Nasional

Gus Mus: Lebih Pantas KH Tholhah Hasan dan KH Muchith Muzadi

Minggu, 01 Februari 2015 23:07 wib

...
KH Musthofa Bisri (tengah) saat menghadiri pengajian di Mojokerto tahun lalu (santrinews.com/hady)

Surabaya – Pelaksana tugas Rais Aam Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Musthofa Bisri (Gus Mus) menilai dua ulama sepuh NU, KH Tholhah Hasan dan KH Muchith Muzadi lebih pantas menjadi Rais Aam Syuriah PBNU pada Muktamar NU di Jombang Agustus 2015 mendatang.

“Saya itu tidak pantas karena ilmu saya hanya seujung kuku. Saya kira ulama yang pantas adalah KH Tholhah Hasan atau KH Muchith Muzadi,” katanya di sela bedah buku di Kantor PWNU Jatim Jalan Masjid Al Akbar Timur 9 Surabaya, Ahad, 1 Pebruari 2015.

Bedah buku berjudul “Kiai Bisri Syansuri, Tegas Berfiqih, Lentur Bersikap” (terbitan Yayasan PP Mambaul Maarif, Denanyar, Jombang dan Pustaka IDEA) itu dihadiri diantaranya Menristek M Nasir (alumni Pesantren Mambaul Maarif), H Muhaimin Iskandar (Ketua Umum DPP PKB), H Saifullah Yusuf (Wagub Jatim), dan Halim Iskandar (Ketua DPRD Jatim).

Gus Mus mengaku dirinya dan KH A Hasyim Muzadi (Rais Syuriah PBNU) bukan sekaliber kedua ulama itu. Menurutnya, yang menyebut dirinya dan KH Hasyim Muzadi bisa menjadi Rais Aam PBNU itu hanya media.

“Saya kira penulisnya tidak paham NU, karena saya dan Pak Hasyim disangka top, padahal saya dan Pak Hasyim itu tidak ada apa-apanya,” ujar Gus Mus.

Padahal, kata Gus Mus, kalau penulis itu paham NU akan tahu bahwa Muktamar NU itu bukan seperti pilkada. Dia menyebut, misalnya saat Muktamar NU di Surabaya. “Saat itu peserta muktamar mencalonkan Kiai Wahab Chasbullah dan Kiai Bisri Syansuri menjadi Rais Aam Syuriah PBNU,” katanya.

Saat itu, muktamirin yang mendukung Kiai Bisri Syansuri beralasan bahwa Kiai Wahab Chasbullah sudah udzur akibat mata yang sulit untuk melihat, sehingga kasihan jika menjadi orang nomer satu di PBNU.

Namun, Kiai Bisri Syansuri yang didukung para ulama justru mengambil mikrofon dan menyatakan dirinya tidak akan mau menjadi Rais Aam Syuriah PBNU selama KH Wahab Chasbullah masih hidup. “Janji itu dipenuhi hingga Kiai Wahab Chasbullah wafat,” katanya.

Begitu juga saat Hadratussyeikh KH Hasyim Asyari menjadi Rais Akbar PBNU, maka KH Wahab Chasbullah justru hanya mau menjadi Katib Syuriah atau bukan justru wakil rais. “Sedangkan KH Bisri Syansuri justru memilih A’wan (pembantu umum),” tegasnya.

Oleh karena itu, Gus Mus meminta pengurus NU untuk belajar banyak kepada para pendiri NU yang tidak tertarik dengan jabatan, karena jabatan merupakan amanat yang berat untuk dipertanggungjawabkan di akhirat kelak. (shir/ahay)