Nasional

Inilah Visi-Misi Muhammad Zaini Mustakim

Kamis, 29 Mei 2014 19:39 wib

...
Muhammad Zaini Mustakim (dok/santrinews.com)

Malang – Muhammad Zaini Mustakim telah resmi mendapat mandat dari PC PMII Kota Malang untuk maju sebagai calon ketua umum PB PMII di Kongres PMII XVIII di Asrama Haji, Jambi, pada 30 Mei-7 Juni 2014.

Zaini Mustakim punya visi dan misi besar yang hendak diperjuangkan bila kelak terpilih menjadi ketua umum PB PMII untuk masa khidmat 2014-2016. “Kedepan PMII harus mampu eksis di tengah kompetisi global, tapi tetap mampu mempertahankan visi keislaman dan kebangsaan,” kata Zaini, Kamis, 29 Mei 2014.

Orientasi Zaini kedepan ialah tunggak semi (tumbuh kembang dan bersemi) tunas-tunas kader PMII yang mampu mengantisipasi kondisi multipolaritas Asia Tahun 2030.

“Saya mencitakan akan lahir tunas kader PMII sebagai kader NU masa depan yang antisipatif terhadap kompetisi kekuasaan global di Asia sekaligus menjadi kader berkarakter “˜demokrat-militan’ dalam memperjuangkan kepentingan warga Negara,” tegasnya.

Berikut visi dan misi lengkap Zaini Mustakim:

Visi:
Tunggak-Semi PMII dalam Asia Multipolar 2030

Visi PMII dikembangkan dari dua landasan utama, yakni visi keislaman dan visi kebangsaan. Visi keislaman yang dibangun PMII adalah visi keislaman yang inklusif, toleran dan moderat.

Adapun visi kebangsaan PMII mengidealkan kehidupan kebangsaan yang demokratis, toleran, dan dibangun di atas semangat bersama untuk mewujudkan keadilan bagi segenap elemen warga-bangsa tanpa terkecuali.

Pernyataan suatu visi individu dan organisasi menunjukkan suatu kondisi ideal yang hendak dicapai. Kondisi ideal itu dilatarbelakangi oleh situasi masa lalu dan situasi masa kini, meskipun situasi kekinian tidak menjadi faktor dominan atas rumusan suatu visi.

Orientasi visi selalu ke depan, tak mungkin menengok ke belakang atau retrospektif; pun tidak mutlak berbasis kondisi kekinian, kreatif dan memperjuangkan prinsip-prinsip dalam organisasi.

Kutipan visi organisasi PMII diatas telah menegaskan akar dari orientasi kedepan PMII yakni keislaman dan kebangsaan. Di setiap Kongres PMII, kandidat ketua umum PB PMII punya kewajiban moral untuk merumuskan visi individu yang tidak dapat melepaskan diri dari orientasi visi organisasi PMII tersebut diatas.

Secara kreatif, Zaini Mustakim sebagai kandidat ketua umum PB PMII melihat berbagai rancang bangun visi yang telah digagas organisasi stratejik, baik tingkat nasional maupun global. Rancang bangun visi tersebut seringkali secara eksplisit tertuliskan dalam bentuk skenario-skenario yang ditujukan kepada bangsa Indonesia dalam durasi puluhan tahun.

Organisasi global National Intelligence Council telah menerbitkan Skenario 2030 yang berjudul Global Trends 2030: Alternative Worlds. Organisasi ini pernah menerbitkan Skenario 2015 yang terbukti dalam beberapa lokasi geopolitik telah terjadi secara empirik.

Berbagai prediksi tentang konflik Timur Tengah, konflik etnik-religius di ASEAN, krisis nuklir, terorisme di belahan dunia, yang diprediksi NIC pada akhir tahun 1990an terbukti telah terjadi hingga tahun 2014. Oleh karenanya, gambaran tren dan rancangan skenario yang disusun oleh organisasi intelejen global NIC patut dipertimbangkan oleh kandidat ketua umum PB PMII sebagai organisator barisan intelektual-santri (ulul albab) di tingkat nasional.

