Pojok Santri

Khofifah Yes, Gus Ipul No!

Minggu, 21 Januari 2018 22:44 wib

...

Hujan rintik-rintik menebarkan ketenangan. Tidak seperti hujan deras yang hanya membawa kenangan menyedihkan. Bahkan, hujan deras terkadang juga hanya mencipta kenangan menyakitkan, tatkala ia membawa sauda-saudara kita menuju kematian. Seperti banjir yang sering melanda beberapa kawasan di Indonesia.

Ketenangan hujan rintik-rintik itulah yang membuatku secara tidak sengaja terlelap hingga tengah malam. Padahal, aku harus pulang ke Surabaya setelah bertandang ke Jember selama beberapa hari di ujung Desember. Tentu angkot-angkot sudah dikandangkan setelah seharian digembalakan para sopirnya di jalanan penuh aspal hitam.

Namun Alhamdulillah, aku tetap bisa pulang setelah saudara teman yang ikut rela mengantarkan ke terminal.
Namanya, sebut saja Bapak Dullah. Orang Jember, yang menurut penuturannya adalah keturunan asli orang Madura. “Nenek moyangku orang Madura. Terkadang, aku bersama keluarga masih sering bertandang ke sana,” kata Pak Dulla dalam bahasa Madura yang fasih.

Di perjalanan, ia banyak bercerita. Aku menjadi pendengar setia. Sesekali menyela untuk bertanya atau mengiyakan pembicaraannya. Ia bercerita tentang Ahok, Risma, Gus Ipul dan Khofifah Indar Parawansa.

“Ahok itu orang baik. Tidak heran banyak musuhnya. Salah sekali saja, langsung orang-orang jahat melakukan apa saja demi menjatuhkan namanya. Kalau cuma salah sekali, seharusnya maaf diberikan kepadanya,” katanya dan saya cuma mengangguk mengiyakan.

“Nah, kalau Risma itu orangnya tegas. Kalau salah ya salah. Betul gak?”. “Betul, pak,” kata saya sambil membalas WA seorang kawan yang menanyakan keberadaan posisi saya.

“Kalau antara Gus Ipul dan Khofifah, Bapak pilih siapa?,” tanya saya ingin mengetahui pandangan masyarakat tentang dua sosok terkenal ini. “Saya Khofifah!” Jawabnya tegas, lugas dan meyakinkan.

“Khofifah itu peduli sama rakyat kecil kayak saya. Orangnya baik. Murah senyum.”

“Kalau Gus Ipul, Pak?” tanyaku. “Ndak kalau Gus Ipul,” jawabnya singkat. Dia ndak pernah nyapa masyarakat kecil. Katanya saja Wakil Gubernur, tapi ndak ngapa-ngapain,” katanya memberikan alasan.

“Jadi bapak pilih yang mana?” tanyaku sekali lagi. “Engkok Meleah Khofifah. Gus Ipul Enjek,” (Aku Pilih Khofifah. Bukan Gus Ipul) jawabnya. Aku hanya mengangguk-ngangguk.

“Sampai di sini saja, Pak,” pintaku ketika motor bututnya sudah mencapai pintu masuk terminal. “Gak apa-apa, sekalian ke dalam saja,” jawabnya.

Aku tentu senang, hitung-hitung ndak usah jalan kaki ke dalam terminal. Pak Dulla juga tidak menerima ongkos yang coba kuberikan. Ini yang membuatku pada satu sisi berucap Alhamdulillah, isi kantong belum berkurang. Namun di sisi lain tidak enak hati karena Pak Dulla mau mengantarkanku meski rintik-rintik hujan masih belum reda.

Dalam perjalanan pulang menuju Surabaya, Bus melaju kencang. Ia seperti lari terbirit-birit dikejar hantu yang menakutkan. Satu persatu kendaraan kecil maupun yang seukuran dengan dirinya. Aku berbaik sangka, si sopir sedang terburu-buru ingin segera berjumpa sang istri yang sudah sekian hari tidak ditemuinya.

Dengan laju bus seperti itu, aku tidak bisa tidur meskipun sudah minum tiga pil Anti Mogok. Padahal biasanya, aku mudah terlelap kalau minum itu. Tiba-tiba sampai di terminal. Tapi kali ini tidak.

Tiba-tiba saja aku teringat ucapan Pak Dulla tadi tentang Gus Ipul dan Khofifah. “Pak Dulla itu memiliki persepsi seperti itu dipengaruhi apa ya?” fikirku. Saat berfikir seperti itu, aku malah teringat tentang dua orang lelaki asal Probolinggo yang bermalam di makam Sunan Ampel ketika malam Jumat, malam di mana saya bersama seorang kawan rutin sowan ke makam Sunan Ampel.

Aku lupa siapa nama keduanya. Mereka hanya menyebut asalnya dari Probolinggo. Mereka berdua baru saja datang berziarah dari Sayyid Yusuf. Sebelum pulang ke kampung halamannya, mereka berdua bersama rombongan yang lain ziarah ke makam Sunan Ampel.

Ia bercerita bahwa di tempat tinggalnya, Hasan Aminuddin adalah sosok yang merakyat. Sulit menemukan sosok sepertinya. Karena itulah, sulit bagi siapapun untuk menyainginya dalam merebut hati masyarakat. “Berat kalau yang lain. Insya Allah Tantri (istri Hasan Aminuddin) masih akan memimpin Probolinggo,” katanya.

Aku mencoba bertanya tentang sosok Gus Ipul dan Khofifah. Waktu itu, Gus Ipul sudah pasti maju meskipun belum resmi diusung dari partai apa. Sementara Khofifah belum jelas maju apa tidak karena sibuk mengurusi tugasnya di Kemterian Sosial.

“Orang itu tahunya Gus Ipul Wakil Gubernur dua kali. Tapi jarang turun ke Masyarakat. Sedangkan Khofifah adalah Menteri Sosial yang sering menemui rakyat. Tidak hanya rakyat di Jatim, tapi juga seluruh Indonesia,” katanya memberi pandangan.

“Lalu pilih yang mana kira-kira kalau keduanya maju?” tanyaku. Kalau aku sih, Khofifah Yes. Gus Ipul No,” sambung pemuda di sebelahnya yang membuatku teringat salah satu ajang pencarian bakat di RCTI, Indonesian Idol.

Sementara itu, bagi aku sendiri, saat ini adalah waktu yang tepat untuk melihat dan menilai siapa yang pantas dipilih di TPS ketika pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur dilaksanakan pada pertengahan tahun ini.

Sebagai masyarakat kelas menengah ke bawah, aku berharap Gubernur dan Wakil Gubernur terpilih Jawa Timur tidak hanya mengejar statistik ekonomi semata. Lebih jauh memiliki gagasan-gagasan produktif untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat berbasis lingkungan.

Masyarakat petani ditingkatkan kesejahteraannya melalui proteksi di bidang pertanian. Begitupun masyarakat nelayan dapat sejahtera melalui tangkapan-tangkapan ikan yang diperolehnya di lautan lepas sana.

Ini penting agar pemerintah, Jatim khususnya dan Indonesia umumnya benar-benar merasa bahwa mereka memiliki pemimpin. Bukankah keberadaan pemimpin memang untuk mensejahterakan rakyatnya? Wallahu A’lam.