Opini

Fakta-Fakta dan Akar Kebohongan Dakwah HTI

Selasa, 08 September 2020 08:00 wib

...

Jika keseluruhan ajaran Syiah adalah pancaran dari pemahaman mereka tentang konsep Imam (imamah/imamologi), maka kesemua kegiatan Hizbut Tahrir berasal dan kembali ke Amir Hizbut Tahrir atau amirologi.

Hizbut Tahrir menganut doktrin kepemimpinan tunggal secara mutlak. Hizb huwa amir; Amir huwa hizb. Amir Hizbut Tahrir sangat berkuasa. Dia berhak mengangkat dan memberhentikan pengurus Hizbut Tahrir. Dia memiliki otoritas penuh untuk mengelola dana Hizbut Tahrir dari seluruh dunia. Dia juga punya wewenang mengubah dustur partai (AD/ART) dan rancangan dustur Khilafah (UUD Khilafah). Dan hanya dia yang boleh menentukan dan merevisi kitab-kitab halaqah.

Pengurus HTI sering menyebutnya Preskom (Presiden Komisaris). Kode rahasia yang tidak diketahui kebanyakan anggota dan simpatisan HTI. Hizbut Tahrir sangat menjaga kerahasiaan keberadaan Amirnya. Konon katanya Amir Hizbut Tahrir buronan intelejen di dunia. Posisi Amir Hizbut Tahrir selalu berpindah-pindah. Dia tidak akan berada di satu tempat lebih dari 3 hari.

Teka teki siapa Khalifah ketika kekuasaan berhasil diraih HTI, dijawab dengan gamblang oleh Ustaz Hafidz Abdurrahman (otoritas tertinggi HTI di bidang tsaqafah Islamiyah) di website HTI beberapa tahun lalu sebelum ditutup. Dia mengatakan kader terbaik partailah (maksudnya kader terbaik Hizbut Tahrir) yang akan jadi Khalifah jika HTI berhasil meraih kekuasaan. Siapa kader terbaik Hizbut Tahrir? Ya, pasti Amir Hizbut Tahrir yang bernama Syaikh Atha Abu Rusytah dari Palestina, sekarang berumur 75 tahun.

Jika syabab (pemuda) HTI jeli, sebenarnya isyarat bakal diserahkannya kekuasaan Khalifah kepada Amir Hizbut Tahrir termaktub di kitab at-Takattul Hizbi yang mereka halaqahkan setelah selesai kitab Nizhamul Islam.

Isyarat itu lebih jelas lagi di kutaib (booklet) suplemen kitab at-Takattul Hizbi yakni Dukhul Mujtama’, Nuqthatul Intilaq dan Tahrik Siyasi. Singkat kata HTI sedang memperjuangkan Amirnya jadi Khalifah layaknya PDIP memperjuangkan kader terbaik mereka Jokowi jadi Presiden atau seperti Partai Gerindra memperjuangkan Prabowo jadi Presiden.

Sah-sah saja HTI memperjuangkan Amirnya jadi Khalifah, hanya saja metode peraihan kekuasaan oleh Amir Hizbut Tahrir yang tidak melalui proses pemilihan secara terbuka sangat bertentangan dengan tradisi suksesi Khulafaur Rasyidin. HTI menetapkan thalabun nushrah sebagai metode suksesi kepemimpinan negara dengan alibi thalabun nushrah merupakan metode Nabi Saw mendirikan daulah Islam.

Thalabun nushrah adalah teori peralihan kekuasaan yang dirumuskan oleh Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani berdasarkan pemahamannya tentang Sirah Nabawiyah. Teori ini mencita-citakan diperolehnya kekuasaan secara cuma-cuma (gratis) tanpa syarat karena faktor kepercayaan pemilik kekuasaan kepada Hizbut Tahrir.

Teori ini merujuk kepada penyerahan kekuasaan pemimpin kaum ‘Aus dan Khazraj di Yatsrib kepada Rasulullah Saw. Menerima kekuasaan secara cuma-cuma karena faktor kepercayaan inilah mimpinya HTI. Cara HTI memanen kekuasaan sangat naif dan utopis. Mana ada di dunia ini seorang Presiden, Raja, Sultan, Perdana Menteri, panglima militer yang mau menyerahkan kekuasaanya kepada Hizbut Tahrir.

