Pesantren

Pesantren Mambaul Hikam: Bertahan dengan Model Salaf

Sabtu, 16 Februari 2013 18:57 wib

...
Gapura Pondok Pesantren Mamba

Sistem salaf ini akan tetap dipertahankan hingga titik darah penghabisan.

ORIENTASI masyarakat dalam mencari lembaga pendidikan sudah lebih banyak yang profit. Kalau sudah lulus kelak, akan melanjutkan kemana. Kalaupun memutuskan untuk berhenti belajar, maka ijazah lah yang diburu. Tapi anggapan itu sengaja dibuang jauh oleh pesantren ini.

Mengikuti jejak para pendahulu, pesantren yang letaknya bersebelahan dengan wilayah Kabupaten Kediri ini ingin memberi pesan bahwa ijazah bukanlah segala-galanya.

Tanpa pengakuan dari negara sekalipun, para santri bisa bertahan dan mampu berkiprah di masyarakat. Justru ini yang akhirnya membuat para pengelola kian yakin bahwa masyarakat masih membutuhkan para alumni dari pesantren salaf.

Pada saat yang bersamaan, para santri dan tentunya didukukung sejumlah para wali santri juga tak terlampau ambil pusing dengan selembar kertas pengakuan tersebut. Sehingga, kombinasi inilah yang kian membulatkan tekad Pondok Pesantren Mambaul Hikam (PPMH) untuk istiqamah menjaga image sebagai pesantren salaf.

Pesantren ini memiliki kharisma dan reputasi layaknya pesantren salaf lain di tanah air seperti Sarang (Jawa Tengah), Lirboro Kediri, Sidogiri Pasuruan dan semacamnya. Persisnya, pesantren ini bila ditempuh dari kota Blitar, diperlukan jarak kurang lebih 24 km. Lokasinya ada di Dusun Wonorejo Desa Slemanan Kecamatan Udanawu. Luas areanya sekitar 4 hektar yang merupakan tanah wakaf dan milik keluarga.

Kendati demikian, pesantren salaf ini lebih dikenal dengan sebutan Pondok Mantenan kendati tidak berada di desa tersebut. Mengapa? Ini terjadi lantaran masyarakat Mantenan-lah yang banyak berperan kala awal pendirian masjid dan pesantren.

Sedangkan masyarakat Slemanan yang kala itu tidak terlampau mengenal Islam, tidak terlampau memberikan apresiasi. Sehingga atas “prestasi” masyarakat Mantenan ini, maka PPMH lebih lekat dengan sebutan sebagai Pondok Mantenan hingga kini.

Istiqamah dengan Salaf
KH M Dliya’uddin Azzamzami Zubaidi yang kini sebagai pengasuh pesantren menandaskan bahwa pesantrennya tetap kukuh dengan sistem salaf seperti warisan pendiri. “Pokoknya, sistem salaf ini akan tetap dipertahankan hingga titik darah penghabisan,” katanya mantap.

Kiai Dliya’ – sapaan akrabnya- memiliki keyakinan bahwa model salaf bagi pesantrennya tetap menjadi harapan masyarakat. Hal ini terbukti dengan terus bertambahnya minat masyarakat sekitar dan dari berbagai daerah untuk bertafaqquh fiddin di pesantren ini.

Tidak semata masyarakat sekitar yang belajar agama. Bahkan tidak sedikit santri yang berasal dari Kalimantan, Sulawesi, Sumatera maupun Jawa. “Ini kian meyakinkan kami, bahwa respon masyarakat ternyata terus positif,” tandas Kiai Dliya’.

Beberapa kiai dan ustadz yang lama mengabdi di pesantren juga mengemukakan hal yang sama. Ustadz Towil As’adi yang telah berada di pesantren sejak tahun 1991 juga merasakan bahwa tidak ada yang berubah dari pondok ini. “Sejak saya di sini sampai berumah tangga dan mengabdi di pondok, tidak ada yang berubah dari sistem pengajarannya,” tandasnya.

Sepertinya, salaf menjadi pilihan dan tak akan berubah. Hanya saja, proses belajar mengajar dilakukan secara klasikal dengan membedakan santri sesuai kemampuan yang dimiliki. Pihak pesantren sendiri telah membagi tingkatan materi yang akan dibebankan kepada peserta didik dari MI (6 tahun), MTs, MA (3 tahun), Pasca Aliyah Putri (2 tahun) serta Madrasah Intidhar.

