Opini

Urgensi Zakat Fitrah di Tengah Pandemi Corona

Senin, 18 Mei 2020 20:30 wib

...

Ajaran Islam di samping berdimensi spiritual tentu juga berdimensi sosial. Salah satu ajaran tersebut adalah puasa (shiyam). Puasa adalah ibadah dan nilai-nilai keimanan yang mampu mempengaruhi kepribadian seseorang. Berkat puasa kepribadian seseorang seolah-seolah melonjak naik dari yang sebelumnya.

Hakikat puasa adalah memberikan makna ibadah sebagai kewajiban yang harus dilakukan. Sedangkan tujuan puasa adalah untuk menjaga dan melestrikan kehidupan manusia. Tapi yang terpenting adalah menjaga keseimbangan antara tuntutan individu dan kebutuhan sosial masyarakat.

Puasa Ramadhan selain berdimensi ibadah dengan melaksanakan kewajiban yang diperintahkan agama juga berkorelasi dengan kehidupan umat Islam yang masih terbelakang secara ekonomi, hidup dalam kelompok-kelompok kecil di wilayah-wilayah kumuh sudut kota, anak jalanan dan ibu jompo yang kekurangan ekonomi, mestinya menjadi perhatian kita semua sebagai tanggungjawab sosial.

Puasa Ramadhan yang dilakukan dalam waktu tertentu akan mampu menumbuhkan rasa kebersamaan yang kuat sehingga ekspresi kesadaran atas sesuatu secara kolektif dapat berkembang. Kolektifitas yang muncul secara berulang-ulang sekaligus mendapatkan legitimasi agama akan mengandung kekuatan sakral.

Sementara itu, punishment atau balasan yang diberikan pada orang yang tidak melaksanakan puasa sejalan dengan perilaku manusia yang cenderung membangkang dari aturan. Punishment merupakan langkah antisipatif atas perilaku yang kontraproduktif bagi pencapaian target-target spiritual-sosial puasa. Sehingga mendorong umat Islam untuk tertib aturan dan bersama-sama konsisten mewujudkan agenda-agenda spiritual-sosial.

Punishment yang berkaitan dengan Ramadhan inilah, yang menjadikan kelompok muslim tampak menjadi sebuah perkumpulan masyarakat beragama “dipaksa” untuk menciptakan kepastian, mempunyai antusiasme spiritual dan sosial, sekaligus melakukan perubahan sosial secara radikal dan meluas.

Namun demikian, puasa kali berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Di samping menghadapi lapar dan dahaga, kita juga dihadapkan pada situasi dimana masyarakat harus tetap di rumah agar terhindar dari coronavirus disease (Covid-19) atau populer dengan sebutan virus corona.

Wabah Covid 19 ini tidak hanya menghadirkan suasana ketakutan sosial tapi juga menghadirkan ketakutan ekonomi. Karena untuk mencegah penularan Covid-19 itu, pemerintah Indonesia menerapkan social distancing (pembatasan sosial) dan physical distancing (jaga jarak), sehingga memunculkan beberapa masalah baru.

Kesenjangan Ekonomi
Sebagaimana kita ketahui, pandemi Covid-19 ini tidak hanya memporakporandakan nyawa manusia, tapi juga telah menghancurkan tatanan ekonomi masyarakat, baik secara nasional maupun secara global. Tidak hanya orang miskin yang sasaran dampak Covid-19 ini tapi juga berbagai lapisan masyarakat, termasuk para kelompok menengah dan kaya.

Situasi ini tentu sangat mengancam terhadap eksistensi ekonomi nasional. Para pelaku usaha bisa jatuh miskin akibat pandemi, lebih-lebih mereka yang berada dalam taraf ekonomi menengah ke bawah.

