Nasional

Santri Mau Kuliah Gratis ke Luar Negeri? Tebuireng Institute Berikan Solusi

Senin, 29 Februari 2016 21:15 wib

...
Tim Tebuireng Institute saat berkunjung ke Konsulat Jenderal Amerika Serikat di Surabaya (santrinews.com/as'ad)

Jombang – Penguasaan bahasa asing, khususnya Inggris adalah prasyarat utama untuk mendapat kesempatan kuliah ke luar negeri. Tebuireng Institute (TI) memberikan kesempatan bagi para santri yang ingin melanjutkan studi ke kampus ternama di luar negeri lewat program beasiswa.

Semenjak berdiri pada 22 Oktober 2015, TI secara rutin memberikan bimbingan TOEFL atau Test Of English as a Foreign Language secara gratis bagi semua kalangan, terutama dari pesantren. TI merupakan lembaga yang digagas tiga orang yakni Mohammad As’ad, Hafis Muaddab dan Khudrotun Nafisah.

Dengan visi “sharing knowledge for overseas study” TI ingin mendorong semua kalangan untuk membudayakan bahasa Inggris dan semangat melanjutkan pendidikan ke luar negeri. Terlebih peluang dari lembaga pemberi beasiswa baik dari dalam negeri seperti LPDP, Djarum Foundation dan bahkan yang berasal dari luar negeri sungguh terbuka lebar.

Beberapa waktu berselang, TI menggelar TOEFL Prediction Test Angkatan I untuk sekitar 40 peserta sekaligus menyosialisasikan informasi mengenai beasiswa. Lembaga ini menfasilitasi persiapan TOEFL yang menjadi prasyarat meraih beasiswa tersebut.

“Beasiswa persiapan TOEFL Tebuireng Institute sejauh ini masih terbatas bagi yang memiliki nilai TOEFL di atas 450 karena minimnya pendanaan,” terang Hafis Muaddab, Senin, 29 Februari 2016. Namun ke depan, TI optimis banyak pihak yang akan memberikan perhatian baik pendanaan ataupun pengetahuan. “Sehingga Tebuireng Institute membuka diri kepada siapapun yang berkenan selaku donatur, relawan, penulis dan pengajar,” katanya sembari menyebut laman yang dapat dikunjungi yakni www.tebuirenginstitute.org.

Seperti diketahui, Indonesia diprediksi akan menerima bonus demografi pada tahun 2020, yang akan berlangsung hingga tahun 2030. Bonus demografi ini merupakan keuntungan yang diterima suatu negara karena proporsi jumlah penduduk produktif yang lebih besar.

Alumnus Suandusit Rajabath University Thailand dan penggagas berdirinya TI ini menandaskan bahwa keuntungan tersebut bisa juga menjadi tantangan terbesar Indonesia. Kualitas sumber daya manusia perlu terus ditingkatkan. Salah satu upayanya melalui peningkatan kualitas pendidikan. “Jangan sampai bonus demografi menjadi bencana demografi,” kata Wakil Menejer TI ini.

Dalam pandangannya, tahun 2030 kelak Indonesia membutuhkan setidaknya 113 juta tenaga kerja terdidik. Sedangkan kini hanya memiliki sekitar 55 juta. Tenaga kerja terdidik tersebut akan mengelola peluang pasar yang berkembang di tanah air seperti bidang jasa, pertanian, industri, pertambangan, dan sector lain. “Jika dibandingkan dengan negara lain, jumlah penduduk Indonesia yang berpendidikan tinggi hingga jenjang S3 masih terbilang rendah,” terangnya.

Tidak dipungkiri jika dalam beberapa program dan proyek, Indonesia masih mengandalkan tenaga kerja asing. Hal tersebut menjadi tantangan untuk mewujudkan percepatan pembangunan perekonomian di negeri ini. “Jika bonus demografi tidak dipersiapkan dengan baik semenjak dini, perekonomian Indonesia tentu akan tertinggal,” katanya.

Meraih Beasiswa LPDP
LPDP atau Lembaga Pengelola Dana Pendidikan menjadi beasiswa terbaik karena mendapat dukungan penuh dari Departemen Keuangan RI. Sehingga seluruh kebutuhan mulai dari biaya pembuatan visa, tempat tinggal, sekolah, hingga biaya tesis ataupun disertasi ditanggung penuh lembaga ini. Selain itu, bergabung dengan beasiswa LPDP juga memiliki keuntungan mendapatkan komunitas baru yaitu ikatan alumni yang kuat. “Selain itu, tidak ada ikatan dinas yang perlu ditandatangani saat menerima beasiswa LPDP. Namun tentunya penerima harus mengabdi untuk Indonesia kelak,” katanya.

“Harapan untuk meraih beasiswa dan mampu melanjutkan pendidikan ke luar negeri tentu adalah impian semua orang,” kata Mohammad As’ad, direktur menejer dan penggagas TI.

Dukungan dari banyak pihak pun mengalir atas berdirinya lembaga yang berlokasi di Desa Tebuireng Gg V Cukir Jombang ini. Salah satunya dari Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng Jombang, KH Sholahuddin Wahid. Dalam hal ini Gus Sholah, sapaan akrabnya yang juga Rektor Universitas Hasyim Asy’ari (Unhasy) berpesan bahwa keberadaan TI dapat berperan dalam peningkatan kualitas SDM manusia dari semua kalangan baik pesantren atau di luar pesantren.

Pada saat yang sama, banyak pihak belum menyadari pentingnya kemampuan bahasa asing, khususnya di kalangan pesantren. “Oleh karena itulah peran Tebuireng Institute menjadi penting adanya,” kata peraih beasiswa program doktor LPDP di Radboud University Belanda tersebut.

Untuk mencapai tujuannya, TI sejauh ini telah menjalin beragam kerjasama dengan Konsulat Jenderal Amerika dalam rangka Eastern Network Discussion untuk meningkat kapasitas dan kapabilitas TI sebagai lembaga berbasis sosial entrepreneurship serta pihak lain. “Sebab selain pembinaan TOEFL dan konsultasi pendidikan luar negeri, TI juga menjalankan program sekolah juara untuk MTs maupun MA dan sederajat dan kelas intensif bimbingan SBMPTN atau Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri dengan dilengkapi rumah baca dan layanan jasa internet dan printer,” kata mantan Direktur Lembaga Sosial Pesantren Tebuireng atau LSPT ini.

Semua fasilitas ini diharapkan akan mempermudah akses pelajar atau mahasiswa yang bergabung dengan TI. “Mengingat tujuan utama Tebuireng Institute adalah turut membantu pemerintah dalam melunasi janji kemerdekaan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa,” pungkas dosen Unhasy ini. (Nabil)