Mengasumsikan kepribadian Amir Hizbut Tahrir sama dengan kepribadian Nabi Saw sehingga sama-sama dipercaya untuk menerima kekuasaan secara gratis, jelas asumsi konyol. Muhammad Saw itu Nabi dan Rasul. Dari kecil sudah dikenal kejujurannya. Lah ini, Amir Hizbut Tahrir siape lho! Jangankan mengetahui sifat-sifat pribadinya, wajahnya saja tidak dikenal orang.

Ustaz M Shiddiq al-Jawi (ahli fiqih HTI) pada tulisannya di majalah al-Wa’ie, edisi Mei 2011 merinci teknis thalabun nushrah. Thalabun nushrah dilakukan oleh tim kecil. Paling banyak 5 orang. Tim ini disebut lajnah thalabun nushrah langsung di bawah supervisi Amir Hizbut Tahrir. Tim ini bertugas mendekati, membina dan mengarahkan pemilik kekuatan bersenjata (perwira tinggi dan menengah) untuk mendapatkan nushrah.

Nushrah di sini maksudnya kekuasaan. Kekuasaan diambil melalui jalan damai dulu, jika gagal mau tidak mau dengan kekuatan senjata. Pada kenyataannya mana ada penguasa (Presiden, Raja, Sultan) yang mau menyerahkan kekuasaan secara gratis kepada Hizbut Tahrir, maka pasti Hizbut Tahrir menggunakan kekuatan senjata dari pasukan yang dipimpin oleh perwira tinggi atau menengah yang mereka bina. Dengan kata lain, kudeta militer.

Kita bisa simpulkan bahwa semua aktivitas HTI semata-mata untuk meraih kekuasaan yang nantinya akan diserahkan kepada Amirnya melalui jalan kudeta. Untuk mengkaburkan tujuan akhir gerakan mereka HTI mengklaim thalabun nushrah sebagai metode Rasulullah Saw dalam mendirikan daulah Islam.

Klaim ini bertentangan dengan fakta. Kenyataannya di Madinah Rasulullah Saw mendirikan daulah Nubuwwah bukan daulah Khilafah. Beliau Saw sangat layak menerima kekuasaan dari umatnya karena posisinya sebagai Nabi dan Rasul.

Rasulullah Saw tidak pernah mendirikan Khilafah karena Khilafah justru didirikan para sahabat setelah Beliau Saw wafat. Para sahabat mendirikan Khilafah yang ditandai dengan pemilihan Khalifah dengan cara musyawarah dan pemilihan secara terbuka. Keempat Khalifah di masa Khulafaur Rasyidin tidak pernah melakukan gerakan politik, thalabun nushrah dan kudeta.

Di sinilah HTI berbohong atas nama Nabi Saw ketika mengatakan mereka mengikuti metode Rasulullah Saw dalam mendirikan. Sekali lagi bagaimana Rasulullah Saw punya metode untuk mendirikan Khilafah lah wong Rasulullah Saw sendiri tidak pernah mendirikan Khilafah kok.

Muhammad Saw diutus Allah Swt untuk menyampaikan risalah Islam. Mengajak kaumnya beriman kepada Allah Swt dan hari akhir dan untuk menyempurnakan akhlak mereka. Kekuasaan politik bukan tujuan dakwahnya karena kekuasaan politik itu menyatu dengan kenabian dan kerasulannya. Muhammad Saw tidak perlu thalabun nushrah kalau mau berkuasa karena Beliau Saw sejak awal sudah jadi pemimpin umat manusia.

Beliau Saw mendatangi para pemimpin suku di Jazirah Arab agar mereka beriman kepada Allah Swt dan Rasul-Nya. Beliau Saw dalam dakwah sama sekali tidak berpretensi untuk mengambil alih kekuasaan dari para pemimpin Arab.

Dusta Hizbut Tahrir atas nama Nabi Saw yang terbesar adalah mereka mengatakan mengikuti metode nubuwwah berdasarkan sirah nabawiyah dalam memperjuangkan Amirnya jadi Khalifah dengan cara kudeta militer. (*)

Ayik Heriansyah, Pengurus Lembaga Dakwah PWNU Jawa Barat.