Politik

Diminta Kiai, Mahfud MD Siap Jadi Presiden

Kamis, 13 Juni 2013 20:05 wib

...
Mahfud MD (dua dari kanan) bersama para kiai di Pondok Pesantren An-Nuqayah, Guluk-guluk, Sumenep (dok/santrinews.com)

Sumenep – Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi H Moh Mahfud MD, secara tegas menyatakan kesiapannya menjadi calon presiden pada 2014 mendatang. Kesiapan itu, atas permintaan sejumlah kalangan, terutama para kiai pengasuh pondok pesantren. Bukan inisiatif pribadi.

Hal itu disampaikan pria kelahiran Sampang itu usai mengisi “Dialog Kebangsaan” bertema “Supremasi Hukum dan Masa Depan Indonesia” di Pondok Pesantren An-Nuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep, Kamis, 13 Juni 2013.

“Bahkan istilahnya tidak hanya diminta, tetapi ditugaskan untuk siap jadi capres,” katanya.

Sebagai seorang alumni pesantren, Mahfud tentu tidak bisa menolak perintah para kiai. Tercatat, Mahfud kecil pernah mengenyam pendidikan di Pondok Pesantren Al Mardliyah, Waru, Pamekasan.

Belakangan, suami Zaizatun Nihayati itu sering bersilaturahmi ke berbagai daerah di Indonesia, utamanya pesantren. Itu juga atas saran dan permintaan beberapa tokoh. Misalnya, Mantan Ketua Umum PBNU KH A Hasyim Muzadi dan Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng KH Salahuddin Wahid. Mereka meminta Mahfud untuk memperkenalkan diri sebagai calon presiden.

Bukan baru-baru ini saja. Silaturrahmi kepada para kiai, sebenarnya sudah biasa dijalani Mahfud sejak kecil. Diakui Mahfud, kedatangan dirinya ke Pondok Pesantren An-Nuqayah juga atas amanah para kiai.

“Beliau-beliau meminta saya untuk keliling-keliling ke seluruh Indonesia, terutama di mulai dari pesantren-pesantren untuk memberitahu kepada semua bahwa saya siap dan bulat menjadi capres, termasuk kedatangan saya ke Annuqayah ini,” akunya.

Dirinya diminta berkeliling untuk memberitahu dan memohon doa restu kepada semua pesantren yang ada di Jawa Timur, termasuk pesantren-pesantren yang ada di Madura. “Jadi, ke Madura bukanlah yang pertama, tetapi ini merupakan agenda keliling saya dari ujung timur hingga ujung barat,” jelasnya.

Setahun yang lalu, ia mengaku sudah bertemu KH Ahmad Basyir As bersama para kiai lain di Pesantren Tebuireng, Jombang. Saat itu, mereka meminta dirinya untuk maju sebagai calon presiden.

“Para kiai meminta saya dengan nada demonstratif. Para santri sepertinya akan demo kalau saya tidak jadi capres. Maka para kiai saat itu bilang bahwa Pak Mahfud harus siap maju jadi calon presiden, sehingga saya harus memenuhi permintaan para kiai,” terangnya.

Ketika disingung kendaraan politik yang akan mengantarkannya jadi calon presiden, Mahfud enggan menyebutkan. Menurutnya, banyak alternative yang bisa dilakukan, bisa melalui konvensi, dan lain-lain. “Nanti ajalah soal itu,” elaknya.

Selama ini, lanjut mantan Menteri Pertahanan ini mengaku, sudah ada beberapa tokoh dan partai yang mengajak menjadi salah satu ikon partai tertentu untuk dimunculkan sebagai capres, dan ada juga mengajak menjadi cawapres.

Terkait dengan dukungan dari NU sendiri, Mahfud mengatakan, NU secara institusi tetap netral sekalipun dirinya warga NU. “Jika NU sebagai institusi kan tidak boleh mendukung siapa-siapa, dan NU juga secara jam’iyah hingga sekarang juga tidak mendukung siapa-siapa,” Mahfud menegaskan.

Setelah memperkenalkan diri, memohon doa restu dan berusaha, persoalan terpilih jadi presiden, ia menyerahkan sepenuhnya kepada rakyat. Sekalipun lahir di Pulau Madura, ia tidak mematok perolehan suara. “Saya terserah rakyat Madura saja, karena masyarakat Madura sudah tahu mana yang harus dipilih,” tandanya.

Kendati demikian, ia menyarankan agar masyarakat harus memilih pemimpin dinilainya baik. “Kalau saya dianggap baik dan sebagai simbol masyarakat Madura, maka saya siap membangun kebaikan demi Madura,” sambugnya.

Pengasuh Pondok Pesantren An-Nuqayah KH Ahmad Basyir AS, secara terang-terangan juga menyampaikan dukungannya. “Saya mendukung Pak Mahfud maju sebagai calon presiden,” katanya, dalam sambutannya. (ari/ahay).