Nasional

Ki Hajar Dewantara Ternyata Santri Kiai Sulaiman Zainuddin

Selasa, 03 Mei 2016 11:28 wib

...
Ki Hajar Dewantoro bertemu dengan Presiden Soekarno di UGM Yogyakarta pada Desember 1956 (santrinews.com/intisari)

Semarang – Ki Hajar Dewantara dikenal sebagai Bapak Pendidikan Nasional. Tokoh nasional ini giat memperjuangkan pendidikan melalui sekolah yang dia dirikan yaitu Nationaal Onderwijs Instituut Taman Siswa atau Perguruan Nasional Taman Siswa pada 3 Juli 1922.

Sukses dalam membina dunia pendidikan, pria yang bernama asli Suwardi Suryaningrat itu lantas menjabat sebagai Menteri Pengadjaran era Soekarno pada 2 September 1945 -14 November 1958. Kemudian, dia juga mendapatkan gelar sebagai Pahlawan Nasional kedua.

Penulis buku “Masterpiece Islam Nusantara: Sanad dan Jejaring Ulama-Santri 1830-1945”, Zainul Milal Bizawie, menyebut, Ki Hajar Dewantara juga merupakan seorang santri. Dia menimba ilmu agama di kawasan Prambanan, Magelang. Hal itu juga tercatat di Sejarah Taman Siswa.

“Salah satu gurunya adalah seorang Kiai namanya Kiai Sulaiman Zainuddin, di kawasan Prambanan. Santrinya banyak, salah satunya Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara). Dia seorang santri, tapi sayang sejarahnya Ki Hajar Dewantara dulu belajar Alquran tidak pernah diterangkan oleh guru-guru di sekolah,” ujarnya.

Pengasuh Pondok Pesantren An-Nawawi Berjan Purworejo, KH Achmad Chalwani menguatkan pendapat tersebut. Menurut dia, Ki Hajar Dewantara ngaji Al-Quran kepada Kiai Sulaiman Zainuddin. “Ayo kita buka sejarah Taman Siswa, anak didik supaya tahu utuh, sejarah jangan dipotong-potong, kalau anda memotong sejarah pada saatnya nanti sejarah Anda akan dipotong oleh Allah SWT,” kata Kiai Chalwani.

“Yang mengatakan Kyai Sulaiman Zainuddin mempunyai murid Suwardi Suryaningrat mengaji di sana itu, saya baca di Sejarah Taman Sisw,” dia menambahkan.

Dosen Sejarah Peradaban Islam UIN Walisongo Semarang, M Rikza Chamami menyampaikan, peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2016 mestinya menjadi refleksi untuk meneladani perjuangan Ki Hajar Dewantara.

“Tidak benar jika Hardiknas hanya berisi pawai, upacara dan lomba-lomba yang isinya tidak edukatif. Bangkitkan pendidikan Indonesia dengan visi kemajuan dan perdamaian,” tutur Rikza, Senin, 2 Mei 2016.

Rikza mengatakan, penentuan 2 Mei sebagai Hardiknas merupakan hari lahir Raden Mas Suwardi Suryaningrat di Pakualaman 2 Mei 1888. Kemudian, dia berganti nama pada 1922 menjadi Ki Hajar Dewantara.

“Kenapa Ki Hadjar Dewantara diabadikan sebagai tokoh pendidikan? Dialah yang berani mendobrak sistem pendidikan pribumi. Ki Hadjar Dewantara memperjuangkan hak pendidikan para warga pribumi dengan perjuangan yang luar biasa,” jelasnya.

Jiwa kritisnya terhadap kolonial Belanda menjadikannya diusir dari Jawa dan diasingkan ke Bangka hingga ke Belanda (1913). Bersama tiga serangkai, Ki Hadjar Dewantara, Ernest Doewes dan Cipto Mangunkusumo, muncul ide-ide pendidikan untuk kaum pribumi.

“Sepulang dari Belanda pada September 1919, Ki Hadjar Dewantara mulai konsentrasi di bidang pendidikan. Ki Hadjar Dewantara kemudian bergabung dalam sekolah binaan saudaranya. Pengalaman mengajar ini kemudian digunakannya untuk mengembangkan konsep mengajar di Taman Siswa,” pungkasnya. (shir/okez)