Pesantren

Pesantren Berbasis Kemasyarakatan

Sabtu, 11 Mei 2013 16:11 wib

...
Pintu gerbang Pondok Pesantren As-Sunniyah, Kencong, Jember (santrinews.com/dok)

Nun jauh di sana, di sebuah kecamatan sekitar 44 kilometer dari kota Jember, Pesantren As-Sunniyah terus berkembang pesat. Seakan tak peduli dengan hiruk-pikuk dunia politik yang tak kunjung usai, pesantren ini terus memperkuat basis pendidikannya. Basis kemasyarakatan menjadi landasan semangatnya.

Jember – Terletak di bagian utara Kabupaten Jember, dengan populasi penduduk yang pesat dan dikenal sebagai daerah pergerakan, Kencong menjadi kawasan yang berkembang sekaligus basis perkembangan NU.

Berbicara tentang NU, tentunya tak lepas dari peran pesantren sebagai pusat dakwah yang mengusung tema salafiyah dalam sistem pengajarannya. Di sinilah berdiri dan berkembang Pondok Pesantren As-Sunniyah. Pesantren ini dikenal sebagai pencetak kader-kader NU yang militan. Pertama kali didirikan oleh Almaghfurlah KH Djauhari Zawawi, seorang ulama kharismatik yang gigih membela agama, negara dan Nahdlatul Ulama.

Sosok Pendiri
Berasal dari Desa Sedan, Rembang, Jawa Tengah. Kiai Djauhari adalah salah seorang sosok pengembara ilmu pada masa itu. Ia pernah nyantri di Kajen (Pati), Sarang (Rembang), Termas (Pacitan), Tebuireng (Jombang), Probolinggo, serta ke Makkah dan akhirnya sampailah di Kencong yang menjadi tempat perjuangannya. Sebagai seorang ulama pengembara tentu bukanlah hal mudah untuk mengembangkan pesantren di daerah yang baru saja dikenalnya. Berbagai macam rintangan ia hadapi, sampai ia bertemu beberapa alumni Tebuireng yang turut membantu dalam proses dakwahnya.

Cikal-bakal Pesantren As-Sunniyah dimulai di musholla wakaf Kiai Solihi. Pada masa awal pendudukan Jepang (tahun 1942) pesantren ini didirikan. Pada mulanya dengan nama Al-Kholafiyah dengan filosofi ingin mensinergikan pemahaman salafiyah untuk dikembangkan dalam era baru. Tampaknya Kiai Djauhari ingin mencetak generasi ulama yang baik dan bersemangat melanjutkan perjuangan para ulama pendahulu. Akan tetapi nama itu tidak bertahan lama menjadi nama pesantren.

Ditengarai hal itu terjadi karena faktor ketidak-harmonisan hubungan NU dengan Masyumi kala itu. NU dengan sikap dan prinsip moderatnya yang mengedepankan faham sunni sebagai konstruksi idiologinya, yang kemudian ditandingi oleh masyumi dengan prinsip modernisnya. Sehingga hal itu berpengaruh pula pada konsep yang ia anut dan terbawa pada kebijakan untuk mengubah nama pesantren menjadi As-Sunniyah sekitar tahun 1957. As-Sunniyah juga bermakna Kiai Djauhari lebih cenderung mengedepankan perjuangan faham Ahlussunnah Waljamaah yang berarti faham yang mengikuti Rasul dan para sahabatnya (sunni).

Kurikulum Pesantren
Pada awal berdirinya pesantren ini mengalami kesulitan dalam menerapkan sistem pengajaran. Seringkali kiai merasa kewalahan dalam mengajar santri karena minimnya tenaga pengajar. Seiring dengan semakin berkembangnya pesantren dan banyaknya santri yang sudah matang dalam bidang keilmuan, Kiai Djauhari dalam pengajarannya dibantu oleh para santri senior yang sudah mempunyai kematangan ilmu. Pesantren ini mengajarkan sistem berjenjang dengan pola pengembangan madrasah yang dibagi menjadi tiga marhalah di antaranya shifir 2 kelas, ibtidaiyah 3 kelas dan tsanawiyah 3 kelas.

Pada tahun 1977 model pengajaran diganti dengan menambah marhalah aliyah. Dan menghapus tingkatan shifir ke ibtidaiyah yang menjadi lima kelas, tsanawiyah tiga kelas dan aliyah tiga kelas. Akan tetapi pada tingkatan aliyah tahap ke tiga (kelas tiga) dipergunakan untuk pengabdian masyarakat dengan terjun langsung ke dalam masyarakat untuk menjadi seorang pengajar mengaplikasikan ilmu yang selama ini sudah dipelajari di pesantren.

