Nasional

Film The Santri Dituding Liberal, PBNU Tantang Debat

Rabu, 18 September 2019 10:30 wib

...

Jakarta – Film The Santri menuai protes. Padahal, film garapan sutradara kakak beradik, Livi Zheng dan Ken Zheng, itu belum diproduksi. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) pun angkat suara.

“Tunggu dan tonton The Santri tapi setelah produksi bulan Oktober nanti. Baru dilihat apakah ada pertentangan atau tidak,” kata Wakil Sekretaris Jenderal PBNU Imam Pituduh di kantor PBNU, Jakarta Pusat, Selasa 17 September 2019.

Imam yang bertindak sebagai executive producers dalam film garapan NU Channel itu mengaku heran kritikan datang saat filmnya masih sebatas cuplikan. The Santri baru akan mulai produksi pada 22 Oktober 2019 dengan rencana penayangan pada 2020.

Tudingan terhadap The Santri di antaranya muncul dari Pengasuh Pesantren Ribath Al Murtadla Al Islami Singosari Malang Luthfi Bashori. Menurut Luthfi, film The Santri tidak sesuai syariat Islam dan cenderung liberal karena ada adegan pacaran, campur aduk pria dan wanita, dan membawa tumpeng ke gereja.

Menantu Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Rizieq Shihab, Hanif Alathas juga tidak ketinggalan mengkritik. Menurut Hanif, film tersebut tidak mencerminkan akhlak dan tradisi santri yang sebenarnya.

Menanggapi tudingan itu, Imam Pituduh menawarkan pihak-pihak yang tak sependapat dengan film The Santri untuk ikut berdiskusi mengenai plot film itu.

Bahkan ia menawarkan untuk terlibat berperan juga. “Kalau penasaran datang bedah scene plot dan diskusikan bareng-bareng hukum agamanya seperti apa. Jangan dihakimi dulu, baru trailer,” ujarnya.

Ia juga menjelaskan perihal adegan dalam cuplikan film tersebut, saat santriwati mengantarkan tumpeng ke dalam gereja.

Menurutnya adegan itu terinspirasi oleh budaya saling kirim makanan atau dalam kebudayaan masyarakat Jawa disebut dengan ater-ater, yang memiliki makna kepedulian antar sesama manusia tanpa memandang identitas.

“Liberal yang berlebihan gimana? Rasul mencontohkan, setiap hari menyuapi pengemis buta beragama Yahudi. Bukan sekedar dibawakan tumpeng ke gereja. Rasul menyuapi. Itu yang harus dicontoh,” ujarnya.

Perihal adanya adegan pria dan wanita dicampur atau sedang berduaan, menurutnya itu hanya persoalan pembingkaian gambar yang masih sebatas cuplikan saja. Sebab adegan-adegan itu tidak berdiri sendiri dan memiliki konteks yang akan diketahui jika menyimak film secara keseluruhan.

“Kalau saya buka semuanya secara utuh, nanti itu akan kelihatan, dalam scene tidak hanya berdua tapi ada orang lain. Tergantung angle kan,” ujarnya.

Ia juga menjelaskan, film itu memang membahas perihal cinta dalam tiga prinsip sebagaimana yang diyakini dalam Islam. Pertama, cinta kepada sesama muslim. Kedua, cinta kepada sesama warga negara. Ketiga, cinta kepada sesama manusia tanpa melihat identitas.

“Di film itu juga tak tertulis cinta. Adanya dream, faith, dan friendship,” pungkasnya. (us/trto)