Pojok Santri

Kopi Gus Ipul dan Kuntul Pak Halim

Kamis, 25 Mei 2017 15:50 wib

...
Saifullah Yusuf alias Gus Ipul, Halim Iskandar, dan Khofifah Indar Parawansa (santrinews.com/ist)

Siang itu, saya dan beberapa teman melaksakan ibadah ngopi di pinggir kali. Di sela-sela itu, kami berbincang sambil menertawakan hidup yang rasanya tambah lucu, sambil sesekali memencet gawai masing-masing. Tiba-tiba, salah seorang teman dengan mimik serius nyeletuk; “Cak Imin Lebih Memilih Kopi Gus Ipul daripada Kuntul Pak Halim”

Usut punya usut, ternyata teman itu membaca link berita tentang pernyataan ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Muhaimin Iskandar yang biasa dipanggil Cak Imin lebih memilih mencalonkan Saifulla Yusuf alias Gus Ipul daripada Abdul Halim Iskandar dalam pemilihan Gubernur Jatim tahun 2018 nanti.

Padahal, setahu saya, PKB dalam berbagai kesempatan dengan keyakinan yang seolah-olah sudah final, sefinal NKRI Harga Mati, selalu menyebut nama Pak Halim sebagai calon yang akan diusung dalam Pilgub Jatim 2018 nanti.

Tentu kami tertawa lepas mendengar celetukan teman yang memiliki rambut kokoh tak tertandingi dari segala jenis angin itu. Bukan karena senang Gus Ipul memenangkan perebutan pengaruh di tubuh PKB. Tidak. Alasannya sederhana, bagi kita celetukan itu memang cukup mengundang tawa. Maka kami tertawa.

Gus Ipul selama ini memang mengusung jargon Ngopi Bareng. Bahkan lengkap dengan produk kopi bergambar Gus Ipul dengan senyum berjuta makna. Meskipun jujur, kopinya tidak sesuai selera. Saya lebih suka kopi hitam biasa yang diproses secara tradisional. Kopi sashet itu, bungkusnya bagus, soal isi masih perlu diuji.

Sementara itu, Pak Halim yang juga kakak Kandung Cak Imin, memasang jargon “Holopis Kuntul Baris” di berbagai baliho yang tumpah ruah di beberapa ruas jalan di Provinsi Jawa Timur.

Arti dari jargon itu adalah saiyeg saeka praya, bebarengan mrantasi gawe, maksudnya kurang lebih bekerja dengan gotong royong. Kuntul sendiri merupakan nama burung yang hidupnya berkoloni dan terbang bersama-sama dengan formasi yang indah.

Menurut teman lainnya, sebut namanya Radio, jatuhnya pilihan Cak Imin pada Gus Ipul tidak bisa dilepaskan dari intervensi melalui surat yang ditandatangani 21 Kiai sepuh NU kepada DPW PKB Jawa Timur beberapa waktu lalu. Isinya mengenai permohonan para kiai agar dilibatkan dalam penentuan calon Pilgub Jatim.

Statemen itu cukup masuk akal. Setidaknya berdasarkan tulisan Chairul Anam atau biasa dipanggil Cak Anam berjudul Kiai Sepuh Vs Kiai Kampung, bahwa Gus Ipul sebagai pengurus PBNU lebih memiliki akses dan kesempatan untuk menggerakkan para kiai sesuai dengan kepentingannya.

Teman saya, sebut namanya Mas Toyyib karena jarang pulang ke kontrakan ikut nimbrung. Padahal sebelum-sebelumnya, dia senyum-senyum sendiri dengan gawainya. Dia sepakat dengan pernyataan si Radio.

Dia juga menambahkan, PKB sebaiknya tidak menjadi partai Politik dan menjadi badan otonom NU yang menjalankan semua instruksi para kiai.

Tawa kembali tumpah. Orang-orang di sekitar kami yang juga ngopi bersama dengan teman-teman dan mungkin juga pasangannya, meskipun lebih banyak berinteraksi dengan benda bernama Handphone daripada makhluk di depannya.

Saya merasa risih dengan pandangan orang-orang itu. Tapi saya acuhkan dengan ikut terlibat dalam perbincangan yang cukup mengasyikkan bersama teman-teman.

Bagi saya, entah Gus Ipul atau Pak Halim yang diusung PKB, bukan soal. Persoalan paling penting yang harus diselasaikan adalah bagaimana NU menjalankan peran khittahnya, serta bagaimana kiai mengurus umatnya, bukan parpol yang mengusung calonnya.

Meminjam istilah Cak Anam, para kiai sepuh biasanya menggunakan mata batin dalam melihat persoalan yang dihadapi umatnya dan tidak masuk dalam dinamika politik praktis keparpolan. Biarlah parpol diurus politisi, dan santri diurus kiai.

Jikapun para kiai NU menganggap Gus Ipul dan Pak Halim sebagai santri atau warga NU, bukankah alangkah lebih baik, jika Kiai memanggil santrinya itu dan memberikan wejangan-wejangan tanpa harus mengumbar shahwat politik melalui surat?

Jikapun para kiai NU menganggap Nahdliyyin adalah santrinya, bukankah masih banyak santri lain yang tersebar di beberapa parpol di Jawa Timur, seperti di PPP, Nasdem, Demokrat, dan sebagainya?

Persoalan yang lebih genting dari pada itu semua dan perlu segera diatasi, kataku dengan mimik muka serius melebihi Pak SBY, adalah habisnya kopi juga rokok kita. Tapi itu masalah gampang, tinggal ajak Gus Ipul Ngopi Bareng. Masalah selesai. Semua senang.

Tapi Gus Ipul tidak menyediakan rokok, cuma Ngopi Bareng, kata Toyyib. Karena itulah, jawabku, Gus Ipul perlu diberi pencerahan, bahwa Ngopi Bareng yang kaffah juga harus ada rokoknya. Ngopi Bareng tanpa rokok, seperti orang yang baru masuk Islam. Muallaf. Belum Kaffah. Semua tertawa.

Namun, bagi Gus Ipul tentu jangan terlalu tersenyum lebar seperti kami. Dan Pak Halim tidak usah terlalu sedih. Sebab, politik itu bukan harga mati seperti NKRI. Semua bisa berubah dan diubah. Toh, Pak Halim yang digadang-gadang dari awal, saat ini malah belum jelas.

Nasib yang sama juga bisa berlaku untuk Gus Ipul. Nasib manusia ditentukan Tuhan, Nasib calon dari PKB ditentukan Cak Imin. Wallahu A’lam. (*)