Nasional

Pesantren Dituntut Tingkatkan Kemampuan Berkompetisi

Minggu, 24 November 2013 18:55 wib

Solo – Rektor IAIN Surakarta, Dr Imam Sukardi mengatakan, di era globalisasi saat ini, pondok pesantren dituntut meningkatkan kemampuan bersaing. Sebab, perubahan-perubahan di dalam masyarakat global, cepat atau lambat pasti akan mengimbas pada dunia pesantren sebagai bagian dari masyarakat dunia.

Hal itu diungkapkan Imam Sukardi pada acara “The 1st Conference on Islamic Economic Studies” (CIES) dan Seminar Nasional Kemitraan Strategis dan Jejaring Usaha pada Pesantren/Lembaga Pendidikan Islam di Indonesia, yang digelar IAIN Surakarta di Hotel Novotel, Solo, Ahad, 24 November 2013.

“Sekarang ini pondok pesantren tidak hanya dituntut untuk mampu bertahan dan bersaing, tetapi juga mampu mengembangkan diri,” kata Imam Sukardi.

Era globalisasi, menurutnya, telah melahirkan kompetisi yang ketat dan rumit, baik berskala lokal, domestik maupun global. “Pesantren harus melakukan kerjasama dan bersinergi dengan semua jaringan organisasi baik di dalam dan luar lembaga pesantren, termasuk jaringan yang ada di luar negeri,” tandasnya.

Di Indonesia saat ini pondok pesantren berjumlah ribuan dan telah berkembang menjadi berbagai jenis dan model, seperti dari sudut segi ilmu yang diajarkan, jumlah santri, pola kepemimpinan dan juga perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

“Secara umum dapat dikelompokkan menjadi dua. Pesantren tradisional dan pesantren modern,” jelasnya.

Dijelaskan, pesantren jenis pertama, hanya mengajarkan ilmu keagamaan (klasik) khususnya mengkaji kitab-kitab kuning. Pesantren jenis kedua, mengajarkan berbagai ilmu pengetahuan modern dan keagamaan, baik dari kitab klasik maupun buku-buku modern.

CIES diikuti sebanyak 200 perwakilan pesantren se Jawa. Selain Imam Sukardi, hadir sebagai narasumber diantaranya KH Mahmud Ali Zain (Pondok Pesantren Sidogiri Pasuruan), KH Salahuddin Wahid (Pondok Pesantren Tebuireng Jombang), dan Dr CA Jamaludin, LC. (onk/ahay)