Opini

Inagurasi Presiden Joe Biden dan Mimpi Para Pendiri Bangsa

Selasa, 19 Januari 2021 06:30 wib

...

Inagurasi Presiden Biden, hakikatnya, inagurasi mimpi para pendiri bangsa. Mimpi seluruh rakyat AS

Ratusan juta mata penduduk dunia tertuju ke Washington DC, Ibu kota Amerika Serikat yang menjadi tempat presiden berkantor di White House dan anggota Kongres bersidang di Capitol Hill. Kota ini didirikan George Washington, presiden AS ke-1 pada 16 Juli 1790.

Washington merupakan distrik khusus yang semula bagian wilayah dari Maryland dan Virginia. Luas wilayah ibu kota ini 10 mil atau 16 km dari berbagai sisi. Total luas 100 mil atau 260 km.

Washington DC dihuni oleh 600 ribu lebih penduduk, dan kalau siang bisa mencapai 1 juta lebih penduduk. Jumlah penduduknya terkendali, tata ruang diatur apik, kotanya indah, bersih dan rapi. Para petinggi AS bermukim bersama dengan 176 duta besar negara asing.

Saya pernah menikmati udara kota yang dirancang oleh ahli planologi terkemuka Prancis, Pierre Peter Charles L’Enfant pada 2016. Sempat bermalam dan berkunjung ke Kedutaan Besar Indonesia di AS. Sambil berziarah ke monumen-monumen bersejarah yang ada di kota itu.

Tak bisa dibayangkan, penyerbuan Capitol Hill pada Rabu, 6 Januari 2021, tanpa seizin penguasa wilayah. Tudingan Presiden Donald Trump ikut menggerakkan massa pendukung, adalah fakta bukan retorika. Karena itu, Trump patut disalahkan, bahkan harus bertanggungjawab terhadap pemberontakan presiden berkuasa pada United State of America (USA), yang menelan korban 6 orang tewas. Sistem pengamanan di gedung tersebut, sangatlah ketat. Namun massa Trump mampu membobol sehingga sempat menguasai gedung rakyat itu selama 9 jam.

Menjelang inagurasi Presiden Joe Biden, Washington DC dijaga ketat 25 ribu Pasukan Garda Nasional AS. Akses ke kota ditutup. Hanya para pejabat tinggi dan undangan yang bisa masuk. Tiga mantan Presiden: Bill Clinton, George W Bush, dan Barack H Obama sudah mengkonfirmasi kehadirannya pada pelatikan Presiden Biden. Presiden Trump sudah menyatakan tak akan hadir, dan akan angkat kaki dari Gedung Putih pada Rabu, 20 Januari 2021, sebelum acara pelantikan.

Pentagon menolak permintaan Presiden Trump untuk menggelar parade militer guna melepas kepergiannya yang memasuki masa purna tugas. Penolakan ini terkait insiden kekerasan massa Trump yang mengancam demokrasi, tradisi, hukum dan sejarah AS. Sama halnya dengan resolusi pemakzulan Trump oleh DPR AS yang ke-2 kali. Resolusi yang diprakarsai oleh anggota dewan dari Partai Demokrat dan 10 Republikan.

Trump pergi dari singgasana kepresidenan tanpa upacara penghormatan, juga tanpa ucapan terima kasih dari para pejabat dan rakyat atas jasa-jasanya pada kemajuan AS. Ia Justru meninggalkan “noktah hitam” bagi sejarah AS itu sendiri. FBI bahkan mensinyalir ancaman protes bersenjata dari massa Trump di 50 ibu kota negara bagian.

AS mendapat ujian terberat dari anak rahim demokrasinya sendiri. Trump belum bisa move on atas kekalahan pada Pilpres November 2020 lalu. Sampai-sampai Perusahaan Twitter mensuspend akun twitter Trump yang sudah diikuti oleh 88 juta followers, disebabkan penyebaran berita hoax, serta penghasutan untuk menolak hasil pemilu presiden yang dinilai penuh kecurangan.

Padahal, pelaksanaan Pilpres AS berjalan dengan free and fair. Tak ada satu pun bukti yang mendukung tuduhan Trump bahwa suaranya hilang dan dicuri oleh Biden. Kecurangan itu hanya cerita ilusi, sama dengan teori konspirasi Qanon bahwa dunia dijalankan oleh elite pedofil internasional yang terlibat perdagangan anak global. Penganut teori ini menganjurkan kekerasan, menyebarkan kebencian dan antisemitisme, di dunia maya.

Anne Summers, seorang kolumnis Fairfax Media, di Sydney Morning Herald, menulis opini berjudul Biden’s New Cabinet Embraces Age and Diversity, bahwa kabinet Biden mencakup usia dan keragaman. Ini terbukti dari 24 anggota kabinetnya, komposisi laki dan perempuan berimbang dan mayoritas kulit berwarna. Dengan bangga Biden menyatakan: “ia memiliki lebih dari selusin penunjukan sejarah, termasuk menteri keuangan wanita pertama, dekretari pertahanan Afrika-Amerika pertama, anggota kabinet gay pertama, sekretaris kabinet Pribumi Amerika pertama”.

Anggota kabinet Biden rerata berusia 58,5 tahun. Dan 46 persen berusia 60 sampai 70 tahunan. Suatu kabinet berisi orang-orang yang berpengalaman untuk segera mungkin membawa misi America Is Back untuk membangun kembali ekonomi, mengatasi pandemi covid-19, perubahan iklim dan ketidakadilan rasial.

Susunan kabinet dan jargon pemerintahan Biden menjawab teori konspirasi Qanon di atas, bahwa AS itu bukan sekadar contoh tapi memiliki keteladanan yang kuat bagi dunia dalam mengelola gap generasi dan keragaman penduduk. Kebencian dan tindakan rasial yang marak, justru mengubur cita AS yang diimpikan oleh Martin Luther King Jr, pejuang antirasial tersebut terkenal dengan pidatonya: I Have a Dream. Sebuah mimpi AS tanpa diskriminasi ras. Semua punya hak sipil dan ekonomi yang sama. Di tanah perbudakan dan kebencian AS, ada kebebasan dan kesetaraan.

Ala kulli hal, inagurasi Presiden Biden, hakikatnya, inagurasi mimpi para pendiri bangsa, seperti Presiden Washington, juga pejuang kemanusiaan, seperti Luther King, serta mimpi seluruh rakyat AS yang telah memberi suara kepada Biden. Sebuah harapan yang menginginkan AS sebagai inti kekuatan perdamaian dunia yang abadi berdasarkan kemerdekaan dan keadilan sosial.

Moch Eksan, Pendiri Eksan Institute.