Nasional

Sunan Bonang, Sosok Wali Perajut Toleransi Beragama

Selasa, 23 Mei 2017 21:30 wib

...
Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa saat ziarah di Makam Sunan Bonang di Tuban (santrinews.com/istimewa)

Tuban – Menjelang bulan Ramadan 1438 Hijriah, Menteri Sosial (Mensos) RI Khofifah Indar Parawansa berziarah ke makam Sunan Bonang, Kabupaten Tuban, Senin, 22 Mei 2017.

”Sunan Bonang adalah sosok yang patut diteladani atas upaya beliau membangun harmoni antar umat beragama,” kata Khofifah.

Khofifah berziarah usai meninjau proses pencairan bantuan sosial Program Keluarga Harapan (PKH) di Pendopo Tuban.

Menurut Khofifah, komplek makam Sunan Bonang merupakan salah satu destinasi unggulan untuk wisata religi di Jawa Timur. Hal ini antara lain tampak dari adanya sejumlah tempat ibadah di sekitar alun-alun Tuban yang hingga kini masih berdiri tegak dan digunakan untuk beribadah.

Bangunan masjid, klenteng, pura dan gereja yang membentuk seperti kompleks tersebut telah dibangun sejak jaman Sunan Bonang.

Menurut Khofifah, Sunan Bonang merangkul semua orang termasuk non muslim yang tinggal di tempat yang sama dan hidup dalam toleransi, rukun, dan damai.

“Ini yang harus kita teladani dan terapkan dalam kehidupan sekarang. Ajaran beliau masih sangat relevan mengenai toleransi dan keberagaman. Kita memang berbeda-beda, tapi tetap satu Indonesia,” ujarnya.

Bukti toleransi dan keberagaman keberadaan tersebut tampak dalam Prasasti Kalpataru yang merupakan rangkuman dari buah pemikiran Sang Wali.

Pada prasasti setinggi 180 cm tersebut terukir empat tempat ibadah untuk agama berbeda-beda yakni masjid mewakili agama Islam, candi mewakili agama Hindu, Klenteng mewakili Tridharma (Budha, Tao dan Konghucu) serta wihara mewakili agama Budha. Satu lagi, terdapat arca megalitik atau kebudayaan mewakili pemujaan leluhur.

“Melalui prasasti tersebut kita bisa memaknai sebagai adanya ajaran dan kepercayaan yang berbeda-beda tidak membuat mereka terpecah-belah. Melalui sikap toleransi dalam masyarakat berbeda-beda agama itulah kenapa Islam dapat menyebar secara luas,” tukasnya.

Sunan Bonang dan Tombo Ati
Sunan Bonang merupakan putra Sunan Ampel buah perkawinannya dengan Nyai Ageng Manila, seorang putri dari Arya Teja, salah seorang Tumenggung dari kerajaan Majapahit yang berkuasa di Tuban.

Sunan Bonang lahir pada tahun 1465 M dan wafat pada tahun 1525 M. Sunan Bonang dan Sunan Ampel merupakan dua dari Wali Sembilan.

Sunan Bonang banyak menggubah sastra berbentuk suluk atau tembang tamsil. Antara lain Suluk Wijil yang dipengaruhi kitab Al Shidiq karya Abu Sa’id Al Khayr.

Sunan Bonang juga menggubah tembang Tombo Ati (dari bahasa Jawa, berarti penyembuh jiwa) yang hingga kini sering dinyanyikan dan tak asing bagi umat Islam.

Tembang Tombo Ati bermakna penyembuh jiwa, menceritakan ada lima hal yang bisa dilakukan jika hati ingin tenang. Yaitu membaca Al Qur’an dan maknanya, menjalankan sholat malam, berkawan dengan orang sholeh, perut yang lapar (puasa) dan dzikir malam.

Sunan Bonang juga menggubah sekaligus menjadi kreator gamelan Jawa seperti sekarang, dengan menambahkan instrumen bonang. Gubahannya memiliki nuansa dzikir yang mendorong kecintaan pada kehidupan transedental (alam malakut).

Dalam pentas pewayangan, Sunan Bonang adalah dalang yang piawai membius penontonnya. Kegemarannya adalah menggubah lakon dan memasukkan tafsir-tafsir khas Islam. Sunan Bonang menguasai ilmu fiqih, ushuluddin, tasawuf, seni, sastra, dan juga arsitektur.

Khofifah mengatakan, salah satu warisan budaya yang dibawa Sunan Bonang adalah prasasti Kalpataru yang menunjukkan kearifan lokal.

“Saat itu berbagai agama Samawi dan kepercayaan lokal bisa hidup berdampingan secara harmonis. Hari ini kita perlu terus ingatkan toleransi dan keberagaman serta Tombo Ati,” ujarnya. (hay)