Hanya saja, madrasah ini menjadikan pengetahuan calon santri sebagai tolok ukur akan diterima di unit dan kelas mana nantinya. “Dengan demikian, bisa jadi lantaran pengetahuan keagamaan calon santri agak tertinggal, maka dia nantinya akan masuk di unit dan kelas yang lebih awal,” kata Ustadz Towil.

Demikian juga berlaku sebaliknya. “Siapa yang pengetahuan dan pemahaman dasar agamanya dalam hal ini kitab kuning ternyata sudah lumayan, maka secara otomatis akan masuk di kelas dan unit yang lebih tinggi,” lanjutnya. Dengan demikian, seleksi para calon santri adalah berbasis kemampuan mereka saat awal mendaftar.

Untuk bisa memacu kemampuan menyerap materi yang disampaikan, PPMH menggunakan metode bahtsul masail, pengkajian kitab salaf, sorogan kitab kuning, sorogan bin nadhar dan bil ghaib, serta istima’ul Qur’an. Bahkan untuk mereka yang mengharapkan ijazah, pihak pesantren juga menyelenggarakan Kejar Paket B yang setara dengan SLTP dan C (setara SLTA).

Bangunan permanen juga disediakan untuk menampung aktifitas santri, dari mulai lokal madrasah, masjid, asrama, fasilitas harian berupa sanitasi, dapur, aula, hingga gedung olah raga. Semua tersedia di area pesantren.

Kini, pesantren ini memiliki 2.267 santri (1.395 laki dan 872 putri). Semua tersebar di lembaga pendidikan dari mulai TPA hingga Pasca Aliyah. Ini belum termasuk jamaah yang terhimpun dalam Thariqah an-Naqsabandiyah.

“Di pesantren ini, menerima santri dari mulai anak-anak hingga yang berumur atau udzur,” kata Ustadz Ahmad Bahruddin yang dipercaya sebagai kepala pondok. “Karenanya, sebagian kalangan menyebut pesantren ini sebagai pesantren sepanjang hayat,” kata Ustadz Salman Dhuhairi. Bagaimana tidak, sejak usia anak-anak hingga menjelang ajal, semua tertampung di PPMH.

Agar mampu memberikan pelayanan terbaik atas kepercayaan masyarakat, setiap harinya PPMH diasuh dan dibimbing oleh pengasuh bersama ibu nyai, dua orang badal dan 89 ustadz atau guru yang 15 orang di antaranya adalah perempuan. Para pendamping santri ini berasal dari berbagai tingkatan lembaga yakni alumnus MI sebanyak 19 orang, 35 orang dari MTs, 16 alumnus MA, dua orang sarjana diploma, seorang S1 dan alumni pesantren sebanyak empat orang.

Kepercayaan Kampus
Dengan materi dan sistem yang ada serta juga diimbangi dengan memberikan yang terbaik bagi santrinya, alumni PPMH telah mendapatkan kepercayaan dari STAIN (Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri) Kediri. Kampus ini memberikan keleluasaan kepada para alumni untuk langsung masuk kuliah kendati tidak memiliki ijazah pendidikan formal. “Ini adalah bukti bahwa meski salaf, metode pembelajaran pesantren kami ternyata dipercaya kampus negeri,” kata Kiai Dliya’.

Dan dalam perkembangannya, alumnus PPMH ternyata demikian dominan dalam penguasaan materi perkuliahan. Hanya saja ada beberapa mata kuliah yang mereka harus belajar lebih intensif. “Namun dari pengakuan sejumlah dosen dan pimpinan kampus, alumnus kami ternyata tidak mengecewakan,” aku Kiai Dliya’ bangga.

Inilah sebagian kiprah pesantren salaf di tanah air. PPMH seakan membuka mata para penentu kebijakan di tanah air bahwa lembaga pendidikan formal yang telah mendapat perhatian berlebih dan dana yang besar ternyata bukanlah satu-satunya harapan masyarakat.

Mereka tidak terlalu peduli dengan kemampuan akademis atau teori-teori yang melankolis. Yang dibutuhkan masyarakat adalah penerapan dan bagaimana para alumnus sebuah lembaga pendidikan bisa mengisi kiprah di tengah mereka. Dan PPMH telah membuktikannya. (saif/hay)