Nasional

Santri Nusantara Tolak Rais Aam PBNU Tamak Jabatan

Minggu, 26 Juli 2015 02:04 wib

...

Surabaya – Muktamar Ke 33 NU yang akan digelar di Jombang, Jawa Timur tinggal satu minggu lagi. Bursa persaingan calon Rais Aam Syuriah dan Ketua Umum Tanfidziyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) semakin ketat. Pasalnya semua kandidat mengklaim memiliki pendukung yang sama kuatnya.

Persaingan yang ketat ini diperkirakan akan berefek pada terjadinya konflik terbuka baik antar kiai maupun para pendukung masing-masing kandidat. Untuk menekan munculnya potensi konflik perlu diterapkan model pemilihan baru, yakni sistem Ahlul Halli Wal Ahdi (AHWA).

Koordinator Santri Nusantara, Deni Mahmud Fauzi berpendapat bahwa sistem pemilihan melalui model AHWA dalam menentukan Rais Aam PBNU harus tetap dilaksanakan. Sebab, dia menilai sistem AHWA paling ideal bila melihat kondisi NU saat ini. “Konsep AHWA seharusnya dapat dilaksanakan dalam Muktamar kali ini, karena sudah ideal melihat kondisi NU saat ini,” ujarnya di Surabaya, Sabtu malam, 25 Juli 2015.

Ditanya mengenai siapa yang layak untuk mengemban amanah sebagai Rais Aam PBNU, Deni menyerahkan sepenuhnya kepada para kiai yang akan menjadi anggota AHWA. “Para kiai sepuh NU jauh lebih arif dalam menentukan siapa nantinya Rais Aam PBNU, manut kiai lah,” imbuhnya.

Namun, Deni berharap Rais Aam PBNU kedepan jangan sampai dipegang oleh orang-orang yang tamak jabatan. “Harapan kami, Rais Aam (PBNU) bukan orang yang tamak jabatan, terlebih mereka yang sudah menyandang jabatan politis,” tandasnya.

Ketika disinggung siapa yang dimaksud tamak jabatan, Mantan Sekretaris Umum Pengurus Koordinator Cabang PMII Jawa Timur ini enggan menyebutkan nama. “Kita sama-sama tahu, siapa beliau itu,” elaknya.

Sejauh ini telah muncul beberapa kandidat ketua umum PBNU, diantaranya KH Said Aqil Siradj (incumbent), KH Salahuddin Wahid, dan H As’ad Said Ali. Sedangkan Rais Aam PBNU yang digadang-gadang diantaranya KH Musthofa Bisri (Gus Mus), KH A Hasyim Muzadi, dan KH Muhammad Thalha Hasan.

Muktamar Ke 33 NU akan berlangsung pada 1-5 Agustus mendatang. Sesuai jadwal akan dibuka secara resmi oleh Presiden Joko Widodo, dan penutupan oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla. Pembukaan dan sidang pleno ditempatkan di Alun alun Jombang. Sedangkan sidang komisi berlangsung di empat pondok pesantren, yakni Pesantren Tebuireng, Mambaul Ma’arif Denanyar, Bahrul Ulum Tambakberas, dan Darul Ulum Paterongan. (jaz/onk)