NIC mengidentifikasi kecenderungan (trends) masa depan sistem internasional yakni ledakan klas menengah global, penyebaran kekuasaan Barat (the diffusion of power away from the West), dan munculnya konflik di lingkungan internal negara. NIC memprediksikan China sebagai kekuatan ekonomi dunia yang terbesar, India menjadi penggerak terbesar dari pertumbuhan klas menengah di bumi ini, dan Indonesia sebagai salah satu The Rising Giants (raksasa; nagasasra dalam kebudayaan nusantara) selain India. Prediksi NIC ini tidaklah gratis. Kepemimpinan global Amerika Serikat dipastikan akan berubah lebih tegas dan meyakinkan terhadap Indonesia dan India atau ASEAN dan Asia.

Visi individu yang dapat ditawarkan dalam kesempatan ini ialah PMII pasca 2014 menyiapkan kondisi bagi PMII tahun 2030 untuk menjalin komunikasi dengan elemen bangsa yang stratejik, baik di lingkungan parlemen, korporasi, kementerian/lembaga dan kelompok pejuang societal lainnya. Tindakan komunikatif, seperti yang ditunjukkan secara afirmatif oleh Jurgen Habermas, ialah PB PMII menjalin komunikasi yang kritis dengan kekuatan kaum muda primus inter pares yakni kaum muda di China, Amerika dan ASEAN.

Komunikasi yang kritis ini menunjukkan pewarisan atas semangat Mahbub Djunaedi di tengah kondisi perang dingin yang melanda Indonesia. Pada waktu itu PMII mengambil sikap untuk tidak terseret dalam permainan “bipolaritas perang dingin antara Amerika dan Sovyet”. Analogi dengan sikap Mahbub Djunaedi selaku ketua umum PB PMII di masa perang dingin, maka kedepan PB PMII juga menggunakan ajaran teologis keislaman dan kebangsaan untuk tidak terjebak pada situasi bipolar Asian Cold War dan G2 Condominium.

Dalam situasi perang dingin, PMII di masa lalu maupun di masa depan akan tetap membangun visi keislaman dan kebangsaan yang kritis terhadap kekuasaan represif atas nama “klaim negara agama”. Agenda “negara agama” yang diimpor dari konflik politik dan konflik bersenjata di negara lain sudah pasti harus ditolak oleh PMII karena sesungguhnya “klaim negara agama” hanyalah instrumen permainan perang dingin yang tidak menguntungkan masyarakat Islam dan warga negara Indonesia. Melihat pertimbangan “tren NIC”, maka probabilitas visioner yang diancang kedepan ialah:

Pertama, PMII 2014-2030 mempertahankan keislaman dan kebangsaan dengan tidak terjebak pada situasi perang dingin Asia yakni blok kompetitif yang diciptakan Amerika dan China.

Kedua, PMII 2014-2030 mempertahankan keislaman dan kebangsaan dengan tidak terjebak pada blok kompetitif antara koalisi Pakta-JIKAS (Jepang, India, Korea dan ASEAN) melawan Pakta China (plus Pakistan dan negara-negara kecil Asia Tenggara), dengan Amerika yang memainkan peran penyeimbang diantara kedua Pakta tersebut.

Ketiga, PMII 2014-2030 mempertahankan keislaman dan kebangsaan dalam tatanan bipolar kooperatif. Amerika dan China membentuk “kondominium” yang meletakkan kekuatan Amerika sebagai pilar stabilitas regional dan ruang kerjasama yang meminimalisir rivalitas antara kekuatan Amerika dan China.

Berlandaskan pertimbangan tren diatas maka visi individual yang saya renungkan untuk orientasi kedepan ialah tunggak semi (tumbuh kembang dan bersemi) tunas-tunas kader PMII dalam mengantisipasi kondisi multipolaritas Asia Tahun 2030. Tunas-tunas kader PMII dicitakan untuk mengalami tunggak semi dalam mewujudkan kader nahdliyin yang antisipatif terhadap kompetisi kekuasaan global di Asia sekaligus menjadi kader berkarakter “demokrat-militan” dalam memperjuangkan kepentingan warga negara.

