Pojok Santri

Massa

Selasa, 08 November 2016 23:04 wib

...

Pada akhirnya, kita tak bisa percaya penuh pada massa. Kita tetap tak bisa banyak berharap, ribuan massa jubah putih yang membanjiri Jakarta pada aksi demonstrasi 411 lalu, bisa menjadi semacam karnaval yang asyik dan edan, semacam Mandi Gras di Rio de Janeiro.

Kita tetap tak bisa percaya penuh pada massa. Betapapun seantero ulama menyeru untuk tenang dan damai, di sana-sini hiruk pikuk tetap mengancam dan ketegangan bisa meletup kapan saja.

Dan benar, ketika malam mulai naik, keributan meledak. Keesokan harinya, banyak viral di media sosial memberi kabar: beberapa demonstran meninggal. Beberapa harus dirawat di rumah sakit.

Tak juga pasti, bagaimana persis kejadiannya. Yang kita tahu, pemerintah menuding aktor-aktor politik sebagai dalang di balik kericuhan itu. Kita boleh sangsi dan memperdebatkan kebenarannya. Tapi yang tak boleh diabaikan adalah kenyataan bahwa massa memang mengidap patologinya sendiri.

Dalam Psychologie des Foules, Gustave Le Bon menulis, bahwa massa itu irrasional dan rasis. Sebab itu, massa bisa dengan mudah tunduk pada segala pengaruh, gampang percaya dan mudah diprovokasi. Seketika bisa menggerombol, merusak dan tak terkendali.

Tentu, kita bisa menganggap tesis Le Bon sangat mentalistis dan meremehkan kemandirian subyek, terutama ketika melihat para demonstran banyak terdiri dari ulama, habaib, dan orang-orang soleh dengan kedewasaan diri dan kematangan intelektualitas yang mengagumkan. Tapi, jika sedikit saja kita hendak surut melihat perekrutan massa yang begitu “terbuka”, siapapun yang berdiri di sekitar aksi akan kecut hati.

Dari televisi saya melihat, seorang koordinator massa, meneriaki segerombol massa yang bergerak liar, seperti seekor Kuda sedang kesetanan. Koordiantor massa itu, yang juga dikenal sebagai Imam Besar dalam satuan kelompok massa, mengancam akan mengeluarkan mereka jika tak hendak tertib.

Melihat itu, mereka yang berharap, yang datang dengan puluhan bus melalui jarak beratus-ratus kilometer, bahwa di antara kita akan selalu seia sekata, akan selalu ada “tujuan bersama”, pasti kecewa. Sebab yang terbentuk hanya gerombolan massa yang gembruyug, bukan kolektivitas.

Benar memang, mereka ada untuk tujuan yang “sama”, tapi mereka tak pernah punya tujuan “bersama”. Bahkan tiap gerombolan massa “”yang direkrut terbuka dari berbagai kelompok””dalam demonstrasi itu, merupakan saingan bagi geromobolan yang lain. Tiap gerombolan diam-diam mengharap agar gerombolan lain dalam demonstrasi itu tak pernah ada. Massa itu pada dasarnya hanyalah wajah majemuk perseorangan, a plurality of solitude.

Dalam situasi seperti itu, ketidakpercayaan bisa tumbuh di mana-mana. Tata komunikasi sosial akan direduksi menjadi tindakan strategis. Demonstrasi tidak lagi sebagai instrumen untuk mencari solusi sebuah soal, tapi bisa berbelok arah menjadi tindakan politis.

Di sini, lewat demagogi licik para agitator, kesadaran obyektif sebuah perjuangan dapat dengan mudah disesatkan. Di sini pula, kita akan kecut hati dan tak bisa lagi percaya penuh pada massa. [*]