Muslimah

Pendapat Mereka Tentang Cewek Berjilbab atau Hijab

Selasa, 22 Januari 2013 03:17 wib

Mau tahu pendapat para cowok tentang cewek yang berjilbab?
ada beberapa komentar nih :

Cewek jilbaban di mataku, adalah ibarat kue yang dibungkus rapih dan ditaruh di dalam etalase, sehingga kesannya ‘mahal’.
Laler yang suka bawa kotoran juga nggak bisa nempel.
Tapi kalo yang nggak jilbaban yach, sebaliknya; yang nggak beli juga bisa megang-megang!
Cuma biar jilbabnya jadi lebih berwibawa lagi, yang penting adalah sosok di dalamnya yang kudu bisa ngebawa nama baik ‘jilbab’ itu sendiri.
Karena jilbab kan simbol Islam, artinya kalo bungkusannya bagus tapi isinya nggak bagus yach sama aja bodong!
Ibarat kue di dalam etalase yang dibungkus rapi, tapi jadi basi!
Hii, jadi lebih ‘hina’ dibanding ama kue yang nggak dibungkus, kan?

-    Boim Lebon, Penulis

Jilbab yang benar, meneduhkan qalbu, pelindung diri, dan enak dilihat.

  Ahmad Risaldi, Marketing dan Promotion Manager -


Cewek berjilbab bagiku adalah seseorang atau beberapa orang yang memakai jilbab, hehehe.
Cewek berjilbab akan kelihatan lebih anggun jka dibandingkan dengan cewek yang tidak berjilbab.
Tetapi itu tergantung dari sudut pandang si cowok.
Alhamdulillah teman-temanku yang cewek, yang berjilbab, baek-baek semua.
Tapi sekarang zaman udah berubah, jilbab sering dipake untuk mode doang. Karena orang bilang, dengan jilbab cewek kelihatan cantik, makin banyak deh sekarang cewek-cewek ABG yang pake jilbab tanpa mau memahami apa sebenernya arti berjilbab.
Akhirnya yah seperti sekarang ini. Banyak juga cewek berjilbab tapi masih pacaran dengan pegang-pegangan, pake baju ketat, pake celana yang ketat.
Duh, sayang banget deh. Pahala kan jadi nanggung, ya gak sih?

- Ricky, Desainer grafis Rumah Desain Alisafam -


Mata ini risih jika ada wanita yang berpakaian “seadanya” atau hanya
“mengubah” warna kulit. Namun jika yang ada di depan mata adalah wanita
yang berpakaian “lengkap”, kadang tak kuasa untuk menatapya. Sesekali
ingin juga memberitahu mereka, “Maaf Mbak, ada beberapa helai rambut
yang keluar dari kerudung.” Atau begini, “Mbak, maaf lho ya, kerudungnya tipis tuh. Diganti yang lebih tebal atau pakai rangkap dong.” Juga yang ini, “Lho Mbak, kok nggak pake kaos kaki?”

- Alif, Mahasiswa Teknik Elektro UGM -


“Jilbab tak hanya menjadi hijab, namun berperan sebagai batas hasrat
yang tersembunti dalam rahasia kecantikan wanita. Aku bersyukur telah
jatuh cinta pada “bidadari” berjilbab sejak pandangan pertama.”

- Kurnia Effendi, Penulis -


Jilbab itu bisa indah, cantik, modis, bahkan tidak bertentangan
dengan tren fesyen. Tapi jilbab juga lebih daripada sekadar etika
berpakaian yang dianggap sesuai dengan ajaran agama.
Ketika seorang perempuan memutuskan untuk berjilbab, saya percaya, ia
telah “memproklamirkan” semangat untuk lebih mendekatkan dirinya kepada
hal-hal yang lebih bersifat transedental (Ilahiyah).
Karena itulah saya menghormati perempuan berjilbab, terlebih lagi mereka yang mampu terlebih dahulu “mengenakan jilbab” di hatinya.