“Visi PMII dalam situasi multipolaritas 2030 berakar dari visi keislaman dan visi kebangsaan.”

“Visi keislaman yang dicitakan PMII 2030 adalah visi keislaman yang inklusif, toleran dan moderat ditengah kompetisi kekuasaan global Asia.”

“Visi kebangsaan PMII mengidealkan kehidupan kebangsaan yang berlandaskan “demokrasi-militan” bagi warga negara.”

Misi/Siasat:
Gerakan Trans-kultural Berbasis Kampus dan Kawasan

Misi dasar PMII merupakan manifestasi dari komitmen ke-Islaman dan ke-Indonesiaan, dan sebagai perwujudan kesadaran beragama, berbangsa, dan bernegara. Dengan kesadaran ini, PMII sebagai salah satu eksponen pembaharu bangsa dan pengemban misi intelektual berkewajiban dan bertanggung jawab mengemban komitmen ke-Islaman dan ke-Indonesiaan demi meningkatkan harkat dan martabat umat manusia dan membebaskan bangsa Indonesia dari kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan baik spiritual maupun material dalam segala bentuk.

Misi ialah pernyataan tentang apa yang harus dikerjakan institusi dalam upaya gerak kolektifnya untuk mewujudkan visi. Visi “Tunggak-Semi PMII dalam Asia Multipolar 2030” diwujudkan dalam arah sekaligus batasan proses pencapaian visi tersebut. Agar misi yang digagas secara individu oleh kandidat ketua umum PB PMII maka misi yang diuraikan berikut ini tetap menggunakan salah satu arah dan batasan misi organisasi yakni pembebasan bangsa Indonesia dari kemiskinan.

Berbeda dengan rumusan misi yang konservatif, makna dari “misi” dalam naskah ini lebih kepada “˜Siasat Pergerakan’. Siasat tidak sama dengan strategi. Siasat dimaksudkan sebagai keterlibatan kader PMII secara rutin dalam bentuk langkah-langkah konkret untuk segera mengubah kebiasaan yang berdampak buruk terhadap kebaikan hidup di kalangan kader. Lain halnya dengan strategi yang bersifat “teknokratis” dan “instrumental” dimana gagasan Visi dan Misi diturunkan lebih detail kedalam tindakan-tindakan yang dibatasi sedemikian rupa tetapi masih mengadung resiko perilaku sonambulist (berjalan kesana kemari tanpa arah yang jelas).

Ada beberapa lokus untuk membangun “˜Siasat Pergerakan’, yaitu Kampus dan Kewilayahan. Kampus dipilih sebagai lokus karena cuaca kultural di kampus semakin diwarnai oleh “ideologi-ideologi” impor yang terang-terangan anti-NKRI. Baik klaim ideologi impor yang mengambil haluan klaim “negara agama” dan meracuni mahasiswa maupun klaim ideologi impor yang menggerus etos tanggung jawab sebagai intelektual-santri menjadi intelektual-transaksional dengan elit yang korup. Sedangkan aspek kewilayahan dipilih sebagai lokus karena cuaca tren dan skenario kebijakan global dan nasional yang terarah Multipolar dan berpengaruh terhadap struktur organisasi PMII kedepan.

Sebagai gambaran, indeks globalisasi untuk Indonesia pada tahun 2012 menduduki urutan ke-90 yang jauh dibawah Malaysia (urutan ke-27). Dari indikator globalisasi, hanya globalisasi politik Indonesia (urutan ke-39) yang lebih tinggi daripada Malaysia (urutan ke-39), sedangkan indikator globalisasi ekonomi dan sosial Indonesia masih jauh tertinggal dengan Malaysia.

Pendekatan Trans-Kultural dipilih karena pendekatan ini menuntut keberanian untuk menggabungkan sikap yang militant antara kreativitas kader dan tradisi (nahdliyin), sampai tercipta makna baru sebagai generasi intelektual yang demokrat-militan. Demokrasi militan, meminjam istilah Habermas, menjunjung tinggi kepentingan warga negara diatas kepentingan transaksional dan perburuan rente (riba) bagi dirinya sendiri.

