Nasional

PBNU: Indonesia Sudah Darurat Radikalisme

Senin, 14 Oktober 2019 01:30 wib

...
Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siradj (santrinews.com/uswah)

Jakarta – Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siraj meminta pemerintah agar bersikap tegas terhadap aksi terorisme yang meresahkan masyarakat seperti insiden penyerangan Menko Polhukam Wiranto di Serang, Banten, Kamis, 10 Oktober 2019 lalu.

Aparat kepolisian, kata Kiai Said, harus mampu mengungkap dan menindak aktor intelektual di balik aksi-aksi teror yang terjadi di Tanah Air.

“Kami Nahdlatul Ulama (NU) meminta aparat kepolisian harus mampu bertindak tegas terhadap radikalisme dan tidak boleh ada kesan negara kalah dalam menghadapi terorisme,” kata Kiai Said Aqil dalam keterangan tertulisnya, Ahad, 13 Oktober 2019.

Menurut dia, saat ini radikalisme sudah ada di mana-mana. Ada di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumbawa, Bima, Sulawesi Tengah dan lain-lain.

“Saat ini Indonesia sudah darurat terorisme dan radikalisme, karena selama ini kita bersikap terlalu ramah kepada mereka. Maka demi menyelamatkan NKRI, menyelamatkan seluruh bangsa Indonesia, maka sekecil apapun yang mereka lakukan (terorisme) harus ditindak tegas,” kata Kiai Said.

Kiai Said menuturkan, tindakan terorisme adalah tindakan biadab yang tidak sesuai dengan norma dan agama apa pun. “Jadi kita harus lawan bersama. Apalagi mereka sudah berani terang-terangan,” tegasnya.

Sementara itu, Staf Khusus Badan Pembina Ideologi PAncasila (BPIP) Romo Antonius Benny Susetyo mengingatkan kembali bahwa radikalisme sudah mengancam keutuhan bangsa dan negara. Sebab, paham-paham radikalisme ingin mengubah Pancasila yang telah menjadi kesepakatan bangsa ini.

“Maka ke depan tantangan kita adalah bagaimana memperkuat ideologi Pancasila dalam praktik kehidupan berbagsa dan bertanah air,” ujarnya.

Karena itu, menurut dia, bangsa ini perlu membumikan Pancasila agar mampu menyentuh kaum milenial. “Hal ini agar para kaum milenial tak mendapat masukan tentang agama dari sisi yang sempit sehingga kemudian menciptakan radikalisme tadi,” ujarnya. (us/onk)