Hikmah

Tafsir Kekalahan Kiai Said Aqil Siradj

Jum'at, 24 Desember 2021 23:00 wib

...

Ketika seseorang sufi telah mencapai “Maqom Kewalian”, maqom dimana seseorang benar-benar mencintai dan dicintai Allah, maka umumnya ia berusaha menyembunyikannya dari pengetahuan manusia. Bahkan kadang ia melakukan hal-hal yang secara tafsir agama dilarang hanya untuk menutupi Maqom Kewaliannya itu.

Salah satu syarat paling penting mencapai Maqom itu adalah tidak ada rasa sombong sedikit dan sekecil apapun dalam hatinya, tidak merasa sedikitpun paling baik dari makhluk Allah yang lain, bahkan dari tumbuhan sekalipun dan tidak memiliki bisikan hati sekecil apapun untuk menyakiti dan merendahkan makhluk Allah.

Kiai Haji Said Aqil Siradj seorang ulama yang memiliki kedalaman ilmu-ilmu agama, khususnya dalam bidang Tasawuf. Saya menyakini bahwa Kiai Said Agil telah mendekati atau bahkan telah sampai ke Maqom itu.

Karenanya, saya menduga beliau ingin menutupi maqomnya itu dari khalayak, dan menjaganya dengan cara menghilangkan penyakit hati yang paling membahayakan, yaitu kesombongan, merasa paling benar, dan kehendak menyakiti dan merendahkan siapapun.

Saya menduga, Kiai Said Agil Siradj telah mengetahui bahwa beliau akan kalah dalam pemilihan ketua umum PBNU, namun beliau tetap maju. Mengapa? Setidaknya ada dua alasan.

_Pertama, ini alasan paling utama adalah untuk menghilangkan penyakit hati itu. Sehingga Maqom Kewalian tetap bisa dijaga. Sebab menurut cerita “orang-orang wali”, Allah akan mencabut kewalian bagi wali siapapun yang ada setitik tinta kesombongan dan merasa paling baik dalam hatinya.

Kedua, adalah —tapi bagi saya tidak penting— untuk memberikan pembelajaran pada warga NU bahwa untuk “berjuang” itu harus “berjuang” dan bahwa perjuangan itu selalu harus dijalankan dengan hati yang bersih dan tulus.

Terima kasih Kiai Said Agil Siradj. Saya mencintai panjenengan. Saya juga bangga menyaksikan kebesaran dan kedewasaan NU melalui panjenengan dan kiai-kiai lainnya. Wallahu A’lam. (*)

Lampung, 24 Desember 2021

KH Imam Nakha’i, Dosen Ushul Fikih di Ma’had Aly Situbondo.