Gerakan Trans-kultural Kampus
Organisasi dunia SHELL dan beberapa ahli di Indonesia telah merumuskan Skenario Indonesia 2010-2050 yakni “Alon-Alon Asal Kelakon” dan “Nusantara Melaju”. Skenario “Alon-alon Asal Kelakon” berisi situasi Indonesia yang berkelit dari kebutuhan untuk mereformasi dirinya sendiri, bersikap reaktif terhadap tantangan dan fokus pada prioritas jangka pendek. Sedangkan “Nusantara Melaju” menunjukkan kisah skenario Indonesia yang maju terus dengan menjalankan reformasi.

Kader PMII hingga tahun 2014 semakin sadar dan terbuka terhadap isu-isu kekuasaan global yang berdampak panjang. Aspek pengetahuan di kampus semakin adaptif dengan isu-isu krisis Afganistan, China-Korea, Suriah sampai dengan Ukraina. Hal ini menunjukkan posisi kader PMII dalam skenario “Nusantara Melaju” sebagaimana dimaksudkan oleh SHELL. Akan tetapi, kondisi ini masih belum ditopang dengan kurikulum (kaderisasi) PMII yang spesifik membahas tren dan skenario global, sehingga upaya diskusi di kampus masih berjalan sonambulist. Kewajiban moral PB PMII ialah memperkokoh kurikulum kaderisasi PMII dengan melibatkan mitos, seni, teknologi, skenario global dan filsafat lokal ke dalam kurikulum kaderisasi.

Kader PMII di kampus-kampus yang berbasis ilmu teknologi semakin bertambah besar, akan tetapi kurikulum kaderisasi PMII masih berorientasi kepada software semata. Cuaca kultural kedepan dengan masuknya GOOGLE di Indonesia, industri gadjet dengan buruh dari rakyat Indonesia, serta kebutuhan eksperimental teknologi informasi, membutuhkan jaringan dari PB PMII untuk bersiasat bagi peningkatan kapasitas eksperimental hardware di lingkungan kader PMII.

Di lain pihak, kampus berbasis ilmu teknologi seringkali menjadi lahan bagi pemahaman yang sempit tentang keislaman dan kebangsaan sehingga PB PMII sesegera mungkin mengambil posisi untuk mengenalkan aswaja yang adaptif dengan kondisi “nalar instrumental” mahasiswa di kampus teknologi.

Kader PMII menduduki posisi penting dalam politik kampus, politik kepartaian, dan politik-deliberatif melalui organ NGO. Keterlibatan PMII memerlukan siasat sebagai think thank dalam perencanaan dan penganggaran pemerintah daerah. Opini umum yang dihasilkan kader berlanjut pada debat publik, proses kebijakan dan keputusan final.

Kader PMII perlu bergerak untuk serius memikirkan “krisis insinyur” (atau sebutan lain yang serupa) di kalangan kader. Setiap posisi yang telah diraih kader PMII di sektor-sektor publik pada akhirnya memerlukan keahlian dalam membangun infrastruktur bagi pelayanan publik.

PB PMII kedepan harus melakukan pendekatan trans-kultural di kalangan kampus (IAIN/UIN/STAIN dan kampus umum) untuk secara nyata menjaring kader-kader “insinyur” yang terposisikan pada kebijakan teknologi. Dalam dokumen (DRAFT) RPJMN 2014-2019 terdapat agenda elektrifikasi perdesaan 100% yang harus dibangun oleh Presiden dan Wakil Presiden terpilih. Hal ini membutuhkan ribuan “insinyur” atau lulusan kampus yang punya keahlian dalam teknologi dan minat khusus pada infrastruktur publik.

“Itulah visi-misi saya sebagai landasan perjuangan dan siasat pergerakan yang akan saya lakukan nanti kalau dipercaya sebagai ketua umum PB PMII,” ujarnya. (onk/ahay)