- Rachmat H. Cahyono, Pengarang -


Saya merasa aman.
Mungkin kedengarannya lelaki sekalee, dan lumayan bodo (imannya cuman gelas setengah penuh).
Tapi mo gimana lagi? Itu yang dirasakan sih. Istri saya pergi-pulang naik kerata api Bogor-Jakarta. Kalau mikirin copet, desek-desekan (kemungkinan dijahili orang) dsb, bisa makan hati. Keputusannya untuk
berjilbab setahun setelah menikah, membuat saya lega. Begitu juga soal
pergaulan, hubungan dengan teman kantor, dsb. Dengan dia berjilbab saya
jadi merasa aman. Maski tahu juga ga ada ceritanya jilbab bisa menangkal kalau istrinya mau selingkuh (jadi pathetic?).
Positifnya… rasa aman membuat hubungan jadi adem-ayem.
Bahasa “tinggi” bilang saling pengertian, de-el-el.
Saya ga pernah repot kalau istri terima sms, misalnya.
Ga pernah merasa, “wah… ada apa-apa, nih!” kalau istri ultah dapet hadiah dari teman kantor. Soalnya sudah tekor beliin mesin cuci elktroluks! Hehehe.
Meski “jaga-jaga” perlu.
Pokoknya : jilbab = aman.

- Sentaby, Dbaonk -


Jilbab adalah simbol dari wanita muslimah. Karena itu dia harus
memahami makna dari simbol tersebut. Tidak hanya sebagai simbol semata,
tetapi lebih dalam agar dia bisa semakin lekat dengan kemuslimahannya.
Jilbab adalah keindahan. Meskipun dia menutupi keindahan apa yang ada di dalamnya, tetapi sebenarnya jilbab lebih indah dari segala.
Jilbab adalah keteduhan, karena dia berhasil membuat lawan jenis
mengurung prasangka dan khayal yang akhirnya membuat hati semakin teduh.
Jilbab adalah penutup. Maksudnya menutup segala aurat. Maka, pemakainya
pu harus memahami dengan benar apa itu aurat agar jilbab bisa menutup
dengan sempurna dan menghindari pemiliknya dari zalim.

- Irfan Hasuki, wartawan -


Wanita berjilbab :
-    Yang pasti, akan terlihat lebih anggun dan terhormat dibandingkan dengan wanita yang berpakaian terbuka.
-    Punya karakter sendiri.
-    Pemberani, karena jika wanita sudah mengambil keputusan untuk
memakai jilbab, otomatis dia berani menerima segala konsekuensinya.
-    Berilmu, kaena mayoritas wanita berjilbab tahu betul hukumnya
menutup aurat, makanya memakai jilbab (kecuali wanita berjilbab yang
punya tujuan lain atau hanya ikut tren mode)
-    Menyejukkan pandangan.
-    Menentramkan hati.
-    Dan masih banyak lagi

- Rahman, milis FP -


Tentang cewek berjilbab – jilbaber – komentarku
bahwa mereka perempuan suci. Sebagaimana Ibunda Mariam yang mampumenjaga kesuciannya, demikian pula perempuan berjilbab seharusnya.
Sederhana saja alasannya : pakaian muslimah itu tak mudah dikenakan,
karenanya tak sembarang muslimah mau memakainya dengan ikhlas dan semata karena ibadah demi menutup aurat.
Dari beberapa ayat Al Quran, jelas Allah telah mewajibkan muslimah untuk berjilbab antara lain, An Nur : 31 atau Al Hazab : 59.
Oleh sebab itu, saya mengkritik para jilbaber yang masih suka “cengingisan” dan apalagi berjalan berdua-dua dengan bukan mahramnya.

- Isbedy Stiawan ZS, penair – cerpenis -


Seperti pedang bagi samurai, begitulah jilbab sebagai jalan hidup bagi perempuan beriman.

- Soni Farid Maulana, penyair –

Sumber :
Komentar-komentar ini diambil dari buku “Jilbab Pertamaku” karya Asma Nadia