Akibat gempuran Covid-19 tersebut, secara perlahan telah menimbukan kesenjangan ekonomi di masyarakat. Betapa tidak, mereka yang biasa kerja di luar seperti berdagang, berjualan keliling, ke pasar ataupun bidang jasa, seperti supir angkot, travel dan lain sebagainya. Para pelaku-pelaku usaha ini, lumpuh total karena tidak lagi bisa beroperasi secara bebas lalu lalang kesana kemari mencari penghasilan. Sebab, dimana-mana terdapat pembatasan aktivitas sosial dan ekonomi.

Begitu juga dengan buruh yang bekerja di beberapa perusahaan yang terkena dampak Pandemi Covid 19 ini, mereka bukan hanya akan jatuh miskin tapi juga akan kehilangan pekerjaannya karena banyak perusahaan-perusahaan yang tutup. Akibatnya, merekapun tidak lagi bisa menafkahi keluarganya secara maksimal, dan bisa jadi harus membongkar tabungannya atau menjual barang-barang yang dikoleksinya sejak lama. Tentu situasi itu semakin menyulitkan bagi masyarakat yang tidak memiliki penghasilan tetap, terutama dalam menjalani ibadah puasa ini.

Potensi Zakat Fitrah
Untuk mengatasi kesenjangan ekonomi akibat pandemi Covid-19 tersebut, hemat saya pemerintah dan pemangku kebijakan perlu memanfaatkan zakat fitrah sebagai solusi krisis ekonomi yang dihadapi masyarakat yang terdampak.

Melalui pengumpulan zakat fitrah, kita bisa menyalurkannnya kepada mereka yang ekonominya porakporanda akibat kehilangan mata pencahariannya. Disinilah sebenarnya esensi sosiologis dari diwajibkannya zakat fitrah bagi umat islam yakni untuk membantu fakir miskin agar bisa menikmati hari raya idul fitri.

Kewajiban berzakat tersebut sebenarnya memiliki beberapa nilai yang di antaranya; Pertama, sebagai sarana untuk membersihkan harta. Kedua, sebagai ungkapan syukur atas nikmat yang Allah berikan.

Ketiga, menghindari kesenjangan sosial antara si kaya dan si miskin. Keempat, mewujudakan keseimbangan dalam distribusi harta, dan keseimbangan tanggung jawab individu dalam masyarakat. Dan kelima, mewujudukan solidaritas sosial, rasa kemanusian dan keadilan, ukhuwah islamiyah, persatuan ummat, dan pengikat batin antara yang kaya dengan yang miskin.

Dalam konteks itulah, zakat fitrah bisa menjadi sarana untuk meretas ketimpangan ekonomi masyarakat akibat pandemi. Sebab, jumlah kemiskinan semakin meningkat akibat pandemi, maka kewajiban zakat fitrah harus benar-benar diamalkan. Idealnya setiap individu muslim yang telah berpuasa mempunyai kepedulian sosial.

Sikap ini termasuk modal dasar bagi upaya pengikisan perbedaan kelas sosial ekonomi masyarakat. Kelompok masyarakat yang mempunyai kepedulian sosial berpotensi mampu menyelesaikan persoalan sosial ekonomi kelompoknya.

Akhirnya, sebagai bentuk gagasan, para stakeholder, tokoh masyarakat dan pemerintah bisa mengkoordinir zakat fitrah untuk disalurkan kepada saudara-saudara kita yang terdampak Pandemi Covid 19 tersebut.

Dengan pola ini, saya berkeyakinan bahwa problematika ekonomi yang dihadapi masayarakat terdampak akan sedikit teratasi, terutama di masa-masa menjelang hari raya idul fitri. Karena sebagai makhluk sosial sudah menjadi kewajiban dan tanggung jawab bersama agar saudara-saudara kita yang terdampak pandemi pada hari fitri nanti semua merasakan kenikmatan yang kita rasakan.

Di sinilah titik strategis umat Islam, di mana ia memiliki konsepsi dalam pengentasan kemiskinan. Wallahu A’lam. (*)

Mushafi Miftah, Dosen Universitas Nurul Jadid Paiton Probolinggo dan Kandidat Doktor di Universitas Jember.