Mimbar Santri

Islam Memuliakan Wanita

Rabu, 21 Agustus 2013 15:00 wib

Persepsi/Pandangan wanita dalam sistem pergaulan Islam tentu perlu dijelaskan dan dicernakan secara jelas, sehingga masyarakat Indonesia yang mayoritas Muslim bisa paham aturan Islam dalam mengatur Pergaulan sang Muslimah pada kehidupan sehari-hari.

pertama : Wanita adalah manusia yang memiliki hak dan kewajiban yang sama sebagaimana pria. islam memandang pria dan wanita memiliki potensi yang sama-sama; sama-sama memiliki akal, naluri, dan kebutuhan fisik yang harus dipenuhi, secara kemanusiaan, denggan benar. baik pria dan wanita wajib menunaikan shalat lima waktu, makan dan minum yang halal dan bersih. keduanya juga berhak dan wajib menuntut ilmu seluas dan sedalam yang mereka mampu.

kedua: dalam hal-hal yang tertentu, mereka dibedakan. pria memiliki kewajiban mencari nafkah, sedangkan wanita menjadi ibu dan pengatur rumah tangga. dalam tatanan sekular, hal ini diingkari sehingga kita dapati, wanita menjadi TKW, suami mengasuh anak dirumah. tidak jarang suami ditinggal ini melakukan penyimpangan, memerkosa anak, atau berzina dengan istri orang. banyak wanita mengalami pelecehan seksual ditempat ia bekerja sehingga mengalami tekanan psikologis, tidak ada cuti.

ketiga: wanita adalah kehormatan yang harus dijaga dan dipertahankan. eanita adalah perhiasan dunia. pernikahan adalah salah satu sarana untuk menjaga kehormatan. banyak kasus pelecehan pada wanita karena memandang wanita sekadar obyek fisik/material. banyak pula wanita islam jaman sekarang juga membuka peluang untuk digoda, baik dengan mengumbar aurat atau menjajakan dirinya. bagi pria yang mampu, tentu pernikahan islami akan membuat dirinya dapat mengendalikan pikirannyadari hal-hal yang kotor. hal yang sama berlakujuga bagi wanita.
selain itu, islam pun telah menetapkan bagi wanita adanya tempat umum (masjid, pasar) dan tempat khusus (rumah, kendaraan pribadi) berikut ketentuannya. dengan begitu wanita dapat menjaga kehormatan dirinya. ia dapat berbaur dengan pria ditempat umum sebatas dibolehkan oleh syariat, sedangkan ditempat khusus ia harus ditemani mahramnya. kita dapat melihat fakta sekarang, ketika syariat tidak diindahkan oleh wanita (dan juga pria), maka khalwat (termasuk aktivitas pacaran) menjadi kebanggan, pintu perzinaan terbuka lebar, perzinaan menjadi gaya hidup, negara memfasilitasi aborsi dan perselingkuhan dengan undang-undang.
secara preventif, islam telah menutup semua perzinaan, mulai dari perintah untuk menundukkan pandangan, menutup aurat dengan pakaian yang sesuai syar’i, larangan berkhalwat, dan mengharamkan segala hal yang mengantarkan kearah perzinaan. demikian pun islam telah menetapkan sanksi yang tegas bagi pelaku perzinaan; cambuk seratus kali pezina ghayr mukhsan dan dirajam bagi pezina mukhzan (sudah pernah menikah). disisi lain kita juga dapati kemuliaan islam yang melarang melakukan qadzaf (menuduh wanita tanpa bukti), yang berarti mnecedrai kehormatan seorang wanita, dengan sanksi yang keras (cambuk 80 kali)