Opini

Ijtihad PMII Menuju Paradigma Partisipasi Progresif (1)

Sabtu, 11 Februari 2017 15:44 wib

...

Paradigma Kritis Transformatif (PKT) adalah cara pandang kritis terhadap realitas yang secara de jure masih dipakai sebagai paradigma oleh Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) hingga saat ini.

Mengapa de jure? Karena secara de facto, paradigma ini dianggap sudah tidak relevan dengan perkembangan zaman. Lantas, paradigma apa yang dipilih oleh PMII setelah PKT terbaring kaku?

Jawabannya tidak tahu! Masih galau! Tak ada pikiran! Lalu bagaimana? Kok begitu banyak kader intelektual PMII, tapi tak ada pikiran soal paradigma baru? Semua mengacungkan tangan, “Dipikir terus, tapi tidak tahu, masih galau, blank mind.” Yassalam!

Memang, realitasnya, setiap kongres PMII, selalu ada wacana penggodokan paradigma baru oleh PB PMII, tapi gagal berbuah hasil. Tak hanya pucuk pimpinan PMII di Jakarta, di berbagai daerah pun berlomba menunjukkan sense of belonging dengan menggelar workshop, seminar, diskusi, kajian dan sebagainya untuk merumuskan paradigma baru. Namun, lagi-lagi buat putus asa.

Haris, kader PMII paling kritis bertanya, “Emang kenapa dengan PKT? Itu paradigma bagus kok. Mahasiswa memang harus tetap kritis. Ga boleh sedikit pun hilang kekritisannya melawan kekuasaan yang menindas dan sewenang-wenang. Hidup mahasiswa!” teriaknya di tengah workshop.

Lantaran kesal mendengar perdebatan, Budiman merebut microphone dari pimpinan sidang. Ia berdiri seraya tunjuk jari ke atas, “Hidup PMII! Paradigma Kritis Transformatif itu masa lalu, sekarang kita sudah tidak vis a vis dengan negara, dengan penguasa, dengan kemapanan, tetapi kita justru harus merebutnya. Negara saat ini sudah semakin baik dan teratur, tak harus dilawan, tapi menjadi mitra strategis PMII. Jangan kau rusak pikiran kau dengan Madzhab Frankfurt yang sudah usang itu. Pasca reformasi, PKT sudah tak layak pakai, kita butuh paradigma baru, kita bahas dan pikirkan paradigma baru untuk PMII,” tuturnya seolah berorasi depan istana negara.

Tak ayal, semua peserta menyerang pakai pertanyaan, “Terus apa paradigma barunya?” Ia menjawab, “Ya mari kita pikirkan bersama-sama!” Sontak semua peserta bersorak, “Ya ampun, kirain ada tawaran paradigma!”

PKT seakan-akan hidup segan mati tak mau. Segan hidup karena tak mau dipakai, mau mati belum ada pengganti. Paradigma jadi persoalan yang bikin pusing kepala kader seantero negeri.

Padahal, paradigma merupakan “kaca mata” yang memiliki seperangkat asumsi, nilai, konsep dan praktik yang mempengaruhi cara berfikir, bersikap dan bertindak seluruh kader PMII. Maka, mau tak mau, suka tidak suka, harus kita pikirkan. Kalau sudah mati ya dikubur biar punya gelar almarhum, tapi kalau masih hidup ya dirawat biar sehat bugar jadi panutan.

Buat menggodok paradigma, perlu juga PMII cermati dialektika sejarah sendiri. Sebelum PKT hadir, sudah ada orok paradigma lain yang pernah dilahirkan oleh PMII yakni Paradigma Arus Balik Masyarakat Pinggiran atau Paradigma Pergerakan yang dirumuskan saat A Muhaimin Iskandar menjadi ketua umum tahun 1994-1997.

Paradigma ini dibuat untuk melawan kesewenang-wenangan orde baru yang menindas rakyat. Landasan teori kritis dan konsep perlawanannya membuat kader PMII ibarat singa yang siap menerkam. Sifat frontal paradigma ini diperkuat oleh gerakan intelektual organik melalui advokasi, proses rekayasa sosial dan free market of ideas yang dilakukan PMII untuk melawan hegemoni kekuasaan dan kemapanan.

Totalitas pemikiran, sikap dan tindakan kader PMII dicurahkan sepenuhnya untuk melawan. Mulai populer jargon-jargon perlawanan, “hanya ada satu kata, lawan!”, “diam tertindas atau bangkit melawan” dan sebagainya.

Tak ingin disebut kalah dengan pendahulunya, Sahabat Syaiful Bahri Ansori mentransformasi Paradigma Pergerakan menjadi PKT pada saat periode kepemimpinannya tahun 1997-2000. PKT memperkaya perlawanannya secara teoritik dengan konsep pemikiran kritis ala Frankfurt yang bersifat totality against, juga wacana intelektual kiri Islam ala Hassan Hanafi, Muhammad Arkoun, Asghar Ali Engineer dan lain-lain yang bicara soal hermeneutika pembebasan dan tafsir revolusioner tentang pembaharuan menyeluruh dan transformasi radikal.

Bedanya, perlawanan dalam PKT tidak lagi frontal, tapi substansial karena meniscayakan adanya transformasi. Hal ini dibuat untuk ‘sedikit’ menyesuaikan realitas sosial politik ketika Gusdur yang tadinya sebagai inspirasi perlawan, tiba-tiba muncul ke permukaan sebagai penguasa. (bersambung)

Mulyadin Permana, Master Antropologi FISIP Universitas Indonesia, Ketua Umum PKC PMII DKI Jakarta periode 2014-2016, Bakal Calon Ketua PB PMII Periode 2017-2019.