. Saya pun mencoba mengakhiri pembicaraan agar nenek tua itu bisa segera istirahat.

“Jaga kesehatan mamak ya, jangan terlalu capek, agar pada puncak haji bisa ibadah dengan sempurna,” kata saya sambil mengelus pundak Nenek Painem dan kembali mencium tangannya.

Painem nampak senang ada yang memperhatikannya. “Tulislah namamu di sini,” katanya mengambil buku panduan doa haji dari dalam tasnya.

Sayangnya, meski wartawan, saya tidak membawa pena atau alat tulis lainnya, kecuali smartphone, alat andalan untuk mengetik berita.

Beruntung, ada dua kartu nama yang tersisa. “Ini kartu nama saya, mak. Silahkan mamak hubungi,” ujar saya. Entah apa yg menggerakkan saya memberi kartu nama yang biasanya hanya saya berikan ke pejabat atau pengusaha yang menjadi narasumber untuk berita.

Tapi Ibu, Mamak, atau Nenek, bernama Painem itu dimata saya kala itu adalah narasumber terpenting yang memberi pelajaran pada saya, tentang semangat berhaji yang tak pernah kalah dimakan usia yang renta.

Painem pun menyelipkan kartu beralas warna merah itu dalam buku doanya, sambil mengucapkan terima kasih dan memeluk saya sebelum kembali pemondokan diantar pemuda yang ternyata warga Indonesia yang menjadi pemukim di Arab Saudi.

Saya lihat jam, ternyata memang hari sudah berganti dari dari Minggu (30/8) yang menjadi hari pertama jemaah Indonesia masuk ke Makkah, ke Senin (31/8) pukul 0.15 menit.

“Ya Allah lindungi ibu tua tadi agar bisa berhaji seperti impiannya dan cita-cita anak-anaknya.” (*)

Sumber: Antara