Nasional

Ormas Islam Minta Hentikan Pengiriman TKW ke Arab Saudi

Rabu, 12 Juni 2013 22:14 wib

...
LPOI di Istana Negara dalam sebuah kesempatan (Dok/Santrinews.com)

Jakarta – Lembaga Persahabatan Organisasi Ormas Islam (LPOI) Indonesia menyampaikan keprihatinan sangat mendalam atas insiden yang terjadi di Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Jeddah, Arab Saudi pada Ahad, 9 Juni 2013 lalu. Akibat insiden itu, satu Warga Negara Indonesia yang menjadi Tenaga Kerja Wanita (TKW) tewas.

“Kami sangat prihatin atas kejadian itu,” kata Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siraj, saat menggelar jumpa pers bersama 12 ormas Islam, di Kantor PBNU, Jalan Kramat Raya, Salemba, Jakarta Pusat, Rabu, 12 Juni 2013.

LPOI adalah gabungan 12 Ormas Islam yang terdiri dari Nadhatul Ulama (NU), Persatuan Islam (Persis), Al Irsyad Al Islamiyah, Mathlaul Anwar, Itttihadiyah, Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI), Ikatan Da’i Indonesia (IKADI), Azzikra, Syarikat Islam Indonesia, Al Washliyah, Dewan Da’wah Islamiyah, dan Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti).

LPOI mendesak kebijakan pemerintah, dalam hal ini Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Kemenakertrans) yang memberlakukan moratorium (penghentian sementara) pengiriman Tenaga Kerja Wanita (TKW) ke Arab Saudi untuk ditingkatkan menjadi penghentian selamanya.

“Dengan 12 Ormas ini, kami berharap pandangan kami lebih didengar,” kata Said Aqil Siraj yang juga ketua LPOI ini.

“Kalau bisa kami minta distop pengiriman Tenaga Kerja Wanita ke Saudi Arabia untuk selamanya. Kalau laki-laki masih boleh. Dari satu juta tenaga kerja bermasalah di Arab Saudi, yang paling besar jumlahnya adalah wanita,” sambungnya.

Kang Said – panggilan akrab KH Said Aqil Siraj, juga meminta Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) untuk meningkatkan pelayanan terhadap TKI bermasalah di Saudi Arabia yang jumlahnya mencapai satu juta orang. Kendati hal itu diakui sulit, namun ia berharap Indonesia bisa mengambil contoh negara lain yang tenaga kerjanya diperlakukan dengan baik.

Kang Said menegaskan, kalau terpaksa harus bekerja di luar negeri, masih banyak negara-negara lain yang memberi hak dan pelayanan lebih baik ketimbang Arab Saudi.

”Dengan berat hati saya harus katakan, Taiwan dan Hongkong yang konon non-muslim jauh lebih baik dalam memperlakukan TKW. Saya tahu sendiri, bukan kata orang,” tandasnya.

Diberitakan, pada Ahad, 9 Juni 2013 lalu, sekira 12 ribu orang WNI berkumpul di depan Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI), di Jeddah, Saudi Arabia. Kemudian di lokasi itu terjadi insiden kerusuhan dan bahkan mereka membakar Kantor KJRI. Akibat insiden itu, satu orang WNI bernama Marwah binti Hasan tewas dan seorang petugas keamanan KJRI, Mustofa terluka parah.

Insiden tersebut diduga pemicunya karena antrean panjang hingga harus berhari-hari, terkait pengurusan Surat Perjalanan Laksana Paspor (SPLP) dan pelayanan tak optimal. (ahay/saif).