Opini

Menghidupkan Nilai-Nilai Kepahlawanan Sebagai Nafas Peradaban

Senin, 11 November 2019 11:30 wib

...

Prosesi peringatan hari pahlawan setiap 10 November di seluruh pelosok wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia bahkan di perwakilan Indonesia di luar negeri dengan tujuan untuk memperkuat nilai-nilai kepahlawanan, menumbuhkan rasa cinta tanah air dan meneguhkan semangat pengabdian bagi bangsa dan negara sebagai panggilan mutlak seluruh rakyat Indonesia.

Selain itu juga untuk mengingat jasa-jasa dan semangat nasionalisme yang bergelora dari pahlawan terdahulu untuk direnungkan kembali secara kritis-filosofis tentang bagaimana perjuangan para pahlawan melawan kolonialisme dan imperialisme.

Hari pahlawan merupakan goresan sejarah yang sangat penting dalam keberlangsungan perjalanan peradaban bangsa Indonesia sehingga selalu dirayakan secara khidmat dengan kebanggaan yang besar.

Peringatan hari pahlawan bukan hanya sebagai perwujudan syukur dalam mengenang jasa-jasa dan pengorbanan para pejuang baik materi maupun imateri tetapi juga merupakan momentum menumbuhkan kembali kesadaran kolektif nasionalisme bangsa Indonesia.

Mengutip bahasa Musthofa Al-Ghulayini, tokoh Nasionalis Mesir, bahwa seorang nasionalis sejati adalah orang yang rela mati demi tegaknya kehidupan tanah airnya, dan rela sakit demi kebaikan bangsanya.

Di sisi lain momentum ini bukan hanya sekedar mengingat jasa-jasa pahlawan yang telah mengorbankan segalanya demi tumpah darah Indonesia, tetapi lebih daripada itu semua untuk mengikuti jejak keteladanannya untuk dijadikan kebanggaan bagi generasi penerus bangsa ini dalam membangkitkan semangat kebangsaan dengan tiada henti berkarya membangun bangsa ini. Karena eksistensi sebuah negara tidak terlepas dari peran pahlawan baik dengan jalur pertempuran fisik maupun jalur diplomasi.

Berkat peran para pahlawan, sebuah negara menjadi merdeka, maju dan bahkan mendunia.

Indonesia di tengah gempuran modernisasi dan globalisasi melalui jalur cepat digitalisasi yang telah menembus sekat-sekat kearifan lokal, dan budaya ketimuran mengharuskan kesiapan diri semua komponen bangsa untuk kembali memperkuat karakter dan jati diri bangsa khususnya bagi generasi milenial.

Saat ini, ketika negara dan bangsa kita memasuki masa baru yang penuh dengan tantangan dan berbagai problem kebangsaan dan krisis mulitidimensi mulai dari aspek sosial, politik, budaya, dan bahkan ekonomi termasuk krisis keuangan global, krisis moral, krisis etika dan krisis keadilan hukum di Indonesia, maka nilai-nilai kepahlawanan harus mampu dihidupkan kembali.

Dengan begitu, kita akan mengingat kembali bahwa Republik Indonesia yang sekarang ini ada adalah hasil perjuangan dalam jangka waktu yang cukup lama dari banyak orang yang terdiri dari berbagai suku, agama, keturunan ras, dan berbagai macam pandangan politik.

Dengan merenungkan secara kritis dan filosofis berbagai tahap perjuangan bangsa, maka akan meneguhkan kesadaran kolektif kita, bahwa Republik Indonesia ini adalah benar-benar milik bersama, yang dirawat, dan dijaga bersama.

Nilai-nilai kepahlawanan bukan bersifat statis, namun dinamis, sehingga peringatan hari pahlawan harus menjadi energi dan semangat baru mewarisi nilai perjuangan dan patriotisme dalam membangun bangsa Indonesia.

Peringatan hari pahlawan tidak hanya sekadar prosesi tapi ada nilai-nilai substansi yang dinamis dan memunculkan semangat baru sebagai implementasi nilai-nilai kepahlawanan dalam kehidupan sehari-hari dan melahirkan ide dan gagasan mentransfromasikan semangat pahlawan menjadi keuletan dalam melaksanakan pembangunan, mentransformasikan keberanian melawan penjajah.

Nilai-nilai kepahlawanan dalam mengusir penjajah menjadi inspirasi untuk merangi kemiskinan, kebodohan dan menstranformasikan kecerdikan para pahlawan dalam mengatur strategi menjadi inspirasi rakyat Indonesia untuk melakukan inovasi cerdas, memperkuat daya saing bangsa dalam pergaulan global.

Pemuda, Pemegang Estafet Peradaban
Indonesia memerlukan pahlawan baru yang akan mengendalikan estafet peradaban, memerlukan sosok yang berdedikasi dan berprestasi pada bidangnya untuk memajukan negeri ini.

Pemuda adalah bagian harapan yang dibutuhkan bangsa ini sebagai generasi penerus yang mempunyai jiwa patriotisme, pantang menyerah, berdisiplin, berkarakter, menguasai dan mampu mendemontrasikan ilmu pengetahuan dan keterampilannya dibidangnya, pemuda yang sadar bahwa negerinya memiliki beragam suku, agama, adat istiadat, namun mampu memanfaatkan keberagaman sebagai modal sosial dan kekuatan yang dipergunakan untuk keunggulan Indonesia dalam pergaulan dunia, sebagai instrument menghidupkan nilai-nilai kepahlawanan sebagai nafas peradaban bangsanya.

Keberlangsungan peradaban bangsa ini tergantung pada para pemudanya dengan kemampuan menjaga reputasi dan jati dirinya, mempunyai karakter lokal yang luhur, percaya diri dan peka terhadap permasalahan sosial sehingga mampu terlibat dalam usaha kesejahteraan sosial, memberikan pelayanan sosial.

Demikian juga kebutuhan pemuda untuk masa depan yang mempunyai pandangan global serta mampu melakukan kreasi dan berkolaborasi serta mampu melakukan kontra narasi untuk kemajuan bangsa dengan kemampuan memanfaatkan kemajuan teknologi untuk menjadikan Indonesia diperhitungkan dalam persaingan global.

Nilai-nilai kepahlawanan sebagai nafas perabadaban bangsa ini dalam melawan tirani politik, sosial-ekonomi, panggilan jiwa untuk memerangi kemiskinan keterbelakangan dan kebodohan harus mampu dihidupkan kembali dengan etos kejuangan dan pengorbanan untuk menjaga kedaulatan dan masa depan bangsa ditengah mentalitas kepahlawanan digerus dan tergradasi oleh kepungan kapitalisme global.

Akhirnya mari jadikan momentum hari pahlawan ini sebagai momentum ambil bagian dalam mendedikasikan jiwa raga kita dengan semangat belajar dan berkarya, keberanian dan keikhlasan untuk mewujudkan cita-cita bangsa sebagai implementasi ikrar dan janji kemerdekaan negara kebanggaan kita.

Mari kita gelorakan spirit kepahlawanan tanpa putus asa, karena kehidupan yang disertai keputusasaan adalah sebuah kematian.

Bersatu kita teguh bercerai kita runtuh Allahu Akbar. Merdeka ! (*)

Nur Khalis, Direktur Nusantara Inside.