Nasional

Kembali ke Khittah NU 1926, Kembali ke Khittah NKRI 1945

Kamis, 12 Januari 2017 20:32 wib

...

Situbondo – Halaqoh Ulama Refleksi 33 Tahun Khittah NU di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo, telah usai. Halaqoh yang berlangsung selama dua hari sejak Rabu, 11 Januari 2017, kemarin, itu menghasilkan sejumlah rekomendasi.

Halaqoh ini hasil kerjasama Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo, PW LTN NU Jawa Timur, dan TV9 NUsantara.

“Khittah NU adalah jati diri harakah atau gerakan keagamaan dan kemasyarakatan NU yang bersifat tetap atau tsabit dan harga mati. Harus dilaksanakan oleh seluruh warga dan pengurus NU di semua level,” kata MN Harisuddin, Kamis, 12 Januari 2017.

Dosen pascasarjana IAIN Jember yang ditunjuk sebagai juru bicara tersebut mengemukakan bahwa Khittah NU adalah panduan, alat ukur dan haluan organisasi bagi pengurus di semua level. “Dan warga NU dalam menyikapi berbagai permasalahan kekinian yang sangat dinamis dan cepat berubah atau mutaghayyirat baik level kebangsaan, keislaman dan keorganisasian,” tandas Katib Syuriah PCNU Jember ini.

“Berbagai permasalahan kebangsaa keislaman dan keorganisasian harus disikapi sebagai realitas yang dipengaruhi oleh konstalasi global,” kata Gus Haris, sapaan akrabnya. “Karena itu harus disikapi oleh NU dengan menggunakan konsepsi dasar yang ada dalam Khittah NU,” lanjutnya.

Berikut hasil lengkap rekomendasi Halaqoh tentang Peneguhan Khittah NU tersebt:

Dasar Pemikiran
1. Khitttah adalah jati diri harakah/gerakan keagamaan dan kemasyarakatan NU yang bersifat tetap (Tsawabit) dan Harga Mati, harus dilaksanakan oleh semua warga dan pengurus NU di semua level.

2. Khittah NU adalah panduan, alat ukur dan haluan organisasi bagi pengurus dan warga NU dalam menyikapi berbagai permasalahan kekinian yang sangat dinamis dan cepat berubah (mutaghayyirat), baik level kebangsaan, keIslaman dan Keorganisasian.

3. Berbagai permasalahan kebangsaan, keIslaman dan keorganisasi yang terjadi harus disikapi sebagai realitas yang dipengaruhi oleh berbagai konstalasi global dengan menggunakan Konsepsi Dasar yang ada dalam Khittah NU.

4. Khittah NU merupakan formula untuk menyembuhkan permasalahan yang terjadi di tengah warga NU, baik kebangsaan, keagamaan dan organisasi.

5. Memperkuat dan memperbaiki diri perlu dilakukan semua warga dan pengurus NU dalam rangka memciptakan kemandirian NU sebagaimana dimandatkan oleh Khittah NU.

Rekomendasi:
1. Menyerukan seluruh pengurus dan warga NU serta kalangan pesantren untuk meneguhkan kembali KhittahNU sebagai Landasan Berpikar, Bersikap dan Bertindak Warga NU di era liberalisasi infornasi ini.

2. Untuk keperluan peneguhan itu, diperlukan penanaman yang masif dan sosialisasi menyeluruh tentang prinsip dan nilai Khittah dalam forum-forum pengkaderan dan pembekalan kepengurusan serta forum kultural kewaragaan NU yang ada.

3. Perlu dilakukan penulisan kembali tentang sejarah panjang dirumuskannya Konsep Khittah NU sebagai Keputusan Organisasi serta implementasi dan penjabarannya sebagai upaya pelaksanaan khittah NU sebagaimana dimandatkan dalam Muktamar NU di Situbondo.

4. Untuk keperluan pendidikan dan pelestarian nilai2 Khittah, perlu didirikan Khittah Center dan Monumen Khittah yang ditempatkan di PP Salafiyah As-Syafi’iyyah Sukorejo, Situbondo. (*)

Sukorejo Situbondo, 13 R. Akhir 1348 H / 12 Januari 2017 M.