Pojok Santri

Takjil dan Ka’bil

Jum'at, 09 Juni 2017 03:46 wib

...

Di sebuah kamar yang sempit, beberapa orang mengadakan rapat mendadak. Ada persoalan genting yang perlu diselesaikan; Ramadhan. Pasalnya, pada bulan ini masjid-masjid menyediakan menu berbuka puasa.

Nah mereka tidak ingin makanan dan minuman itu terbuang pecuma. Maka, berdasarkan rapat yang alot itu, dibentuklah Gerakan Pemuda Revolusioner Pemburu Takji (GPRPT).

Di bawah bendera GPRPT, para deklarator merekrut anggota dari berbagai jenis manusia. Dari yang berpuasa di malam hari, hingga yang tidak berpuasa siang dan malam. Para anggota kemudian didistribusikan ke berbagai masjid di seluruh Nusantara.

Namun, bukan berarti rekruitmen dilakukan secara serampangan. Ada indikator ketat yang harus dipenuhi oleh calon anggota yang akan diterima. Juga tidak menerima sogokan, seberapapun besarnya. Sebab, deklarator memiliki keyakinan kuat, ada Tuhan yang selalu mengawasi dan KPK yang turut memantau.

Ketika seorang calon anggota sudah memenuhi kriteria, maka pasti akan direkrut dan dijadikan anggota. Para deklarator sepertinya tidak akan goyah meskipun disurati oleh beberapa kiai, habib atau apapun namanya untuk menggugurkan calon anggota itu dan menggantinya dengan yang lain. “Keputusan tidak bisa diintervenis siapapun,” begitulah kira-kira komitmen kuat dan teguh dari mereka.

Maka, lahirlah para pemburu-pemburu Takjil handal dengan komitemen kuat tidak akan membiarkan makanan dan minuman berbuka yang disediakan terbuang. Namun, pemburu Takjil dilarang keras untuk mengambil lebih dari satu jatah. Jika sampai ketahuan, hukuman akan datang. Bisa juga pemecatan.

Selepas melaksanakan agenda pemburuan Takjil, deklarator dan para anggota biasa berkumpul. Tidak hanya basa-basi. Mereka terlibat obrolan serius untuk melakukan evaluasi strategi dalam memburu Takjil.

Di tengah-tengah perbincangan hangat menuju panas itu, tiba-tiba salah seorang petinggi GPRPT mendapatkan panggilan telepon. Dia mengangkatnya. Dalam salah satu percakapannya itu, ada kalimat yang membuat penasaran; “Takjil, bukan Ka’bil!” katanya.

Saya yang tidak tahu siapa itu Ka’bil, cepat-cepat mengambil gawai. Memencetnya dan menuliskan “˜Ka’bil’ di Google. Muncullah banyak Ka’bil di Google. Dari situ, saya tahu, Ka’bil adalah politisi PKB yang saat ini menjadi anggota DPRD Jatim.

Saya juga tahu, tentu dari Google yang memang banyak tahu, bahwa Ka’bil Mubarok sudah menghilang selama dua hari. Menurut laporan tribunnews.com yang bersumber dari Sekretaris DPW Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Jawa Timur, Badrut Tamam, Ka’bil menghilang berbarengan dengan penyegelan ruang Ketua Komisi B DPRD Jatim, M Basuki.

“Ya sejak ruang dewan disegel lalu, saya sudah tak bisa kontak dengan Ka’bil,” kata Badrut kepada Surya, Rabu, 7 Juni 2017.

Google juga menunjukkan satu berita dari duta.co. Isinya, rumah Ka’bil sudah dua kali didatangi KPK. Kali pertama petugas KPK datang pada Selasa (6/6) sekitar pukul 03 dini hari. Kunjungan kedua, terjadi pada hari Rabu (07/06/2017) sekitar pukul 09.00 WIB, sebanyak 6 petugas KPK diantaranya seorang perempuan dan petugas polisi, kembali mendatangi rumah Ka’bil Mubarok di kompleks Perum Pondok Jati, Blok JS No.41, Sidoarjo.

Setelah membaca berita-berita itu, saya sedikit tahu siapa itu Ka’bil. Ada sedikit tanya; Setelah PKB bikin ramai karena rekomendasi pada gelaran Pilgub Jatim akhirnya diberikan kepada Saifullah Yusuf yang sebelumnya diberikan kepada Halim Iskandar, kini politisi PKB lainnya, Ka’bil juga bikin ramai karena menghilang.

Tapi saya tidak mau membahasnya terlalu jauh dalam forum itu. Sebab, tugas kami adalah memburu Takjil, bukan Ka’bil. (*)

Ubaidillah Dz, Redaktur Pelaksana SantriNews.com.