Nasional

Fakta Baru Kiprah Mbah Wahab

Rabu, 03 September 2014 19:32 wib

...
Dari kiri-kanan: KH Mujib Imron (moderator), Drs H Choirul Anam, Mun’im Dz, dan Prof Dr Anhar Gonggong (narasumber) pada acara Sarasehan Nasional di Aula Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang (santrinews.com/syaifullah)

Jombang – Dalam acara “˜Sarasehan Nasional, Mengenang Almaghfurlah KH Abdul Wahab Chasbullah’ yang diselenggarakan Rabu 3 Agustus 2014, terungkap banyak fakta baru seputar sejarah Islam di Indonesia. Termasuk peran NU dan para ulama di dalamnya.

Inilah antara lain kesimpulan yang dihasilkan dari sarasehan yang berlangsung di Aula Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang Jawa Timur tadi siang. Sejumlah narasumber yang hadir menyampaikan sejumlah dokumen yang membenarkan bahwa telah terjadi distorsi sejarah sehingga peran ulama dan kiai tidak muncul.

Penulis sejarah NU, Drs H Choirul Anam misalnya menyatakan bahwa banyak fakta yang menunjukkan bahwa peran KH Abdul Wahab Chasbullah (Mbah Wahab) yang sengaja tidak dimasukkan dalam buku sejarah.

“Peran Mbah Wahab yang sering menjadi narasumber utama dalam diskusi pra kemerdekaan ternyata tidak pernah mengemuka dalam buku sejarah,” kata Cak Anam, sapaan akrabnya.

Demikian juga peran Mbah Wahab yang menjadi Sekretaris Sarikat Islam Cabang Makkah, tidak pernah disebutkan. Belum lagi kiprah beliau yang mendirikan Nahdlatul Wathon, Tashwirul Afkar hingga Nahdlatut Tujjar.

Padahal dari sejumlah organisasi yang didirikan tersebut menjadi embrio bagi berdirinya Nahdlatul Ulama serta memberikan warna bagi perjalanan masa depan bangsa.

“Ini adalah karena sejarah Indonesia dibuat dengan semangat deislamisasi, sehingga peran orang Islam sengaja dikerdilkan,” tandas penulis buku babon NU ini.

Cak Anam juga mempersoalkan gelar Bapak Koperasi yang disematkan kepada Mohammad Hatta. “Padahal pada tahun 1929, Kiai Wahab telah mendirikan koperasi bagi kaum muslimin,” terangnya. Dan fakta ini tidak terpublikasi dengan baik di buku sejarah di Indonesia.

Bagi Cak Anam, sosok Mbah Wahab adalah kiai yang lintas batas. Beliau bisa berteman dengan para pemikir nasionalis sehingga dapat berkawan dengan aktifis Budi Utomo, juga kalangan yang mengaku sebagai Islam modernis.

Meskipun bergaul dengan banyak kalangan, namun Mbah Wahab tidak kehilangan jati diri. Terbukti sepulang dari Makkah, Mbah Wahab tidak bergabung dengan Sarikat Islam, namun mendirikan Nahdlatul Wathon yang merupakan sekolah kebangsaan bagi kalangan santri dan pesantren di tanah air. Organisasi ini pun mendapat apresiasi dari berbagai komunitas pesantren hingga terbentuk sejumlah cabang di berbagai kota di Jawa Timur dan Jawa Tengah.

Rekomendasi dari sarasehan ini antara lain mendaulat PBNU untuk membuat buku sejarah dengan memasukkan peran para kiai dan ulama semenjak pra kemerdekaan, saat dan pasca kemerdekaan.

Disamping Cak Anam, sarasehan ini mendatangkan narasumber Prof Dr Anhar Gonggong, sejarawan dari Universitas Indonesia dan Mun’im Dz dari PBNU. Acara dibuka oleh Wakil Bupati Jombang, Nyai Hj Mundjidah Wahab serta dihadiri akademisi dari sejumlah kampus di Jawa Timur dan jaringan alumni Pondok Pesantren Bahrul Ulum. (saif/ahay)