Nasional

KH Hasyim Muzadi: Saya Tidak Tega NU Rusak

Sabtu, 09 Mei 2015 02:23 wib

...
KH A Hasyim Muzadi dan KH Musthofa Bisri (santrinews.com/fb)

Surabaya – Mantan Ketua Umum PBNU KH A Hasyim Muzadi mengaku sudah tidak tertarik untuk masuk dalam struktur pengurus NU. Apalagi maju menjadi Rais Aam Syuriah PBNU di Muktamar ke-33 NU di Jombang, Jawa Timur, pada 1-5 Agustus mendatang.

Namun Kiai Hasyim khawatir organisasi yang didirikan para kiai pesantren ini akan tenggelam apabila dibiarkan. Pasalnya, belakangan ada upaya melemahkan NU, baik dari dalam maupun luar.

“Jadi, siapapun dia, yang mampu mengatasi problem ini, dia lah yang harus maju,” kata Kiai Hasyim usai menjadi pembicara di acara “ŽSeminar Nasional bertema ‘Mencari Pemimpin NU Masa Depan’ yang digelar Majelis Alumni IPNU Jawa Timur, di Gedung Jatim Expo Jatim, Surabaya, Jumat malam, 8 Mei 2015.

“Tidak ada ceritanya Rais Aam Syuriah PBNU itu mencalonkan diri,” tegasnya.

Menurut dia, Muktamar ke-33 NU di Jombang itu bukan soal bagaimana memilih orang (rais aam/ketua umum), melainkan bagaimana menyelamatkan NU.

“Kita harus mencari figur yang mampu menyelamatkan NU, karena NU sekarang menghadapi upaya melemahkan NU dari dalam dan luar. Dari dalam ada pelemahan moralitas, manhaj (metodologi beragama), dan ekonomi,” katanya.

Dari luar, lanjut pengasuh Pesantren Mahasiswa Al-Hikam di Malang dan Depok itu, ada penetrasi radikalisme dari Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir (HTI), Syiah, Wahabi, dan semacamnya, serta penetrasi liberalisme.

“Kalau radikalisme dan liberalisme itu dibiarkan menggerogoti NU, maka Indonesia bisa rusak, karena Indonesia akan menjadi seperti Mesir, Yaman, dan sebagainya,” ujarnya.

Dia menegaskan, NU akan mengalami upaya pelemahan, karena semua kelompok transnasional melakukan penetrasi ke areal yang selama ini menjadi milik NU, bahkan penetrasi itu juga lewat penyusupan.

“Saya tidak tega kalau NU itu rusak atau bahkan mati dalam 5-10 tahun mendatang. Indikasinya, seperti manhaj dibatasi hingga Quran dan Hadits, lalu Qanun Asasi NU akan dimasukkan AD/ART. Itu mereduksi Qanun Asasi yang lebih luas daripada AD/ART,” tandasnya.

Dalam forum dialog yang berlangsung hingga larut malam itu, Kiai Hasyim Muzadi sempat menyampaikan soal kriteria ideal kepemimpinan NU ke depan adalah Rais Aam dari kalangan yang mampu memperkokoh keagamaan, keumatan, dan kebangsaan.

“Untuk Ketua Umum PBNU itu sebaiknya dari kalangan manajer yang mampu menata organisasi, sehingga posisi Rais Aam dan Ketua Umum PBNU akan saling melengkapi sesuai kompetensi masing-masing,” ujarnya. (ubaid/ahay)