Bahtsul Masail

Hikmah Dua Rukuk dalam Shalat Gerhana

Rabu, 09 Maret 2016 02:31 wib

Assalamualaikum ustadz. Ketika saya mempelajari tata cara shalat gerhana, ternyata ada sedikit perbedaan dengan shalat sunah biasa. Dalam shalat gerhana, dalam satu rakaat ada dua rukuk. Berarti dalam dua rakaat ada empat rukuk. Kira-kira kenapa ya kok dalam shalat gerhana di setiap rakaatnya rukuknya dua kali? Apa hikmahnya?

Ika, Tulungagung

Jawaban:
Setidaknya, ada dua pendapat mengani hikmah penambahan rukuk ini. Pertama, kita tahu bahwa gerhana matahari atau gerhana bulan termasuk tanda-tandan kekusaan Allah. Tanda-tanda ini mengingatkan dan menakutkan. Dalam kondisi seperti ini, sangatlah pantas jika rukuk itu ditambah. Sebab, rukuk termasuk ibadah yang dianugrahkan oleh Allah terhadap umat Nabi Muhammad saw.

Pun pula, shalat gerhana dilaksanakan untuk mendapatkan ridha Allah dan selamat dari murka serta siksanya. Rukuk yang merupakan wujud merendahkan diri di hadapan Allah sangat pantas dilakukan dalam kondisi tersebut.

Dengan demikian, dapat difahami penambahan rukuk dalam salat gerhana untuk mendapatkan ridha Allah dan dijauhkan dari fitnah, bencana, serta murkanya.

Kedua, dalam shalat biasa, rukuk adalah wasilah (pelantara) menuju sujud. Rukuk itu jalan, sedangkan sujud adalah tujuan. Keduanya sama-sama merendahkan diri di hadapan Allah. Hanya saja, sujud memiliki nilai lebih merendahkan diri dari rukuk.

Ditambahnya rukuk dalam shalat gerhana menjadi dua di setiap rakaatnya menunjukkan bahwa yang terpenting dilakukan ketika terjadi gerhana adalah memperbanyak wasilah. Memperbanyak jalan yang bisa menyampaikan pada tujuan. Yang dimaksud tujuan dalam konteks gerhana adalah selamat dari bencana. Sebab, gerhana termasuk tanda-tanda Allah yang begitu menakutkan.

Selain itu, rukuk lebih sulit dilakukan dari pada sujud. Lalu, kenapa dalam shalat gerhana malah ditambah? Hal ini mengindikasikan bahwa yang diinginkan ketika terjadi gerhana adalah memperbanyak melakukan ketaatan dan melakukan ibadah yang berat.

Lihat, Fatawa al-Kubra, juz:1, hal: 276

الفتاوى الفقهية الكبرى (1/ 276):

وَاَلَّذِي يَظْهَرُ أَنَّ الْحِكْمَةَ في زِيَادَةِ الرُّكُوعِ في صَلَاةِ الْكُسُوفِ هِيَ أَنَّ الْكُسُوفَ من آيَاتِ اللَّهِ الْبَاهِرَةِ يُخَوِّفُ بها عَبِيدَهُ كما صَحَّ في الحديث فَنَاسَبَ زِيَادَةُ الرُّكُوعِ فيه لِأَنَّهُ مِمَّا تَفَضَّلَ اللَّهُ بِهِ على هذه الْأُمَّةِ دُونَ غَيْرِهَا إذْ هو من خَصَائِصِهَا على ما قَالَهُ جَمَاعَةٌ من الْمُفَسِّرِينَ وَغَيْرِهِمْ الى ان قال فَإِنْ قُلْنَا إنَّهُ ليس من خَصَائِصِهَا فَحِكْمَةُ زِيَادَتِهِ أَنَّهُ في سَائِرِ الصَّلَوَاتِ كَالْوَسِيلَةِ لِلسُّجُودِ لِأَنَّ كُلًّا مِنْهُمَا فيه خُضُوعٌ لَكِنَّهُ في السُّجُودِ أَعْظَمُ وكان كَالْمَقْصِدِ وَالرُّكُوعُ كَالْوَسِيلَةِ له وَلِهَذَا فُصِلَ بَيْنَهُمَا بِالِاعْتِدَالِ حتى تَتَمَيَّزَ الْوَسِيلَةُ عن الْمَقْصِدِ وإذا كان الرُّكُوعُ كَالْوَسِيلَةِ فَنَاسَبَ اخْتِصَاصُهُ بِالزِّيَادَةِ إعْلَامًا أَمَا بِأَنَّ الْمَطْلُوبَ في هذا الْوَقْتِ الْإِكْثَارُ من الْوَسَائِلِ لِيَتَوَصَّلَ بها إلَى الْمَقَاصِدِ وَمِنْ ثَمَّ سُنَّ الْإِكْثَارُ من الصَّدَقَةِ وَالْعِتْقِ وَغَيْرِهِمَا من وَسَائِلِ الْخَيْرِ لِلْوُصُولِ إلَى الْمَقَاصِدِ وَهِيَ دَفْعُ اللَّهِ لِهَذِهِ الْآيَةِ الْمَخُوفَةِ لِعِبَادِهِ وَأَيْضًا فَالرُّكُوعُ أَشَقُّ من السُّجُودِ وكان في تَكْرِيرِهِ الْإِعْلَامُ بِأَنَّ الْمَطْلُوبَ في هذا الْوَقْتِ الْإِكْثَارُ من الطَّاعَاتِ وَإِلْزَامُ النَّفْسِ بِمَا يَشُقُّ عليها من فِعْلِهَا لِمَا تَقْدِرُ عليه وَلَوْ بِمَشَاقَّ كَثِيرَةٍ من الْخَيْرَاتِ