Tak hanya itu, fungsi pengabdian juga dipergunakan sebagai media dakwah pada daerah-daerah yang dirasa masih kurang mendapatkan sentuhan religius dari para pendakwah, sekaligus mengajarkan santri untuk lebih matang dalam menghadapi problematika yang ada dalam masyarakat. Secara umum pengajaran yang ada pada Pesantren As-Sunniyah hampir sama dengan penerapan pesantren-pesantren salaf yang lain. Hafalan dan pengkajian kitab-kitab klasik yang menjadi ciri khas pesantren salaf tetap di pertahankan untuk lebih mematangkan pemahaman santri.

Sedangkan untuk lebih memantapkan proses pembelajaran pesantren pada tahun 2011 lalu proses pembelajaran mulai dibenahi dengan mensinergikan kebutuhan santri di era modern, dengan menambahkan marhalah takhossus sebagai sistem pengajaran baru. Alhamdulillah, pesantren dengan sekitar 1.400 orang santri ini telah mampu mencetak para pengajar yang alim dan mengedepankan keilmuan yang mumpuni.

Untuk sekolah formal, Pesantren As-Sunniyah juga melengkapinya dengan MTs dan MA. “Tsanawiyah dan Aliyah ini diposisikan sebagai pelengkap administrasi santri agar nantinya mereka tidak kesulitan jika ingin melanjutkan ke perguruan tinggi,” kata KH A Sadid Djauhari, pengasuh Pondok Pesantren As-Sunniyah.

As-Sunniyah yang berdiri di atas tanah lebih dari 3 hektar ini menyediakan berbagai macam konsentrasi pendidikan, dengan pondok induk sebagai sentral. Di Kecamatan Kencong sarana pendidikan memang relatif lengkap, mulai dari SDNU, MINU, MTs Maarif, MA Maarif hingga STAIFAS (Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Falah As-sunniyah) yang hampir kesemuanya mempunyai sinergi dengan pesantren.

“Dengan sistem seperti ini diharapkan santri lebih fokus dalam menimba ilmu dan memaksimalkan potensi yang dia miliki,” tutur salah seoang A’wan Syuriah PBNU itu.

Basis Sosial Masyrakat
Sepeninggal Kiai Djauhari, Pesantren As-Sunniyah diasuh oleh KH A Sadid Djauhari yang merupakan putra kedua pasangan KH Djauhari Zawawi-Hj Sa’adah. Kiai Sadid adalah alumnus Pesantren Al-Anwar Sarang dan 3 tahun belajar di Abuya Saiyid Muhammad Alawy Al-Maliky Makkah.

Semasa menjabat Wakil Rais Syuriah PWNU Jawa Timur, Kiai Sadid adalah orang yang paling rajin hadir. Setiap Selasa dipastikan ada di PWNU. Jaraka Kencong-PWNU yang 250 kilometer seakan tidak menjadi masalah baginya. Begitu pula ketika menjabat Katib Syuriah PBNU, Kiai Sadid juga tercatat sebagai salah seorang pengurus syuriah paling rajin. Dalam sebulan dipastikan 1-2 kali ia ada di Gedung PBNU. Tiap datang sekaligus dua hari.

Rupanya Kiai Djauhari tidak salah menyiapkan generasi. Kepemimpinan Kiai Sadid ternyata banyak memberikan warna berbeda terhadap perkembangan As-Sunniyah. Tidak hanya fokus pada pembelajaran dan perkembangan pondok semata, aspek penunjang yang mampu membekali keterampilan santri dan lebih mengutamakan kemaslahatan masyarakat mulai dikembangkan dimasa kepemimpinannya. Misalnya pendirian lembaga bimbingan haji, poliklinik yang disiapkan untuk rumah sakit, dan juga STAIFAS.

Dari masa kemasa pesantren ini terus mengalami perkembangan dan tidak hanya terkungkung pada pengkajian keilmuan semata, akan tetapi lebih mengarah pada kemaslahatan santri dan masyarakat secara umum. Sampai akhirnya pesantren ini dikenal luas bukan hanya dari sistem pendidikan dan para alumninya, akan tetapi juga karena memiliki lembaga yang juga mempunyai peran penting dalam masyarakat.

Tentang kesiapannya ditempati Muskerwil (yang sekaligus menanggung seluruh biaya konsumsi), Kiai Sadid mengaku malah bersyukur ketika PWNU Jawa Timur menjatuhkan pilihan pada As-Sunniyah. “Intinya kami mengharapkan barokah dari para kiai, itu saja,” tutur adik ipar KH Maemun Zubair itu. (davida/saif)