Nasional

Fatwa Haram Rokok MUI Dinilai Tendensius

Selasa, 14 Oktober 2014 19:24 wib

Jakarta – Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menegaskan tidak sependapat dengan fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang mengharamkan rokok. NU bahkan menuding fatwa itu tendensius karena bertujuan mematikan keberlangsungan hidup petani tembakau.

Para kiai NU menilai rokok itu makruh. Artinya sesuatu yang bila dikerjakan tidak apa-apa dan jika ditinggalkan mendapatkan pahala. Meski demikian, sampai kiamat pun ulama NU tidak akan mengharamkan rokok.

Sebelumnya, MUI sejak 2009 mengeluarkan fatwa haram soal merokok di tempat umum. Bukan hanya di ruang publik, dalam fatwa haram rokok versi MUI itu juga disebutkan bahwa merokok haram bila dilakukan anak-anak dan wanita.

Ketua Komisi Fatwa MUI Pusat Asrorun Niam Sholeh menjelaskan institusi pendidikan seperti sekolah dan madrasah, serta sejenisnya masuk ke dalam kategori ruang publik. Itu artinya, barang siapa yang masih tetap saja merokok maka hukumnya haram.

Pendapat MUI itu ditentang NU. “Rokok itu mubah, sampai kiamat ulama NU tidak akan mengharamkan rokok. Fatwa rokok haram yang dikeluarkan oleh MUI dan didukung kelompok antitembakau ini penuh tendensi, mereka ingin mematikan keberlangsungan hidup petani tembakau kita,” tegas anggota staf Dewan Halal PBNU Arwani Faishal, Selasa, 14 Oktober 2014.

PBNU menegaskan tidak mendukung kampanye untuk menekan angka perokok di Indonesia yang dimotori Kementerian Kesehatan dan kelompok antitembakau, termasuk MUI melalui gerakan fatwa haram rokok.

Ditegaskan Arwani, seperti dilansir Solopos, semua kiai NU pun telah bersepakat untuk memperbolehkan pengikutnya menghisap rokok. Dia juga mengklaim kalau kiai NU sebenarnya mendukung upaya meminimalisir rokok. Itu dibuktikan dengan penetapan hukum “╦ťmakruh’ untuk warga NU.

“Kiai tidak berarti tidak menerima data kesehatan. Rokok makruh karena menerima data kesehatan. Kalau tidak menerima, kiai akan menetapkan hukum rokok wajib. Itu justru karena ngerti itu bahaya,” sambung Arwani.

Penerapan rokok bukan merupakan suatu hal yang bahaya, menurutnya telah diperhitungkan matang ketika Muktamar NU ke-32 di Makassar pada 2010 silam. “Harus dilihat kadarnya. Kalau mafsadatnya besar hukumnya haram. Rokok kan sekali hisap tidak langsung pingsan,” ujarnya.

Menurut PBNU, rokok tidak punya bahaya yang berlebihan terhadap kesehatan manusia sehingga tidak perlu pula dilarang secara berlebihan seperti dilakukan MUI yang menerbitkan fatwa haram rokok.

“Kok kejam langsung bilang haram, ulama NU bilang tidak haram. Karena puluhan tahun merokok sehat-sehat saja. Kan tingkat bahayanya dilihat,” tegas Arwani. (jaz/onk)