Nasional

Ini Cerita Hasan Aminuddin Tentang Sosok Gus Dur

Sabtu, 13 Desember 2014 22:09 wib

...
KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur (santrinews.com/kompas)

Surabaya – Sosok mantan Presiden RI, almarhum KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur masih membekas cukup kuat dalam diri Hasan Aminuddin. Bahkan, Gus Dur turut membentuk karakter dan perjalanan politik anggota DPR RI dari Fraksi NasDem ini.

“Dalam politik Gus Dur memberi pelajaran bagi kita bahwa setelah proses akrobat politik selesai kita harus bisa berbuat dan berpihak untuk semua golongan,” kata Hasan mengawali cerita tentang sosok Gus Dur, di Klenteng Boen Bio Surabaya, Sabtu, 13 Desember 2014.

Pada acara Haul Gus Dur ke-5 itu, Hasan mengaku mengenal Gus Dur cukup dekat sejak dirinya aktif di partai politik. “Tapi saya sebenarnya justru kenal dan sangat akrab dengan Gus Dur setelah beliau menjabat presiden,” kenang mantan Bupati Probolinggo dua periode ini.

Hasan tercatat pernah mengemban amanah sebagai Ketua DPC Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Kabupaten Probolinggo. PKB adalah partai yang didirikan Gus Dur bersama para kiai NU. Hasan bahkan juga pernah menjadi Ketua DPW PKB Jatim sebelum akhirnya “bercerai” dan berlabuh ke Partai NasDem.

Hasan menegaskan, semasa hidupnya Gus Dur mampu berbuat sesuatu yang orang lain tidak berani. Menurutnya, sosok dan sepak terjang Gus Dur akan selalu dikenang oleh setiap orang.

“Di tengah kondisi bangsa seperti ini, semua orang pasti merindukan kehadiran Gus Dur. Karena beliau berbuat dan melakukan pembelaan atas dasar kemanusiaan. Atas dasar bahwa kita semua makhluk ciptaan Tuhan,” tandasnya.

Hasan juga menguraikan ajaran politik Gus Dur yang dapat dijadikan patokan dalam berpolitik. Di mata Hasan, Gus Dur adalah sosok yang mampu membimbing dan membesarkan orang tanpa harus memberi tahu orang tersebut.

“Gus Dur, kiai yang tak pernah berpikir kepentingan kelompok tertentu, tapi beliau selalu berpikir untuk semua orang tanpa pandang golongan,” ujarnya.

Karena itu, kata Hasan, ketokohan Gus Dur tidak hanya melekat di hati umat Islam, melainkan juga umat non muslim. Terbukti, setiap tahun semua umat lintas agama seolah merasa punya kewajiban memperingati haulnya untuk mengenang sosok, perjuangan, dan ajaran Gus Dur.

Gus Dur wafat pada 30 Desember 2009, dan disemayamkan di pemakaman keluarga di area Pondok Pesantren Tebuireng Jombang. Pusara Gus Dur bersebelahan dengan makam kakeknya, yakni Hadratus Syaikh Hasyim Asyari, pendiri NU. Selain itu juga berdekatan dengan makam sang ayah, KH A Wahid Hasyim.

Selain itu, lanjut Hasan, Gus Dur adalah sosok yang anti formalitas di bidang apapun, melainkan lebih mengedepankan substansi. Terbukti misalnya, meski tak punya ijazah sarjana Gus Dur juga bisa menjadi Presiden.

“Makanya sekarang tak usah terlalu membesarkan persoalan formal, yang penting keilmuannya dan diamalkan sesuai keahliannya,” tegasnya.

Selain Hasan, hadir pula sebagai pembicara, yakni Inayah Wahid (putri bungsu Gus Dur), A Rubaidi (Wakil Sekretaris PWNU Jatim), Viki Irawan (Tokoh Tionghoa), Achmad Heri (anggota Fraksi NasDem DPRD Jatim) dan sejumlah tokoh Majelis Agama Khonghucu Indonesia (MAKIN). (jaz/ahay)