Nasional

NU Jatim Undang Mufti Malaysia Bahas Liberalisme-Radikalisme

Senin, 22 Desember 2014 10:25 wib

...
Direktur Aswaja NU Center Jawa Timur, KH Abdurrahman Navis (santrinews.com/dok)

Surabaya – Berbagai macam aliran dan ideologi, baik yang tumbuh dari spirit Barat (liberalisme) maupun Islam (radikalisme) semakin pesat berkembang terutama pasca reformasi bergulir. Upaya antisipasi diperlukan adanya sinergi antarnegara.

Aswaja NU Center Jawa Timur mengundang sejumlah mufti Malaysia untuk membahas perkembangan gerakan tersebut melalui seminar internasional di Asrama Haji Sukolilo, Surabaya, Selasa, 23 Desember.

“Bagaimanapun, menyikapi berbagai ideologi transnasional itu perlu sinergi antarnegara agar umat Islam dapat mengawal Islam Tengah yang ramah,” kata ketua panitia seminar, Fathul Qodir MHI, di Surabaya, Senin, 22 Desember 2014.

Dalam seminar itu, beberapa narasumber yang akan hadir adalah KH Miftakhul Akhyar (Rais Syuriah PWNU Jatim), dan Prof Dr H Abd A’la, M.Ag (Rektor UIN Sunan Ampel Surabaya).

Untuk delegasi Malaysia, antara lain Prof Dato Sheikh Haji Noh Gadot (Penasihat Utama Majelis Agama Islam Negri Johor), Prof Dato Dr Haji Abdul Razak Omar (University Tun Husein onn Malaysia), Prof Dr Md Som Sujimon (Kolej Pengajian Tinggi Islam Johor), dan Prof Dr Sayyed Muhammad Dawelah al-Aidrus.

Menurut Fathul Qodir, berbagai macam aliran dan ideologi, baik yang tumbuh dari spirit Barat maupun Islam muncul ke permukaan dengan menumpangi kebebasan dan keterbukaan pasca reformasi.

“Baik aliran yang embrionya telah lama ada dalam tubuh masyarakat Islam Indonesia, maupun ideologi baru yang diimpor dari luar dengan pola gerakan transnasional dan radikal,” kata alumnus pascasarjana Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya itu.

Pengajar di Pondok Pesantren Mahasiswa Al-Husna Surabaya tu menandaskan Indonesia menjadi ajang pertarungan berbagai macam ideologi yang kebanyakan bertentangan dengan spirit Islam maupun ke-Indonesiaan itu.

“Ideologi fundamentalis bercorak radikal dengan bersuara lantang seringkali mengklaim bahwa kelompoknya berada di garis yang paling benar dan paling sesuai dengan ajaran Rasulullah. Parahnya, kelompok di luar mereka dianggap sesat, ahli bid’ah, musyrik, dan anti memperjuangkan syariat,” katanya.

Hal yang sama juga berlaku pada kalangan yang masuk kategori Islam kiri yang terkesan membuat ringan dan menyederhanakan aturan agama.

“Nah, NU sebagai ormas keagamaan yang selalu memperjuangkan Islam toleran ala Aswaja menyadari akan rongrongan itu, karena itu ideologi Aswaja harus diperkokoh dalam jiwa masyarakat Islam agar Islam kembali menjadi rahmatan lil alamin,” katanya.

Dalam seminar berskala internasional itu, peserta yang dilibatkan adalah utusan PWNU se-Indonesia, akademisi dan pesantren.

“Setelah seminar itu, khusus 100 peserta dari PWNU se- Indonesia akan mengikuti daurah Aswaja tingkat nasional atau semacam workshop Aswaja selama tiga hari pada 24-26 Desember di tempat yang sama, sedangkan para mufti dari Malaysia akan berkeliling pesantren dan makam para wali,” katanya. (ahay)