Opini

Puasa Membentuk Manusia Paripurna

Minggu, 17 Mei 2020 07:30 wib

...

Puasa dalam pengertian umum adalah menahan diri dari makan, minum dan melakukan hubungan suami istri mulai dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari.

Pada definisi diatas menunjukkan bahwa poin utama dari puasa adalah menahan diri (nafsu), agar tidak melakukan perbuatan yang melanggar ajaran agama. Pun, puasa bukan hanya upaya menahan diri dari sesuatu yang membatalkan puasa semata seperti yang dijelaskan dalam kitab-kitab fikih.

Menuju puasa yang berkualitas itu, tentu tidak hanya mempraktikkan puasa dengan pengertian umum diatas, tapi lebih menekankan kepada pentingnya melawan hawa nafsu dan menjaganya agar tidak liar dengan menabrak larangan-larangan Tuhannya. Sebab, nafsu yang tidak terkendali akan mengantarkan manusia pada jurang-jurang kesesatan dengan bentuk melawan perintah Tuhan dengan cara yang biadab.

Padahal nafsu yang tidak dapat dikendalikan dengan baik (liar) tidak akan mampu memperoleh derajat kemanusian, begitu juga dengan puasanya tidak membawa kepada ketakwaan yang paling tinggi dihadapan Tuhan.

Imam al-Ghazali dalam kitab Ihya’ Ulumiddin mengklasifikasi tiga tingkatan puasa. Pertama, puasanya orang awam, dalam arti orang yang melaksanakan puasa cukup menahan diri dari makan, minum dan berhubungan suami istri.

Kedua, puasanya orang khawwash atau ada yang menyebutkan dengan puasanya orang khusus, dimana ia melaksanakan puasa tidak hanya menahan diri dari makan, minum dan juga berhubungan suami istri, melainkan mengharap timbal balik dari Tuhan berupa pahala.
Ketiga, puasanya orang khawashul khawash atau dalam istilah yang lebih pupoler puasanya orang khususul khusus. Orang semacam ini tidak terkunci oleh definisi umum diatas dan juga tidak berharap balasan setimpal dari Tuhan atas amal yang diperbuatnya. Namun ia lebih kepada ketulusan hati dalam melaksanakan perintah Tuhan dan dia tidak memperkarakan apakah Tuhan memberi balasan atau tidak atas amal yang dilakoninya. Ia lebih kepada mengamalkan tugas kehambaannya dengan penuh cinta dan keikhlasan.

Realitanya, mayoritas orang yang melaksanakan puasa hanya sekedar menahan diri dari makn, minum dan berhubungan intim antara suami-istri ditambah keinginan yang kuat agar mendapatkan ganjaran pahala Tuhan. Sehingga dengan model puasa semacam ini, ada yang beranggapan bahwa pada hakikatnya tidak mampu menahan keinginan nafsu.

Dan karena ini, dia akan berpotensi untuk melakukan tindakan-tindakan yang melanggar perintah agama, seperti senang berbuat ghibah, hasud, takabbur, riya, sum’ah dan melakukan terhadap penyakit hati yang lainnya.

Padahal nabi telah memberikan peringatan dengan tegas dalam sebuah haditsnya, bahwa seseorang yang melaksanakan puasa hanya menahan diri dari makan, minum dan melakukan hubungan seks antara suami istri mulai dari terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari, tapi masih istikamah melaksanakan dosa-dosa pada anggota badan lainnya, itu tidak akan memperoleh balasan yang baik dari Tuhan yang akan didapatkannya hanya haus dan lapar.

Puasa Menuju Insan Paripurna
Puasa yang memiliki nilai yang sempurna baik dihadapan manusia terutama dihadapan Tuhan adalah puasa yang beroreintasi pada pengekangan nafsu (ego). Karena dengan pengekangan nafsu ini, seseorang akan melaksanakan puasa dengan penuh kesungguhan dan ketundukan, bukan hanya sekedar melaksanakan puasa secara formalistik. Dan membentengi diri agar tidak terdorong oleh kepentingan-kepentingan nafsu yang bersifat sementara, melainkan menjadikan puasa sebagai media untuk mendesain diri menuju insan paripurna.

Tentu, pada situasi pandemi covid-19 saat ini, banyak jalan untuk menjadikan puasa agar puasa lebih bermakna dan berkualitas.

Diberlakukannya stay at home, merupakan kesempatan yang sangat besar untuk mengendalikan nafsu agar tidak melakukan perbuatan-perbuatan maksiat. Waktu yang dihabiskan di rumah bisa diisi dengan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat seperti membaca al-Qur’an, baca buku, menulis, berdialog dengan keluarga dan mengisi waktu untuk hal-hal yang positif.

Dalam beberapa literatur yang pernah saya baca, berdiam dirumah bagi seseorang bisa bisa mengantarkan seseorang menjadi produktif, karena mempunyai waktu banyak.

Kita bisa melihat kembali, kebanyakan para ulama-ulama besar melahirkan karya karena mampu mempergunakan waktu diamnya dengan baik, meski diam dirumah dan juga diam dirumah tahanan karena di penjara. Dan juga, mereka mampu melakukan muhasabah dengan baik, sehingga menjadikan diri mereka menjadi manusia yang “sempurna”.

Nabi Muhammad SAW, mewujudkan pengemblengan diri beliau salah satunya dengan cara bertapa di gua hira. Ini merupakan pelajaran bagi ummatnya, bahwa uzlah dari keramaian dunia menuju tempat yang lebih tenang supaya tidak terpancing oleh hiruk-pikuk dunia merupakan media yang paling efektif di dalam membentuk diri menuju insan paripurna.

Walhhasil, manusia yang memiliki akal sehat tidak akan menyia-nyiakan puasa yang dikerjakannya. Ia akan terus melakukan mujahadah agar puasanya mampu membentuk karakter yang lebih baik, sikap yang lebih sempurna dan kepribadian yang utuh.

Sesuai dengan perintah Tuhan di dalam al-Qur’an, yang artinya “Diwajibkan atas kamu sekalian berpuasa, sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian menjadi orang yang bertakwa”.

Ketakwaan itu bisa didapatkan oleh seseorang apabila mampu membentuk dirinya menjadi insan paripurna. Wallahu’alam. (*)

Ponirin Mika, Ketua Lakpesdam MWCNU Paiton dan Anggota Community Of Critical Social Research Probolinggo.