Nasional

LTN NU Jatim: Banyak Kitab Kuning Kiai NU Dibajak

Sabtu, 02 Mei 2015 16:41 wib

...
Ketua PW LTN NU Jatim Ahmad Najib (kiri) didampingi Wakil Ketua Sururi Arumbani, saat memimpin rapar kerja (santrinews.com/hady)

Surabaya – Pimpinan Wilayah (PW) Lajnah Ta’lif wan Nasyr (LTN) NU Jawa Timur mencatat saat ini banyak kitab klasik atau kitab kuning karya Kiai NU dibajak untuk kepentingan ekonomis. Bukan hanya sekadar masalah kerugian secara finansial, yang paling dikhawatirkan pembajakan kitab ini berpotensi merusak isi kitab jika dicetak ulang secara sembarangan.

“Yang paling mengkhawatirkan bukan sekadar kerugian finansial, namun kerugian substansial, karena upaya memproduksi ulang kitab klasik tanpa izin itu berpotensi merusak isi kitab itu sendiri,” kata Ketua PW LTN NU Jatim Ahmad Najib, di sela-sela Raker LTN NU di kantor PWNU Jatim, Sabtu 2 Mei 2015.

Pernyataan tersebut sekaligus sebagai hantaran pernyataan sikap LTN NU Jatim di Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Dia meminta pemerintah memerhatikan masalah ini.

Najib menjelaskan, pembajakan kitab yang lazim dikenal dengan sebutan Kibat Kuning di lingkungan kaum nahdliyin ini sebenarnya terjadi sejak lama. Banyak penerbit, terutama penerbit kecil, mencetak ulang kitab kuning tanpa meminta izin penulis atau ahli warisnya. “Bahkan ada yang tidak mencantumkan nama pengarangnya,” ujarnya.

Najib memberi contoh anak dari seorang kiai yang menulis sebuah kitab. Kitab tersebut ialah Manhaj Dzawin Nadzor (Syarah Alfiah As-Suyuti) karangan Syaikh Mahfudz At-Termas. Kitab tersebut dicetak ulang oleh salah satu penerbit dan beredar di pasaran. Tapi, terjadi banyak kesalahan cetak. “Saya tanya teman saya, dia bilang tidak tahu karena tidak pernah minta izin yang nyetak,” ungkapnya.

Keluarga Najib juga merasakan pembajakan tersebut. Yakni kitab Tanwirul Hija fii Nadzmi Safiinatun Najah, karya KH Akhmad Qusyairi bin Shiddiq, kakak mantan Rais Aam PBNU KH Ahmad Shiddiq. “Dan banyak sekali kitab-kitab klasik NU yang dibajak di pasaran,” tandasnya.

Menurut Najib, ada beberapa faktor kitab klasik menjadi korban pembajakan. Di antaranya kurangnya kesadaran kaun santri pada pentingnya hak kekayaan intelektual (HAKI). Selain itu, cara berpikir ikhlas di lingkungan kiai, dalam menyebarkan ilmu.

“Kiai kan tidak berpikir finansial dari kitab yang diproduksi, yang penting dari kitab yang dikarang ilmu bisa sampai ke pembaca,” kata Najib. “Nah, kurang sadarnya HAKI dan keikhlasan kiai ini disalahgunakan,” tegas dia.

Memanfaatkan momen Hardiknas, LTN NU Jatim akan mengambil sikap untuk menyelamatkan khazanah intelektual karya ulama NU, terutama kitab klasik. LTN juga meminta PBNU memerhatikan masalah ini, juga mendesak pemerintah memfasilitasi penertiban masalah pembajakan kitab kuning.

“Kami akan menginventarisasi kitab-kitab apa saja yang dibajak. Selanjutnya, kami akan berupaya untuk memfasilitasi penulis atau ahli waris untuk mengurus hak cipta kitab ke instansi terkait,” pungkas Najib. (ahay)