Opini

Makna Ber-NU, Belajar dari Sahabat Nurul Hidayat

Senin, 02 September 2019 00:30 wib

...
Foto penulis bersama almarhum Nurul Hidayat dan KH D Zawawi Imron di arena Muktamar NU, Jombang 2015 (santrinews.com/istimewa)

“Ber-NU itu untuk bekal akhirat. Karena Insya Allah kita akan bersama rombongan para muassis NU”

Dalam sebuah kesempatan rapat di NU, Bapak Nurul Hidayat mengatakan, “Ber-NU itu untuk bekal akhirat. Karena Insya Allah kita akan bersama rombongan para muassis (pendiri) NU yang dipimpin Mbah Kiai Hasyim Asy’ari.”

Ahad, 25 Agustus 2019 sekitar pukul 16.00 WIB, Ketua PCNU Sumenep H A Pandji Taufik bersama tiga orang pengurus lainnya, salah satunya Nurul Hidayat —saya memanggilnya Pak Nurul— datang ke RSUD Pamekasan membesuk kakak saya –KH Munib Zubairi— yang sedang sakit. Di rumah sakit saya masih bercanda dengan beliau, seperti biasa yang kami lakukan setiap kali ketemu.

Senin, 26 Agustus menjelang maghrib secara mendadak beliau meninggal di RSUD Sumenep, meski saya baru tahu sekitar pukul 21.00 WIB melalui info yang saya peroleh di Group Watshap. Ya Allah. Saya benar-benar tidak percaya. 24 jam sebelumnya di Rumah Sakit masih bertemu, bercanda, dan tertawa tiba-tiba Allah memanggilnya.

Belum yakin, akhirnya saya telpon teman yang berdomisi di kota menanyakan kabar meninggalnya pak Nurul. Teman yang saya kontak mengiyakan. Meski antara percaya dan tidak saya terima kabar ini sebagai benar. Dan detik itu pula perjalanan persahabatan saya dengan beliau selama 15 tahun di PCNU Sumenep tergambar kembali. Saya benar-benar kehilangan salah seorang sahabat baik saya di PCNU dan dalam pergaulan persahabatan saya sehari-hari.

Saya mengenal baik Nurul Hidayat atau nama penyairnya dikenal dengan nama En Hidayat. Beliau semasa muda lebih dikenal sebagai penyair yang sering menulis dan terlibat di forum-forum sastra-budaya. Tidak saja terlibat, tapi penggerak.

Ketika kuliah di IAIN Surabaya beliau aktif di PMII. Kecintaan berorganisasi diteruskan aktif di PCNU Sumenep sejak 2000 sejak kepulangannya selesai kuliah di Surabaya. Waktu itu saya dan beberapa anak muda lainnya dipercaya menjalankan Lakpesdam NU Sumenep. Di situlah saya mengenalnya dan mulai akrab karena secara kebetulan kami memang sama-sama suka menulis.

Tahun 2010-2015 beliau ditunjuk sebagai bendahara PCNU Sumenep. Periode 2015-2020 dipercaya lagi sebagai salah seorang wakil ketua. Di NU beliau memang bukan type pekerja. Beliau lebih sebagai sosok pengurus yang menjadi salah seorang pemberi pencerahan dan ditect berdasar analisa yang dalam karena baru muncul dari endapan pemikiran yang tidak diambil-ambil secara terburu-buru. Mungkin ini cerminan dari karakternya yang tenang, sabar, dan tidak meledak-ledak kecuali dalam soal-soal prinsip, misalnya terhadap tokoh-tokoh “setengah NU” yang ia pandang tidak tawassuth.

Pernah suatu ketika —lupa tahunnya— saya hadir bersama beliau mewakili PCNU Sumenep dalam sebuah pertemuan membahas “kasus syiah” Sampang. Ada tokoh yang ia pandang tidak tawassuth karena memaksakan rekomendasi yang justru akan memperkeruh suasana. Ia langsung interupsi, dan menjelaskan posisi NU dalam kasus itu dengan suara lantang. Sang tokoh marah karena pendapat pak Nurul justru mampu merubah konstelasi forum.

Pak Nurul tidak saja menjadi tumpuan “curhat” beberapa pengurus NU. Anak-anak muda terutama yang menjalankan kelembagaan NU seringkali berdiskusi dan sharing pendapat dengan pak Nurul untuk memajukan lembaganya.

Terakhir ia memfasilitasi Lesbumi NU yang beberapa tahun sempat vakum. Tidak itu saja, saat ini ia sibuk merancang persiapan Hari Santri dan membuka dialog-dialog soal konstelasi politik lokal dan dampaknya terhadap NU.

Pak Nurul di samping menjadi pengurus NU, ia juga guru PNS. Posisi terakhir beliau sebagai pengawas Madrasah. Saya bersaksi beliau orang lurus, tak pernah neko-neko, dan jujur. Jika ada PNS yang tak pernah menggunakan jabatannya untuk meraup kepentingan pribadi ya beliaulah salah satunya.

Karakter pak Nurul muncul karena lahir dari kebeningan batin sufistiknya. Soal ini baru beberapa tahun ini saya tahu, dimana dalam semua masalah —terutama masalah pribadi— ia selalu melibatkan Allah dan mengembalikan kepada-Nya. Makanya, dalam menghadapi masalah ruwet sekalipun, ia tenang. Tetapi pikiran-pikiran cerdas-hati-nya kemudian muncul dari endapan kebeningan batinnya yang selalu melibatkan-Nya.

Saya rasa soal susutnya berat badan yang menjadikan beliau tambah kurus beberapa bulan terakhir ini sebagai tanda bahwa beliau memendam penyakit, tak pernah diceritakan kepada orang lain. Pun juga tak pernah mengeluh. Dengan kata lain, “biarlah hanya Allah Yang Tahu dan hanya kepada-Nya beliau mengeluh”. Dalam soal ini, beliau selalu mengutip dawuh KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Karena pak Nurul memang pecinta Gus Dur.

Dalam satu bulan belakangan ini, saya sempat main ke rumahnya membicarakan banyak hal, terutama soal ke-NU-an, soal agraria, soal kelompok kanan, dan lain-lain, ditemani rokok dan kopi. Beberapa minggu kemudian, beliau main ke rumah melanjutkan diskusi sejak pukul 18.30 hingga 23.00 WIB. Tentu saja juga ditemani kopi dan rokok. Karena saya tahu beliau penikmat kopi dan rokok. Di samping kuliner khas madura, “kaldu”.

Sungguh, kepergiannya yang begitu cepat mengagetkan semua sahabatnya. Meski saya yakin beliau bahagia karena berkumpul bersama muassis NU sebagaimana yang diidamkannya.

Selamat jalan Pak Nurul, saya akan selalu mengenang nasehatmu. (*)

Ditulis dalam perjalanan menuju Sarang, 28 Agustus 2019.