Nasional

PBNU: Kalau FPI Meresahkan Bubarkan Saja

Selasa, 15 Desember 2015 10:21 wib

Purwakarta – Ketua Umum Pengurus Besar Nahdhatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siradj meminta masyarakat Purwakarta, Jawa Barat, tidak menghiraukan tudingan Front Pembela Islam (FPI) yang menyatakan Purwakarta berada dalam kondisi darurat aqidah.

“Jangan dihiraukan tudingan tak berdasar seperti itu agar tidak memicu konflik. Tetapi, kalau meresahkan dan memprovokasi lebih baik ormas seperti itu (FPI) dibubarkan saja,” kata Kiai Said Aqil saat berceramah dihadapan ratusan umat muslim di Purwakarta, Senin, 14 Desember 2015.

Menurut Kiai Said, umat Islam di Purwakarta yang ia pantau sejauh ini tidak dalam kondisi seperti yang digambarkan FPI. Sebab, kegiatan kegamaan di Purwakarta tumbuh subur dan tak pernah ada keluhan apa pun.

Ikhwal topik kebudayaan yang selalu diusung Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi, dalam berbagai kesempatan, sedikit pun tak ada yang bertentangan dengan masalah aqidah Islam, apalagi sampai menimbulkan darurat aqidah seperti ditudingkan FPI.

Kiai kelahiran Cirebon tersebut berujar, penyebaran dan dakwah Islam di Indonesia jangan sampai meninggalkan pendekatan budaya dan tidak menimbulkan perang, apalagi pertumpahan darah. Mengingat Indonesia memiliki keberagamaan suku dan budaya.

Menurut Kiai Said, Nabi Muhammad pada saat berdakwah dan menyebarkan Islam di Madinah, misalnya, tetap berupaya menghormati budaya yang tumbuh dan berkembang di sana dengan tetap menghormati peradaban dan membangun asimilasi budaya, karena di sana, banyak suku bangsa baik yang muslim dan non-muslim.

“Rasulullah selalu memperlakukan masyarakatnya sama. Tidak menghendaki permusuhan kecuali yang melanggar hukum,” Aqi menegaskan.

Ia menghimbau agar cara berdakwah selalu mengedepankan ketenangan dan kedamaian seperti yang dicontohkan Rasulullah ketika berdakwah di Mekah.

“Selama 13 tahun berdakwah, Rasulullah tidak langsung menghancurkan berhala. Namun, beliau selalu lebih mengedepankan ketenangan dalam berdakwahnya,” ia menambahkan.

Adapun Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi mengatakan bahwa budaya Sunda itu tidak pernah bertentangan dengan ajaran Islam. Ia mengharapkan tidak terjadi salah tafsir ketika budaya Sunda dipakai dalam beragama.

“Contohnya, masyarakat Sunda yang membangun persenyawaan diri dengan alam, seperti tanah, air, udara, dan matahari. Itu budaya. Dari persenyawaan tersebut lahirlah bentuk kepasrahan kepada qadha dan qadar,” Dedi menjelaskan buah pikirnya.

Pentolan FPI Purwakarta, Syahid Djoban, menyatakan “Purwakarta Darurat Aqidah” di dunia maya. FPI juga melaporkan Bupati Dedi ke Polda Jawa Barat dengan tuduhan telah melakukan penistaan terhadap Islam dalam bukunya Spirit Kebudayaan dan Kang Dedi Menyapa. Dia menilai isi buku tersebut banyak yang berisi penistaan terhadap Islam.

Akan tetapi, pengurus Angkatan Muda Siliwangi bersama 32 ormas Sunda, juga melaporkan pendiri FPI, Rizieq Shihab, ke Polda Jawa Barat dengan tudingan melecehkan salam Sunda “Sampurasun” yang diplesetkannya menjadi “Campur Racun”. (rus/temp)