Opini

Modus Politik PKS dan Lomba Kitab Kuning yang Asing bagi Kadernya

Selasa, 22 Maret 2016 08:52 wib

...
Pengumuman lomba baca kitab kuning oleh PKS (santrinews.com/bp)

Partai Keadilan Sejahtera (PKS) membuat sebuah gebrakan bagi kalangan santri dan pesantren. Pasalnya, dalam rangka ulang tahunnya yang ke-18, PKS membuat acara lomba membaca kitab kuning.

Tidak tanggung-tanggung, kitab yang dijadikan untuk lomba adalah kitab yang familier bagi kalangan pesantren atau mayoritas umat Islam di Indonesia yang bermadzhab Syafi’i, yaitu kitab Fathul Mu’in karya Syaikh Zainuddin bin Abdul ‘Aziz al-Malibari.

PKS merupakan partai kepanjangan tangan dari Ikhwanul Muslimin (IM) di Mesir yang kader-kadernya (termasuk di Indonesia) menaruh “dendam” terhadap pemerintah Mesir maupun ulama Al-Azhar. Kebencian mereka terhadap pemerintah Mesir dan institusi Al-Azhar disebarkan dalam berbagai media yang dikelola oleh kader dan simpatisannya, sampai detik ini.

Strategi PKS dengan membuat lomba membaca kitab ini, tentunya bak membuat kalangan santri dan pesantren “tersambar petir”, lebih-lebih partai politik yang berbasis NU, di mana identitas mereka sebagai nahdliyyin kini “diambil” alih oleh PKS, partai politik yang lahir dari ideologi transnasional. Mungkin inilah yang membuat PKB juga menggelar lomba baca kitab kuning yang levelnya lebih tinggi yaitu kitab tasawuf Ihya Ulumuddin.

Bagi kalangan santri dan pesantren, mereka sejak awal sudah menyadari bahwa PKS adalah partai yang satu barisan dengan kalangan Wahhabi. Dahulu kader-kadernya, anti terhadap tahlilan, anti maulid, anti terhadap ziarah kubur yang dilakukan masyarakat (seperti ziarah wali) dan lainnya, meskipun belakangan mereka mulai mengubah strateginya dengan menggelar peringatan maulid, ikutan tahlilan, bahkan Anis Matta (saat menjadi Presiden PKS) melakukan gebrakan dengan melakukan “Nyarkub” (ziarah kubur layaknya kaum nahdliyyin).

PKS boleh dikatakan cukup berhasil masuk ke sebagian kalangan pesantren, bahkan di Tebuireng sekalipun. Lebih-lebih pasca wafatnya Habib Munzir al-Musawa (pimpinan Majelis Rasulullah SAW) yang kemudian diganti oleh saudaranya, Habib Nabiel al-Musawa (yang bergabung dengan PKS). Tentu saja, itu adalah peluang bagi PKS untuk semakin menarik simpati masyarakat, apalagi ada Habib Salim Segaf al-Jufri.

Ulama-ulama tersebut memang memberikan warna di PKS sehingga yang awalnya “bau wahhabi” didalamnya sangat menyengat, mulai tidak terlalu bau (walaupun bau tentu ada). Namun, perlu diketahui bahwa kader-kader PKS seperti halnya Ikhwanul Muslimin adalah kader-kader yang militan. Mereka memang bisa “melunak” dengan amaliyah-amaliyah umat Islam tersebut tetapi tetap tidak akan melunak dengan cita-cita mereka.

Dengan kata lain, bisa dibilang bahwa mereka hanya sedang menggunakan cara-cara atau strategi tersebut untuk mencapai apa yang mereka citakan. Saat ini, ulama-ulama tersebut cukup bisa “meredam” kader-kader militan di PKS, tetapi itu hanya sementara saja.

Kader PKS dan Kitab Fathul Mu’in
Bagi sebagian orang pesantren yang berada di barisan PKS, mereka tentunya sangat mengenal kitab fiqih karya ulama Syafi’i dari Malabar, yaitu Fathul Mu’in bi Syarhi Qurratu ‘Ain. Kitab ini merupakan kitab “ujian tingkat menengah” bagi santri di seluruh pesantren nahdliyyin, karena di kalangan santri sendiri mengenal sebuah ungkapan bahwa “siapa yang bisa lolos dari Fathul Mu’in” maka perjalanannya akan mudah dalam mengkaji kitab lain seperti Fathul Wahhab dan seterusnya.

Strategi inilah yang dimanfaatkan PKS untuk lebih banyak menggait kalangan pesantren, sehingga lomba yang digelar pun dengan membuat syarat khusus yaitu “mendapat rekomendasi dari pimpinan pondok pesantren atau kiai/ustadz/tuan guru”. Kalangan pesantren benar-benar menjadi target mereka.

Di sisi lain, kader-kader militan PKS tidak familier atau asing dengan kitab tersebut, apalagi kader-kader PKS yang berasal dari Wahhabi.

Anis Chamidi, Alumnus Universitas Airlangga Surabaya.