Opini

Pesantren Nurul Jadid dan Kiprah KH Zaini Muim Cetak Pejuang Bangsa

Minggu, 24 Mei 2015 16:18 wib

...

Pesantren merupakan salah satu unsur penting dalam dinamika sejarah bangsa Indonesia. Secara historis, pesantren telah “mendokumentasikan” berbagai peristiwa penting, baik sejarah sosial, budaya, ekonomi maupun politik bangsa Indonesia.

Sebagai lembaga pendidikan, peran utama pesantren tentu saja menyelenggarakan pendidikan keislaman kepada para santri. Namun, dari masa ke masa, pesantren tidak hanya berperan dalam soal pendidikan, tetapi juga peran-peran sosial bagi masyarakat di sekitarnya dan secara umum.

Menteri Agama H Lukman Hakim Saifudin mengatakan, pondok pesantren selalu hadir dalam kehidupan masyarakat. Pesantren selalu mencetak generasi untuk kemajuan bangsa dengan dilandasi keikhlasan dalam perjuangannya. Pesantren memiliki pendidikan yang khas.

Keberhasilan pendidikan pesantren terutama terkait kajian keagamaan bukan hanya sebatas konsepsi. Melainkan selalu mempraktekkan dan bersentuhan langsung dengan kehidupan masyarakat sekitar, baik dalam kapasitas dakwah maupun sebagai pemberdaya sosial ekonomi masyarakat. Hal inilah yang juga dilakukan oleh Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo sejak awal berdirinya hingga saat ini.

Pada awal-awal berdirinya, pesantren yang didirikan oleh Al Magfurlah KH. Zaini Abdul Mun’im atau dikenal KH Zaini Mun’im telah menjadi wahana mempersiapkan generasi bangsa yang berkarakter, berwawasan dan berdedikasi tinggi pada bangsa, masyarakat dan agama.

Pada saat yang bersamaan pondok pesantren Nurul Jadid juga menjadi media pemberdaya sosial ekonomi masyarakat. Terbukti dengan banyak berdirinya lembaga sosial seperti Yayasan Bantuan Sosial Nurul Jadid (YBSNJ) dan Balai Pengobatan Az-Zainiyah (BPANJ) dan Badan Pengembangan Pondok dan Masyarakat (BP2M) Nurul Jadid.

Mengenang Perjuangan KH Zaini Mun’im
Membincang perjuangan KH Zaini Mun’im sebenarnya tidak cukup untuk dijelaskan dalam satu hingga dua lembar kertas. Kiprah KH Zaini Mun’im di masyarakat begitu kompleks. Disamping sebagai pengasuh Kiai Zaini Mun’im juga di NU. Karirnya di NU dimulai sejak masih berada di Madura.

Pada saat berada di Karanganyar Paiton Probolinggo beliau diangkat menjadi Rois Surya PCNU Kraksaan dan selang beberapa tahun beliau diangkat menjadi Wakil Rois Surya PWNU Jawa Timur.

KH Zaini Mun’im merupakan sosok ulama pejuang. Hampir semua hidupnya dihabiskan untuk berjuang, mengabdi kepada masyarakat, bangsa dan agama. Bahkan pada masa penjajahan, KH Zaini Mun’in termasuk salah satu ulama yang paling getol menentang kesewenang-wenangan Belanda.

Itu dilakun sejak beliau berada di Madura hingga akhirnya ketika beberapa lama tinggal di Karanganyar Paiton beliau dijebloskan ke Penjara oleh Belanda karena dianggap sosok yang berbahaya dan mampu menggerakan masyarakat.

Meski demikian, semangat juang beliau dalam membela kebenaran tidak pernah pupus, walaupun harus berhadapan dengan polisi Belanda beliau tidak pernah takut untuk menyuarakan kebenaran.

Perjuangan tidak berhenti disitu saja. Pada G30/S/PKI beliau salah ulama yang menumpas keberadaan PKI di Probolinggo. Bahkan beliau konsultas Subhan ZE dalam membumi hanguskan PKI di Indonesia. Atas kegigihan dalam berjuang itulah, maka kiai Zaini mulai diperhitungkan oleh Tokoh-Tokoh Nasional seperti Presiden Suharto dan Ali Murtopo yang kala itu menjadi Ketua Golkar.

Bagi penulis, KH Zaini Mun’im adalah seorang pahlawan, pejuang sekaligus pendidik, da’i dan orang tua yang selalu istiqomah mengayomi santri dan masyarakat.

Perintis Pertanian Tembakau
Konon, pada awal kedatangannya di Desa Karanganyar (dahulu bernama desa Tanjung) Kecamatan Paiton Kabupaten Probolinggo, KH Zaini Mun’im tidak bermaksud mendirikan lembaga pendidikan pesantren. Beliau hanya ingin mengisolasi diri dari keserakahan dan kekejaman penjajah untuk selanjutnya melanjutkan perjalanan ke pedalaman Yogyakarta, menemui teman seperjuangannya.

Tapi sebelum cita-cita luhur itu terealisasi, KH Zaini Mun’im mendapat amanah dua orang santri. Keduanya mengaji di surau kecil yang berfungsi sebagai tempat shalat, juga ruang tamu, mengajar dan tempat tidur santri. Karena itulah, beliau mengurungkan niatnya dan menetap di Desa Karanganyar Kecamatan Paiton Kabupaten Probolinggo hingga akhirnya mendirikan Pesantren Nurul Jadid.

