Opini

Sesaji dan Dakwah

Selasa, 11 Januari 2022 23:30 wib

...

Jaman dulu, untuk mendakwahkan Islam di Nusantara bukan sesuatu yang mudah. Mengingat bangsa ini telah memiliki budaya yang sangat tinggi.

Maka para wali menggunakan adat yang ada sebagai pintu masuk dakwah. Sebab, bisa dinisbatkan dalam nash suci Al-Quran bahwa jaman dulu Kanjeng Nabi juga melakukan hal yang serupa.

Ada tradisi Arab pra Islam yang tetap diperbolehkan apa adanya seperti penetapan bulan-bulan haram. Ada pula yang dimodifikasi seperti aqiqah. Ada pula yang ‘didandani’ sedemikian rupa seperti thawaf mengelilingi ka’bah.

Demikian pula para awalul mukminin di Nusantara, mereka juga melakukan hal yang sama. Salah satunya, ketika menyaksikan ada orang pasang sesaji maka tidak diberantas melainkan diarahkan baik niat maupun bentuk ritualnya.

Niat yang semula sebagai sarana pemujaan kepada makhluk halus, diarahkan menjadi berdoa kepada Gusti Allah. Ubo rampe sesaji yang berupa makanan yang dibiarkan di lokasi diganti dengan dibagikan kepada manusia dan menjadi sedekah. Adapun yang tidak bisa dimakan seperti bunga, daun, kayu, batu dan sebagainya tentu dibiarkan saja.

Sehingga hal ini sangat memudahkan kita dalam berdakwah saat ini. Kita adalah Umat Islam. Umat Nabi Muhammad SAW. Yang kita percaya sepenuhnya bahwa tidak ada Nabi dalam bentuk dan definisi apapun yang hadir setelah Kanjeng Nabi Muhammad SAW.

Sehingga ketika melihat sesuatu yang dipandang tidak semestinya maka tinggal dikembalikan saja, minimal seperti pendahulu kita, para wali panutan.

Misalnya, jika kita masih menyaksikan ada sesaji yang berupa makanan dan minuman digeletakkan begitu saja, maka sebaiknya diarahkan agar disedekahkan kepada warga.

Jika ada doa atau japa mantra yang masih bernada minta tolong kepada makhluk halus, maka tinggal diluruskan agar berdoanya kepada Gusti Allah.

Jika masih ada yang mempercayai ada benda-benda di luar kuasa Gusti Allah bisa mendatangkan manfaat atau mudlarat, di situ menjadi peluang dakwah kita.

Tentu dakwah dengan kebenaran dan dilaksanakan tanpa harus menyakiti atau melukai kelompok yang didakwahi. Mengembalikan adat supaya tidak menabrak syariat membutuhkan cara yang santun. Di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung.

Sangat berharap kejadian merendahkan adat istiadat dan ritual yang ada di Nusantara tidak terjadi. Seandainyapun itu dilakukan oleh kaum Muslimin, maka tugas kita untuk saling mengingatkan pada batas-batasnya.

Lalu bagaimana jika ternyata yang melakukan bukanlah kaum Muslimin? Penghayat kepercayaan tertentu misalnya? Tentu hal ini sangat menyinggung kepercayaan yang sepatutnya dilindungi oleh negara.

Salam bhinneka tunggal ika. Salam persatuan Indonesia. (*)