Nasional

Kutip Pesan Buya Hamka, Wamenag: Dakwah itu Membina, Bukan Menghina

Minggu, 10 Oktober 2021 06:30 wib

...
Wakil Menteri Agama Zainut Tauhid Saadi

Jakarta – Wakil Menteri Agama (Wamenag) Zainut Tauhid Sa’adi mengingatkan kepada para dai jika Dakwah Islamiyah harus dilakukan secara sistematis, metodologis, persuasif dan tidak secara sporadis. Dakwah juga harus menjadi sarana menguatkan persaudaraan seagama dan sebangsa.

Pesan ini disampaikan Zainut Tauhid Sa’adi saat memberikan Prasaran dalam Webinar Kebangsaan dan Pelepasan Dai DPP Wahdah Islamiyah, Sabtu, 9 Oktober 2021.

Mengutip Prof Dr Hamka atau Buya Hamka, salah seorang maestro dakwah dan ulama intelektual Indonesia, Zainut Tauhid mengingatkan para dai akan prinsip dasar dalam berdakwah.

“Beliau (Buya Hamka) menuturkan bahwa dakwah itu membina bukan menghina,” kata Zainut Tauhid dalam keterangan tertulisnya, Ahad, 10 Oktober 2021.

Buya Hamka salah seorang ulama yang memiliki pemikiran dan langkah dakwahnya konsisten dalam bingkai kecintaan terhadap Islam dan kecintaan pada tanah air Indonesia.

Masih mengutip Buya Hamka, ia mengatakan, dakwah itu mendidik bukan membidik, mengobati bukan melukai, mengukuhkan bukan meruntuhkan, saling menguatkan bukan saling melemahkan, mengajak bukan mengejek, serta menyejukkan bukan memojokkan.

Ia juga menyebut dakwah itu mengajar bukan menghajar, dakwah itu saling belajar bukan bertengkar, serta dakwah itu menasihati bukan mencaci maki.

Di tengah era disrupsi informasi, Zainut Tauhid juga mengajak juru dakwah untuk terampil menggunakan media sosial.

Menurutnya, masyarakat masa kini berada di era digital, di mana kemajuan teknologi informasi dan komunikasi mempengaruhi berbagai aspek kehidupan manusia, termasuk dalam kehidupan beragama.

Untuk itu, para dai dituntut terampil menggunakan sosial media dan memanfaatkannya untuk kemajuan dan keluasan jangkauan dakwah.

“Keberhasilan dakwah dalam menggarami masyarakat dengan pesan-pesan kebenaran dan kebaikan tentu tidak hanya ditentukan oleh penguasaan aspek teknis, tetapi juga aspek substansi dan aspek etik dan akhlak dai itu sendiri,” lanjutnya.

Peranan dan kontribusi para dai dan omas-ormas Islam yang bergerak di bidang pendidikan, dakwah dan ekonomi disebut akan menentukan gambaran wajah Indonesia masa depan.

Terkahir, Zainut Tauhid juga berpesan Ukhuwah Islamiyah dan Ukhuwah Wathaniyah merupakan modal sosial yang tidak ternilai dalam menata kemajuan umat dan bangsa ke arah yang lebih baik.

Ia meminta umat Islam harus mampu mengisi kelemahan yang satu dengan kekuatan yang lain. Menguatkan ukhuwah merupakan suatu keniscayaan dan sekaligus kebutuhan.

“Dengan modal Ukhuwah Islamiyah dan Ukhuwah Wathaniyah itulah, kita wujudkan Indonesia Jaya dengan Islam Wasathiyah,” pungkasnya. (red)