Dalam buku yang ditulis M Masyhur Amin dan M Nasikh Ridwan tentang KH Zaini Mun’im (Pengabdian dan Karya Tulisnya) dijelaskan bahwa KH Zaini Mun’im adalah seorang ulama yang memiliki kepedulian terhadap kondisi kemiskinan dan keterbelakangan rakyat akibat penjajahan dan kekejaman pemerintah kolonial Belanda.

Karena karakter KH Zaini Mun’im yang memiliki kepedulian tinggi terhadap kondisi sosial dan ekonomi masyarakatnya, maka pesantren yang didirikannya tersebut juga diformat untuk memiliki kepedulian yang tinggi dan ikut menciptakan pemberdayaan manusia dengan seutuhnya, sehingga KH Zaini Mun’im mulai dikenal di masyarakat karena keuletan dan keberanian serta ketabahannya.

Di samping itu, dua orang teman yang membantunya, yakni KH Munthaha dan KH Sufyan. Keduanya adalah santri yang ditugaskan oleh KH Hasan Sepuh (Pengasuh PP. Zainul Hasan Genggong, Kraksaan) untuk membantu KH Zaini Mun’im sambil mengaji kepada beliau. Memang kala itu, beliau sudah dikenal oleh masyarakat luas karena sering memberi bantuan kepada masyarakat, terutama keampuhan doa-doanya.

Setelah kesadaran beribadah masyarakat mulai tumbuh yang terbukti dengan dibangunnya beberapa Mushalla oleh masyarakat setempat, KH Zaini Mun’im memperkenalkan tanaman baru kepada mereka, yakni tembakau yang bibitnya dibawa dari Madura.

Awalnya, bibit tersebut sebagai percobaan di desa Karanganyar. Seiring perkembangan waktu, ternyata tanaman ini memang cocok dengan keadaan tanah di desa Karanganyar dan bisa mengangkat perekonomian masyarakatnya. Akhirnya, tanaman ini menjadi penghasilan pokok masyarakat Karanganyar dan bahkan masyarakat di luar Paiton. Pertanian tembakau sebenarnya salah satu strategi KH Zaini Mun’im dalam menyadarkan masyarakat Karanganyar yang terkenal jauh dari nilai moralitas terhadap ajaran agama Islam.

Berkat jerih payah KH Zaini Mun’im, akhirnya tembakau menjadi tanaman pokok Masyarakat Paiton, hingga akhirnya berdiri Pabrik-Pabrik Rokok, seperti Gudang Garam di Paiton dan Sampoerna di Kraksaan.

Setelah perekonomian masyarakat mulai meningkat melalui pemanfaatan tanah pertanian, mulailah dimasukkan ajaran dan nilai-nilai agama islam dalam kehidupan masyarakat Karanganyar. Hal lainnya adalah pendalaman ilmu agama melalui sistem pendidikan non formal. Pola pendidikan dan pembinaan semacam itu dilakukan, baik kepada santri maupun kepada masyarakat sekitar pesantren.

Pengajian kitab dilakukan dengan berbagai metode. Mulai dari bandongan, sorogan dan takhassus. Sementara itu pemberian makna dalam pengajian kitab kuning menggunakan bahasa indonesia. Sehingga pesantren Nurul Jadid merupakan pesantren pertama yang menggunakan bahasa Indonesia dalam menerangkan dan menterjemahkan kitab-kitab yang dikajinya.

Hal ini terbukti dengan pupusnya kepercayaan mereka terhadap roh ghaib dan semakin rendahnya kasus pencurian, pemerkosaan, perjudian, serta lenyapnya gembong PSK. Dan seiring itu pula, tumbuhlah semangat yang menyala-nyala dalam mempertahankan kehidupan menuju keluarga sakinah (keluarga bahagia dunia-akhirat).

Upaya perubahan yang dilakukan KH Zaini Mun’im bersama santri-santrinya terhadap masyarakat Karanganyar tersebut, kemudian dibalas dengan sikap simpati masyarakat berupa dukungan terhadap perkembangan pesantren Nurul Jadid. Di antaranya adalah dukungan masyarakat Karanganyar terhadap berdirinya Lembaga Pendidikan mulai Taman Kanak-kanak (TK) hingga Perguruan Tinggi (PT).

Pesantren yang diasuh KH Zaini Mun’im ini nampaknya mendapat pengakuan yang cukup luas di kalangan masyarakat. Terbukti dengan semakin banyaknya jumlah santri yang berdatangan dari segala penjuru tanah air, bahkan dari luar negeri (Singapura dan Malaysia).

Hal tersebut merupakan sekulumit dari sekian banyak kiprah dan perjuangan KH Zaini Mun’im dan masih banyak lagi pelajaran yang perlu kita petik dari keteladanan beliau. Atas jasa-jasa beliau, hingga saat ini pesantren Nurul Jadid telah melahirkan ribuan alumni, dan banyak berkontribusi untuk keberlangsungan hidup berbangsa dan bernegara melalui pendidikan yang dikembangkan oleh PP. Nurul Jadid.

Akhirnya, semoga diusianya yang ke 66 Pondok Pesantren Nurul Jadid tetap bersinar dan eksis menjadi lentera di tengah meredupnya nilai-nilai moralitas di masyarakat bangsa Indonesia. Akhirnya saya ucapkan selamat Harlah Pondok Pesantren Nurul Jadid yang ke 66 semoga tetap istiqomah mendidik generasi bangsa. Wallahu A’lam.

Mushafi Miftah, Alumnus Pondok Pesantren Nurul Jadid, kini Dosen Fakultas Syariah IAI Nurul Jadid Paiton Probolinggo.