Fokus

Perbanyak Tadarus Al Quran, Santri Hidayatullah Habiskan Waktu di Masjid

Jum'at, 17 Juni 2016 22:37 wib

...
Para Santriwati sedang tadarus Alquran di Pesantren Ar-Raudhatul Hasanah Medan (santrinews.com/hariananalisa)

Nunukan – Bulan Ramadan merupakan bulan yang penuh berkah. Di bulan suci ini, umat muslim diwajibkan memperbanyak amal ibadah dan melatih kesabaran dan mendekatkan diri kepada sang pencipta. Baik yang sunnah apalagi yang wajib. Demikian yang dilakukan santri di Pondok Pesantren Hidayatullah Nunukan. Selama Ramadan, mereka lebih banyak beraktivitas di masjid.

Pukul 09.30 Wita, suasana masjid di Pesantren Hidayatullah terlihat ramai. Suara santri melantunkan ayat suci Alquran begitu keras terdengar. Bahkan, tak hanya ruangan masjid, di teras masjid yang belum seberapa sempurna karena masih tahap pembangunan itupun menjadi tempat favorit santri mengaji.

Beberapa santri juga terlihat berbaring dan tertidur. Kemungkinan dalam keadaan letih karena sejak pukul 02.00 Wita sudah bangun melaksanakan ibadah. “Kegiatan ibadah selama Ramadan ini memang lebih ditingkatkan. Tidur itu jarang. Lebih banyak tadarus Alquran dan ibadah lainnya,” kata Kepala Ponpes Hidayatullah Nunukan Ustaz Sudirman, Kamis, 16 Juni 2016.

Di ponpes yang mulai beroperasi sejak 1996 ini, pendidik lebih membentuk pribadi santri yang tekun dan dekat dengan ajaran Allah SWT. Selama Ramadan, santri menghabiskan waktu dengan belajar dan mengaji di masjid. Salah satunya tadarus massal. Kegiatan yang dilakukan setiap hari usai salat merupakan tradisi di pesantren yang berdiri di atas tanah seluas 2 hektare (Ha) ini. Semua santri terlihat khusuk melaksanakan ibadah tersebut meskipun sesekali ada santri yang ingin bermain dengan temannya atau tertidur karena kelelahan pada bulan puasa. Bangun pukul 02.00 Wita itu merupakan kegiatan Senin dan Kamis jika hari biasa. Namun, di bulan Ramadan ini, tim tawajud menggelarnya setiap hari.

“Senin-Kamis itu merupakan latihan untuk dilakukan di Ramadan ini. Makanya santri-santri itu sudah biasa bangun jam orang-orang pada tertidur pulas. Santri dilarang kembali ke asrama lagi kalau sudah di masjid jika tidak ada hal yang penting. Sebab, kami tidak ingin mereka kebablasan tertidur dan tertinggal melakukan ibadah,” ungkap pria yang baru setahun terakhir ini ditunjuk memimpin Ponpes Hidayatullah.

Sudirman, menyebutkan, terdapat 212 santri putra dan putri menempuh pendidikan di ponpes yang beralamat di Kelurahan Selisun, Kecamatan Nunukan Selatan ini. Dengan “tangan dingin” pengajar, para santri ini dapat menjalankan aktivitas selama bulan puasa dengan hal yang baik dan sesuai dengan ajaran Allah SWT. Hal ini dapat dijadikan pendidikan moral dan akhlak bagi setiap santri sehingga ketika menamatkan pendidikan dari pesantren dapat terjun ke dunia masyarakat dan bisa menjadi pedoman di lingkungan tempat tinggal.

Dikatakan, di Ramadan ini, ada program bernama tri sukses atau tiga sukses yang setiap tahun kami jalankan. Pertama itu sukses ibadah, dalam hal ini tentang hubungan spiritual dengan Allah SWT. Kedua, sukses pelayanan atau dakwah. Artinya, para santri yang telah memiliki ilmu yang cukup diwajibkan untuk memberikan dakwah ke masyarakat. Lalu, ketiga sukses penggalangan dana. Mulai zakat fitrah dan sedekah dari kaum muslimin.

Menurut mantan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Malaysia ini, sejak memimpin Ponpes yang didirikan Ustaz Abdullah Said ini, sudah sembilan santrinya yang melanjutkan pendidikan di Ponpes Ar-Raayah, Sukabumi, Jawa Barat (Barat). “Didikan santri di sini memang sangat ketat. Para santri itu dituntut dapat menghatamkan Alquran. Apalagi di Ramadan ini, santri sangat diwajibkan menghatamkan Alquran,” ungkapnya.

Namun, pihaknya sangat menyayangkan keterlibatan pemerintah daerah dalam membentuk karakter remaja yang Islami. Sebab, sejak dua tahun terakhir ini, Pemkab Nunukan tidak pernah menyalurkan bantuannya. “Saya kurang tahu apa penyebabnya. Makanya bangunan masjid ini saya hentikan sementara. Tunggu utang Rp 100 juta lunas dulu baru dilanjut lagi. Jangan sampai bertumpuk, susah membayarnya,” ungkapnya.

Selain santri yang memang tinggal di asrama, beberapa warga luar ponpes juga menggelar pesantren kilat. Biasanya 10 hari menjelang berakhirnya Ramadan kegiatan itu ada. Atau, ada juga warga luar yang sengaja memperdalam ilmu agamanya dengan tinggal di pesantren untuk belajar.

“Kami terbuka. Selama niatnya baik karena Allah, kami dukung. Belajar berjamaah itu lebih baik dan tentu manfaatnya baik pula. Makanya, santri yang sudah kelas 5 SD ke atas itu sudah diwajibkan tinggal di asrama. Selain bisa mandiri, santri ini juga bisa menjadi manusia yang bertanggung jawab. Sebab, selama di ponpes mereka sudah dilatih hal itu semua,” ungkapnya.

Pesantren Hidayatullah berfungsi sebagai tempat untuk mendalami ilmu. Pesantren ini dihuni santri yang tinggal di asrama, guru, pengasuh, pengelola dan jamaah Hidayatullah. Pola pengajaran di Pesantren Hidayatullah adalah sistem pesantren modern, yaitu penggabungan mata ajaran umum dan mata ajaran khusus atau keislaman (diniyyah).

Mata ajaran umum sama seperti mata ajaran pada sekolah umum lainnya, contohnya matematika, fisika, kimia dan lainnya. Mata ajaran khusus yaitu mata ajaran yang berkaitan dengan keislaman, contohnya aqidah, fiqih, bahasa arab, dan hafalan atau tahfidz Alquran, serta masih banyak lagi mata ajaran yang lain, sesuai dengan jenjang pendidikan, basis kompetensi dan letak kampus. (shir/prokal)