Politik

Sosialisasi 4 Pilar Kebangsaan, Gus Aam: Indonesia Warisan Waliyullah, Wajib Kita Jaga

Sabtu, 23 April 2022 05:30 wib

...
Moh Haerul Amri (santrinews.com/istimewa)

Pasuruan – Anggota MPR RI Fraksi NasDem Moh Haerul Amri menegaskan, Indonesia berdiri menjadi sebuah negara merdeka merupakan hasil dari perjuangan para waliyullah.

Karena itu, ia mengajak masyarakat untuk menghormati jasa perjuangan mereka dengan menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Hal itu disampaikan Haerul Amri saat sosialisasi 4 pilar kebangsaan di Pondok Pesantren Ar-Riyadh Kabupaten Pasuruan, Jumat, 22 April 2022.

“Kita semua adalah warga negara yang sangat mencintai bangsa ini, khususnya warga Nahdliyyin yang memiliki keharusan dalam menjaga NKRI,” tegasnya.

“Sebagai pecinta tanah air mari kita semua secara sungguh-sungguh dalam menghormati jasa para pejuang khususnya waliyullah,” sambungnya.

Baca juga: Politisi NasDem Haerul Amri Salurkan Ribuan Beasiswa

Warga NU, menurut Gus Aam –sapaan akrabnya memiliki kewajiban menjaga keutuhan NKRI. Sebab, Indonesia merdeka merupakan warisan perjuangan para ulama khususnya Nahdlatul Ulama (NU).

“Bagi saya, yang memiliki saham terbesar dalam upaya kemerdekaan Indonesia adalah para ulama khususnya NU dan itu sudah menjadi catatan dalam lipatan sejarah kemerdekaan Indonesia,” ujarnya.

Ketua DPP NasDem bidang Pemuda dan Olah Raga ini berharap agar masyarakat ikut andil dalam menjaga keutuhan Indonesia dalam kondisi apapun dengan menjunjung tinggi 4 pilar kebangsaan (Pancasila, Bhineka tunggal Ika, UUD 45, NKRI).

“Dalam upaya menjaga kedaulatan Indonesia salah satunya dengan menginternalisasikan nilai-nilai 4 pilar kebangsaan ini sebagai bentuk kita cinta tanah air Indonesia,” tandas politisi yang duduk di Komisi X DPR RI ini.

Baca juga: NKRI Terancam Paham Impor Wahabi, Ansor Siaga

Ia juga menyampaikan pentingnya melestarikan apa yang telah diperjuangkan oleh pendiri Indonesia tanpa mengganti dasar negara.

Dalam sejarah, perumusan dasar negara Indonesia didominasi oleh tokoh-tokoh dari Islam. Namun, demi keutuhan negara, mereka mengikhlaskan Pancasila yang awalnya berbunyi “…kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya,” untuk dihapus.

“Ini satu bentuk kerelaan yang luar biasa dapat menerima perbedaan dengan diganti menjadi Ketuhanan Yang Maha Esa,” ujarnya. (red)