Nasional

Zastrouw Al Ngatawi: Jangan Jadi Bangsa Kera, Membuang Emas hanya untuk Sebuah Pisang

Rabu, 26 Februari 2020 17:00 wib

...
Zastrouw Al Ngatawi (kanan) dan D Zawawi Imron saat mengisi seminar nasional di STAI Al Fithrah Surabaya, Senin, 24 Februari. Seminar dipandu Iksan Kamil Sahri (santrinews.com/istimewa)

Pesantren merupakan tempat emas dan berlian.

Surabaya – Mantan Ketua Lesbumi PBNU Dr Zastrouw Al Ngatawi memaparkan batasan toleransi dalam beragama. Menurutnya, banyak orang salah paham tentang sikap toleran. Sikap toleran ini pada ranah muamalah, bukan akidah.

“Termasuk perilaku orang lain beribadah menurut keyakinannya, hal itu harus ditoleransi. Batasannya kalau di muamalah adalah kemaslahatan, kemudharotan, adil, dan dhalim,” tegasnya.

“Kalau di akidah ketika sudah dipaksa untuk mengikuti akidah atau memaksa mengikuti cara ibadah ritual formal kalangan lain.”

Hal itu disampaikan Zastrouw saat menjadi pembicara di acara seminar nasional di ruang Auditorium STAI Al Fithrah Surabaya, Senin 24 Februari 2020. Ia tampil bersama budayawan nasional D Zawawi Imron.

Baca juga: Dua Budayawan Ingatkan Syiar Islam Toleran melalui Seni Budaya

Seminar bertema “Menumbuhkan Nilai Agama Islam yang Toleran melalui Seni dan Budaya di Era Kekinian” yang digelar BEM STAI Al Fithrah ini merupakan puncak dari rangkaian Festival Alit III Nasional 2020 yang berlangsung selama seminggu dengan berbagai perlombaan.

Batasan toleransi dalam Islam, menurut Zastrouw adalah nilai-nilai dan ajaran Islam yang membentuk perilaku umat Islam untuk bersikap tenggang rasa terhadap pemikiran, sikap dan perilaku kelompok lain yang berbeda.

Zastrouw juga menyoroti era kekinian banyak tenaga manusia digantikan mesin dan manusia sudah mulai bisa mengembangkan dunia digital secara revolutif serta kecerdasan buatan.

“Maka peran penting menyapa anak-anak generasi milenial dan generasi Z ini sangat penting melalui media sosial dan platform lainnya. Karena hal tersebut menembus batas wilayah dan ideologi,” tegasnya.

Lebih lanjut ia mengingatkan para santri bahwa pesantren merupakan tempat emas dan berlian. “Silakan asah dan kembangkan. Jangan sampai kita menjadi bangsa kera yang membuang emas permata hanya untuk sebuah pisang,” pungkasnya.

Baca juga: Prof KH Imam Mawardi: Penuhi Kewajiban, Negara Butuh STAI Al-Fithrah

Seminar yang dimoderatori Iksan Kamil Sahri itu diawali dengan pembacaan tawasul dan istighasah serta ditutup dengan penampilan stand up comedy oleh Fuad Adi Samita, juga penampilan pembacaan musikalisasi puisi karya dua maestro puisi Indonesia D Zawawi Imron dan Gus Mus oleh mahasiswa STAI Al Fithrah.

Koordinator pelaksana seminar nasional M Nasrullah mengatakan acara ini diselenggarakan untuk membangun kembali kecintaan dari kalangan muda untuk lebih semangat kembali dalam menebarkan nilai-nilai keislaman yang toleran dengan cara bergerak di bidang seni maupun budaya. (red)