Nasional

Ketum PBNU: Konflik Arab Saudi-Iran Sangat Mengkhawatirkan

Senin, 04 Januari 2016 21:21 wib

Jakarta – Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menyatakan, Arab Saudi dan Iran mempunyai peran strategis di dunia Islam. Karena itu, PBNU menyatakan kekhawatiran atas ketegangan yang terjadi antara kedua negara itu.

“Kami atas nama PBNU mengamati yang terjadi di Timur Tengah, konflik yang terjadi antara Saudi Arabia dan Iran yang sangat tidak layak dan sangat mengkhawatirkan,” kata Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, Senin, 4 Januari 2016.

“Masing-masing negara mempunyai bobot di dunia Islam ini. Maka yang kami harapkan, baik Saudi maupun Iran dapat mengendalikan diri masing-masing demi wihdatus shaf (menyatukan barisan) umat Islam dalam menghadapi musuh-musuh Islam dan mereka yang tidak senang kalau melihat umat Islam bersatu, umat Islam kuat,” tegasnya.

Ketegangan kedua negara dipicu oleh eksekusi mati Arab Saudi terhadap ulama Syiah terkemuka, Nimr Baqr al-Nimr, yang sering mengkritik penguasa Saudi. Nimr termasuk tokoh yang memiliki pengaruh di kalangan umat Syiah Iran.

“Tunjukkan umat Islam masih punya idealisme ingin memperkuat barisan dalam menghadapi era globalisasi yang sangat cukup menantang ini,” Kiai Said Aqil menegaskan.

“Yang sudah terjadi sudahlah, kita lewati. Ke depan yang saya harapkan Saudi dan Iran masing-masing, dengan jiwa yang besar, dengan lapang dada, membangun persaudaraan yang kuat, persaudaraan yang kokoh demi wihdatus shaf baina muslimin,” pungkasnya.

Buntut dari ketegangan ini, pemerintah Arab Saudi telah memutus hubungan diplomatik dengan Iran. Hal tersebut terutama usai adanya serangan ke Kedutaan Besar Saudi di Teheran.

Iran menganggap pemutusan hubungan tersebut tidak akan mengalihkan perhatian dunia dari kesalahan besar yang dilakukan Saudi dengan mengeksekusi seorang ulama terkemuka Syiah.

“Dengan memutuskan untuk memutus hubungan (diplomatik), Arab Saudi tak bisa membuat dunia melupakan kesalahan besarnya mengeksekusi seorang ulama,” papar pejabat senior pemerintah Iran, Hossein Amir Abdollahian. (us/onk)