Nasional

Ewindo Latih Agribisnis 7.883 Santri

Jum'at, 07 Februari 2020 22:00 wib

...
Managing Director PT Ewindo Glenn Pardede (kanan) bersama Dirjen Hortikultura Kementerian Pertanian Prihasto Setyanto (kedua kanan) dalam suatu acara (santrinews.com/antara)

Jakarta – PT East West Seed Indonesia (Ewindo) memberikan pelatihan bidang agribisnis bagi para santri yang tergabung dalam Koperasi Mitra Santri Nasional binaan Wakil Presiden KH Ma’ruf Amin di Pesantren Syek An-Nawawi al-Bantani di Tanara Kabupaten Serang.

“Pelatihan ini mendapat dukungan Pemerintah Kerajaan Belanda melalui Kedubes di Indonesia yang selama ini memang banyak berkerja sama dengan pesantren di Indonesia,” kata Managing Director PT Ewindo, Glenn Pardede di Jakarta, Kamis, 6 Februari 2020.

Kegiatan ini, jelas Glenn melibatkan 7.883 santri dari berbagai wilayah di Indonesia untuk berpraktik langsung bertani sayuran di demplot seluas dua hektare yang dibangun di Tanara.

“Kami mendirikan Center of Excellence di bidang hortikultura dengan harapan setelah memiliki keahlian dapat ditularkan di daerah masing-masing,” kata Glenn.

Menurut Glenn para santri dilatih mulai dari bercocok tanam berbagai jenis sayur, pengolahan, pengemasan, sampai dengan pemasaran tujuannya mereka dapat menjadi wirausaha di bidang pertanian saat kembali di daerah.

“Seperti diketahui dalam mewujudkan swasembada pangan Indonesia lebih banyak lagi membutuhkan petani-petani profesional. Sementara pengetahuan petani di Indonesia sejauh ini hanya bercocok tanam padi, padahal usai panen lahan yang dimiliki masih dapat ditanami berbagai jenis sayuran,” kata Glenn.

Glenn mengatakan pelatih bagi santri nasional ini diantaranya para petani sayur yang sukses di Tangerang.

“Sebagai tahap awal bercocok tanam sayuran daun yang mudah dulu, setelah ahli baru diajarkan bertanam cabai, melon, jagung manis, cabai rawit, dan bawang merah yang potensi pasarnya besar,” jelas Glenn.

Glenn mengatakan kerja sama dengan Koperasi Mitra Santri Nasional ini berlangsung selama tiga tahun dengan opsi setelah itu dapat diperpanjang kembali. Sedangkan untuk praktik di lapangan sendiri hanya membutuhkan waktu dua bulan, untuk selanjutnya akan bergiliran dengan santri lainnya.

“Untuk angkatan pertama ini diharapkan dalam waktu dua bulan sudah bisa panen raya serta diharapkan dapat dihadiri Wapres dan pejabat pemerintahan,” kata Glenn.

Sedangkan Sekretaris Jenderal KMSN, Wawan Purwandi mengatakan hadirnya demplot di sekitar lingkungan Pesantren diharapkan dapat menjadi stimulan untuk menjadi kurikulum atau observasi bagi para santri.

Selain itu adanya demplot ini juga diharapkan dapat menumbuhkan motivasi bagi santri dan memberikan opsi pasca lulus pesantren agar dapat menjadi pengusaha berbasis pertanian.

Wawan juga mengatakan bahwa saat ini peran pemerintah melalui berbagai lembaganya sering kali tidak sinergi di lapangan sehingga pelaksanaannya tidak bisa berjalan optimal. Oleh karena itu pemerintah harus mendengarkan kebutuhan riil dan juga kebutuhan ekonomi petani.

Orang-orang yang terlibat dalam kegiatan agribisnis ini adalah profesional atau praktisi tani berpengalaman yang memiliki peran untuk mendidik santri sekaligus mendampingi teknik dan cara bercocok tanam langsung di lapangan.

Selain itu santri juga dilibatkan dalam pelatihan dan juga dibekali kemampuan agregator sehingga mampu mengembangkan ekosistem agribisnis yang baik meliputi pihak market, perusahaan, off taker, pemerintah, dan juga masyarakat yang secara khususnya adalah petani.

Harapan dari adanya kerjasama ini adalah para santri mampu mandiri untuk bertanam sayuran tidak lebih dari 1 tahun karena kegiatan pertanian ini bersifat praktik sehingga santri mampu menyerap ilmu tidak hanya dari dalam pesantren, namun juga dari pendidikan esktra, yaitu pelatihan pertanian ini.

Terkait peran Kedubes Belanda dalam kerjasama ini, Agriculture Advisor Kedubes Belanda, Ana Saleh mengatakan kerja sama dengan Pesantren Tanara yang diasuk KH Ma’ruf Amin melibatkan PT East West Seed Indonesia (Ewindo).

Dalam kerjasama ini KMSN (Koperasi Mitra Santri Nasional) dan Ewindo sepakat untuk membuat demo plot di lahan-lahan dekat pesantren di Tanara.

Pertanian hortikultura yg dibangun Ini diharapkan akan menjadi ‘centre of excellence’ untuk pengembangan pertanian Hortikultura di Indonesia yang melibatkan pesantren-pesantren dan masyarakat sekitar pesantren.

“Jadi diharapkan dapat menginspirasi santri-santri dan pesantren-pesantren lain mitra KMSN beserta masyarakat sekitarnya untuk menggalakkan pembanguan pertanian hortikultura lewat inisiatif ini,” ujar Ana.

Lingkup kerjasama meliputi upstream dan downstream yaitu seluruh value chain mulai dari pengolahan lahan, penanaman, dan akses pasar.

Ewindo membantu memberikan pelatihan Good Agriculture Practices (GAP) untuk pertanian yang berkelanjutan dan membantu mencari akses pasar potensial untuk menyerap hasil panen.

Kontribusi pemerintah Belanda adalah memfasilitasi inisiatif dari KMSN yang bermaksud melakukan kegiatan pemberdayaan masyarakat melalui santri atau pesantren di sektor pertanian hortikultura.

Kerjasama ini murni B2B dan pemerintah Belanda mendukung pelibatan swasta dalam pemberdayaan masyarakat dan membangun entrepreneurship di masyarakat melalui kerjasama seperti ini. (red)