Nasional

Sukmawati: Nabi Muhammad dan Soekarno, Dua Pemimpin dengan Derajat Beda

Sabtu, 16 November 2019 22:30 wib

...
Sukmawati Soekarnoputri (santrinews.com/detik)

Jakarta – Sukmawati Soekarnoputri membantah pernyataanya bermaksud membandingkan Nabi Muhammad dan Soekarno. Menurut dia, keduanya memiliki derajat yang berbeda yang tidak bisa dibandingkan.

“Kedua beliau itu pemimpin-pemimpin, tapi pastinya derajatnya beda. Kalau Nabi ya nabi, kalau Bung Karno ya manusia yang punya kepemimpinan,” kata Sukmawati saat dikonfirmasi Sabtu, 16 Nopember 2019.

Sebelumnya Sukmawati dilaporkan simpatisan Koordinator Bela Islam (Korlabi) ke Polda Metro Jaya. Sukmawati dituding menghina Nabi Muhammad SAW karena membandingkannya dengan Soekarno.

Laporan itu tertuang dalam nomor LP/7363/XI/2019/PMJ/Dit.Reskrimum, tanggal 15 November 2019. Sukmawati dilaporkan atas tuduhan penistaan agama Pasal 156a KUHP.

Sukmawati mengaku sangat mencintai Rasulullah Muhammad SAW. “Saya cinta kok para nabi, kok jadi dianggap menistakan agama?” tegasnya.

Pernyataan yang berbuntut laporan itu disampaikan Sukmawati saat menghadiri sebuah diskusi bertajuk ‘Bangkitkan Nasionalisme Bersama Kita Tangkal Radikalisme dan Berantas Terorisme’ pada Senin, 11 Nopember 2019, lalu.

Dalam diskusi itu, awalnya Sukmawati berbicara tentang perjuangan Indonesia merebut kemerdekaan RI dari jajahan Belanda. Diskusi itu digelar dalam rangka memperingati Hari Pahlawan 10 November 2019.

Sukmawati kemudian melontarkan pertanyaan kepada forum.

“Sekarang saya mau tanya semua, yang berjuang di abad 20 itu Yang Mulia Nabi Muhammad apa Ir Sukarno, untuk kemerdekaan? Saya minta jawaban, silakan siapa yang mau jawab berdiri, jawab pertanyaan Ibu ini,” tanya Sukmawati seperti dalam video yang viral.

Forum sempat hening. Tidak ada yang menjawab pertanyaannya itu. Dia lalu melontarkan kembali pertanyaan itu kepada forum yang dihadiri sejumlah mahasiswa.

“Di abad 20, yang berjuang untuk kemerdekaan Indonesia itu Nabi Yang Mulia Muhammad atau Ir Sukarno? Tolong jawab, silakan anak-anak muda, saya mau tahu jawabannya, ayo jawab, nggak ada yang berani? Saya mau yang laki-laki, kan radikalis banyaknya laki-laki,” lanjutnya.

Seorang mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta bernama Muhammad Takim Maulana, kemudian berdiri.

“Memang benar pada awal ke 20 yang berjuang itu Ir Sukarno, nah…,” jawab Takim, dan langsung dipotong Sukmawati. “Oke, setop. Hanya itu yang Ibu mau tanya.”

Sukmawati kemudian meminta mahasiswa lain menjawabnya. Kali ini ada mahasiswa asal Papua yang menjawab ‘Soeharto’, yang kemudian mengundang gelak tawa para hadirin.

Sukmawati pun melanjutkan pidatonya. Menurutnya, adalah hal yang wajar apabila kita menghormati para pejuang terdahulu.

“Memangnya kita nggak boleh menghargai, menghormati, orang-orang mulia di awal-awal, pokoknya abad modern? Apakah suri teladan itu hanya Nabi? Ya, oke, nabi-nabi, tapi pelajari perjalanan sejarah, ada revolusi industri. Apakah kita tidak boleh menghargai seperti Thomas Jefferson, Thomas Alva Edison, orang-orang mulia untuk kesejahteraan manusia,” Sukmawati memaparkan. (shir/onk)