Nasional

Din Syamsuddin Dituduh Radikal, Berarti Muhammadiyah dan MUI Radikal

Senin, 15 Februari 2021 09:30 wib

...
Din Syamsuddin

Radikalisme sering dijadikan komoditas politik hingga alat pemecah belah bangsa.

Jakarta – Sekretaris Jenderal Forum Pesantren Alumni Gontor (FPAG) KH Anang Rikza Masyhadi mengatakan, radikalisme sering dijadikan komoditas politik hingga alat pemecah belah bangsa.

Hal itu ia ungkapkan merespon tuduhan radikal yang disematkan kepada Din Syamsuddin. Din dilaporkan Gerakan Anti Radikalisme Alumni ITB ke Komisi Aparat Sipil Negara (KASN) dengan tuduhan tokoh radikal dan anti-Pancasila. Din merupakan guru besar di UIN Syarif Hidayatullah.

KH Anang Rikza meyakni mayoritas masyarakat tidak akan percaya bahwa Din Syamsuddin adalah radikal dalam pemahaman yang umum.

Menurutnya, kasus laporan ini semakin menegaskan pada masyarakat bahwa isu radikalisme sering dijadikan komoditas politik hingga alat pemecah belah bangsa.

“Menuduh Pak Din sebagai radikal punya konsekuensi yang besar dan luas, itu sama saja menuduh Muhammadiyah dan MUI sebagai radikal, Pak Din pernah cukup lama menjadi Ketum Dewan Pertimbangan MUI,” ujarnya.

Bahkan, lanjutnya, Din pernah diminta Presiden Jokowi sebagai utusan khusus Presiden untuk Dialog dan Kerjasama Antar Agama dan Peradaban, dan pernah mendatangkan Grand Syaikh Al-Azhar Mesir bersama para pemuka agama-agama dari seluruh dunia di Jakarta.

“Pak Din itu selalu dengan bangga mengkampanyekan Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika di luar negeri. Agar dunia internasional mencontoh Indonesia, lalu kalau Pak Din dianggap radikal maksudnya apa?,” jelasnya. (red)